Menteri Perindustrian (Menperin), Sarmuji, mendorong hilirisasi sagu untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut melalui pengembangan industri pengolahan. Pemerintah menilai sagu berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru industri domestik karena dapat menghasilkan beragam produk turunan pangan maupun non pangan.
Sarmuji menyebutkan, industri pengolahan dapat memanfaatkan empulur sagu untuk menghasilkan pati sebagai bahan baku berbagai produk pangan. Produk tersebut mencakup mi, beras analog, pasta, dan biskuit. Industri juga dapat mengolah sagu menjadi produk nonpangan seperti biopackaging dan bioetanol.
“Sementara limbah padat dan cair dari proses pengolahannya dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi pakan ternak dan biogas,” saat menyampaikan sambutan acara Sago Business Forum di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, pada Kamis (5/11).
Pemerintah juga telah menetapkan sagu sebagai salah satu komoditas prioritas hilirisasi sumber daya alam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Kebijakan tersebut menjadi landasan untuk memperkuat industri pengolahan sagu, meningkatkan nilai tambah, serta mengembangkan produk hilir yang mampu bersaing di pasar domestik dan internasional.
Sarmuji mengatakan Indonesia punya potensi sumber daya sagu terbesar di dunia dengan sebaran lahan sagu terluas. Potensi tersebut dapat menjadi modal strategis untuk mengembangkan industri pengolahan sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya lokal dalam mendukung ketahanan pangan nasional ke depannya.
Dari sisi pasar internasional, peluang pengembangan industri sagu juga terlihat dari peningkatan pangsa pasar pati sagu di Jepang. Dalam paparannya, Sarmuji menjelaskan pangsa pasar pati sagu Indonesia di Jepang meningkat dari 2% pada 2021 menjadi 14% pada 2025.
Nilai impor pati sagu Jepang mencapai US$10,5 juta pada 2025. Angka tersebut meningkat 35% dibandingkan dengan nilai impor pada 2021. “Meskipun sebagian besar impor pati sagu Jepang masih berasal dari Malaysia, posisi Indonesia di pasar Jepang terus menguat,” ujarnya.
Pemerintah berupaya memperkuat posisi Indonesia di pasar Jepang melalui peningkatan hilirisasi, investasi, dan perluasan akses ekspor. Sarmuji juga mendorong pelaku industri dan investor Jepang untuk menjajaki peluang kerja sama dengan industri pengolahan sagu nasional.
Kerja sama tersebut mencakup penjajakan investasi di berbagai daerah penghasil sagu, pengembangan teknologi, serta perluasan pasar produk olahan sagu. “Saya mengundang para pelaku industri dan investor Jepang untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama dan menjadi bagian dari pengembangan industri sagu Indonesia,” kata Sarmuji.





Komentar (0)