Batalkan Impor 23 KRL Bekas dari Jepang, KAI Lebih Memilih Kereta Baru Buatan INKA

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - PT Kereta Api Indonesia (KAI) batal impor 23 kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan armada Commuter Line Jabodetabek akhirnya batal. Pasalnya, KAI lebih memilih kereta baru buatan PT Industri Kereta Api (INKA).

Sebelumnya, mencuat usulan soal impor kereta bekas sebagai solusi cepat mengatasi kekurangan armada dan mendapat persetujuan Komisi VI DPR RI. Namun, KAI kini mengubah arah pengadaan dengan mengutamakan pembelian kereta baru.

Baca Juga :
Anggaran Rp 2 Triliun Disiapkan Bangun Jalur Kereta di Bali, Waktu Pengerjaan 2 Tahun
Pemerintah dan DPR Sepakat soal Perubahan Nama RUU Perampasan Aset, Ternyata Ini Alasannya

Keputusan tersebut sekaligus membuka peluang lebih besar bagi industri perkeretaapian nasional, khususnya PT Industri Kereta Api (INKA), untuk mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan transportasi publik yang terus meningkat.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan, perusahaan tidak akan melanjutkan rencana impor rangkaian kereta bekas tersebut.

Ke depan, kata dia, seluruh kebutuhan armada akan diarahkan pada pengadaan kereta baru, baik melalui produksi dalam negeri maupun kerja sama dengan perusahaan luar negeri.

"Kita enggak impor bekas. Pokoknya buat rakyat, harus yang baru," kata Bobby seusai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

"Kita enggak impor bekas. Pokoknya buat rakyat, harus yang baru," kata Bobby.

Menurut Bobby, salah satu langkah yang akan ditempuh adalah melibatkan PT INKA dalam pemenuhan kebutuhan rangkaian kereta baru. Keterlibatan industri nasional dinilai penting agar kebutuhan transportasi publik tidak selalu bergantung pada produk luar negeri.

"Salah satunya nanti sebagian ke INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri," ujarnya.

Meski demikian, KAI tidak menutup kemungkinan melakukan pengadaan dari luar negeri. Namun, pengadaan tersebut harus dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan dalam negeri.

"Luar negeri harus kerja sama sama dalam negeri," kata Bobby.

Bobby mengungkapkan, KAI membutuhkan sedikitnya 23 trainset baru untuk memenuhi kebutuhan operasional. Dari jumlah tersebut, sebanyak delapan trainset menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.

Perusahaan menargetkan percepatan pengadaan dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun.

"Kita akan percepat 2-3 tahun. 23 train set baru," beber Bobby.

Baca Juga :
DPR Langsung 'Gas' Bahas RUU Penyadapan usai RUU Perampasan Aset Rampung
Penumpang Adu Jotos di Stasiun Duri Jakbar, KAI Buka Suara
Usulan Ekonom soal RUU Perampasan Aset, Singung Pemilu hingga Lembaga Baru

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Legislator DKI Sebut Isu Dasco Mau Jadi Wapres Hoax: Kawal Kasus Penyadapan
• 9 jam lalu
0
thumb
OJK sidik empat entitas diduga pialang asuransi tanpa izin
• 47 menit lalu
0
thumb
Kronologi Bayi Dibunuh Ayah Tiri di Toilet Pasar, Dokter Forensik Ungkap Ada Luka Patah Tulang hingga Kekurangan Gizi
• 15 jam lalu
0
thumb
Hakim Batasi Waktu Pemeriksaan Jokowi, Kubu Dokter Tifa Ajukan Protes
• 2 jam lalu
0
thumb
Pemprov Sumut Gandeng USU Rumuskan Solusi Pembangunan di Tengah Penurunan Anggaran 2027
• 52 menit lalu
0
Berhasil disimpan.