Orang Indonesia makin hobi belanja online. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai transaksi barang dan jasa secara online atau e-commerce tumbuh 22,02 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026. Pada periode yang sama, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan turut menopang pertumbuhan ekonomi dari sisi domestik.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan aktivitas konsumsi masyarakat masih berjalan pada kuartal III 2026. Hal itu terlihat dari sejumlah indikator, mulai dari transaksi perdagangan elektronik, pembelian kendaraan, hingga transaksi uang elektronik.
“Dari sisi domestik, kinerja perekonomian pada kuartalan III 2026 ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih berjalan. Hal tersebut diindikasikan antara lain oleh pertumbuhan nilai transaksi barang dan jasa secara online sebesar 22,02 persen secara year-on-year berdasarkan penyampaian data perdagangan melalui sistem elektronik atau PMSE,” kata Edy dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2026 di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (5/11).
Selain transaksi e-commerce, impor barang konsumsi juga tumbuh 12,77 persen secara tahunan. Volume penjualan sepeda motor dan mobil penumpang masing-masing meningkat 8,92 persen dan 25,95 persen secara tahunan.
Aktivitas transaksi masyarakat juga tercermin dari nilai transaksi uang elektronik yang tumbuh 29,23 persen secara tahunan. Mobilitas masyarakat turut meningkat, terlihat dari aktivitas perjalanan wisatawan nusantara yang tumbuh 7,06 persen serta kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk utama sebesar 3,89 persen.
”Peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi di antaranya angkutan sungai, danau, dan penyeberangan angkutan rail dan angkutan laut yang masing-masing tumbuh 10,32 persen, 5,88 persen dan 6,67 persen secara year-on-year,” imbuhnya.
Indeks Kepercayaan Industri NaikDari sisi produksi, aktivitas industri masih berada di zona ekspansi. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat sebesar 53,10 pada Juli 2026, kemudian 52,30 pada Agustus 2026, dan 51,93 pada September 2026. Sementara itu, PMI Bank Indonesia berada di zona ekspansi dengan nilai 52,28.
Impor bahan baku industri kategori primer dan olahan masing-masing tumbuh 69,28 persen dan 20,55 persen secara tahunan. Penjualan listrik juga meningkat 9,21 persen, terutama didorong oleh konsumsi listrik rumah tangga, bisnis, dan industri.
Sementara itu, dari sisi investasi, impor barang modal yang menjadi bagian dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 12,22 persen secara tahunan. Realisasi investasi dalam negeri dan asing atau PMDN dan PMA juga tumbuh 7,59 persen, didukung pertumbuhan investasi PMA sebesar 27,45 persen.
Belanja modal pemerintah untuk konstruksi dari APBN turut meningkat 63,65 persen secara tahunan. Secara keseluruhan, belanja modal pemerintah dalam APBN tumbuh 20,15 persen.
“Belanja modal pemerintah dari APBN untuk konstruksi tumbuh sebesar 63,65 persen secara year-on-year. Realisasi investasi tetap tumbuh terlihat dari nilai impor barang-barang modal yang menjadi PMTB tumbuh dengan besaran 12,22 persen secara year on year,” terangnya.






Komentar (0)