Jakarta: Ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur keuangan, termasuk ketika mempertimbangkan untuk memiliki asuransi jiwa. Selain memperhatikan kemampuan membayar premi, calon nasabah perlu memahami kebutuhan perlindungan dan manfaat yang ingin diperoleh dari produk tersebut.
Perubahan nilai tukar juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan keuangan. Hal ini terutama bagi keluarga yang memiliki kebutuhan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan anak di luar negeri. Pelemahan rupiah dapat membuat kebutuhan tersebut semakin mahal ketika dikonversikan ke dalam mata uang domestik.
Certified Financial Planner (CFP) Wealth Management Institute (WMI) Rista Zwestika mengatakan, dalam kurun 10 tahun terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami depresiasi rata-rata sekitar 3,4 persen. Bahkan, jika diukur dalam periode yang lebih singkat, angkanya dapat mendekati lima persen.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar, berarti dalam setiap tahun nilai purchasing power dalam rupiah mengalami penurunan sebesar 3,4 persen terhadap dolar," kata Rista kata Rista dalam konferensi pers Prudential Indonesia, Rabu, 4 November 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan ketika masyarakat menyusun rencana keuangan jangka menengah dan panjang. Namun, bukan berarti seluruh aset harus dialihkan ke dolar AS. Penempatan dana tetap perlu disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing.
“Yang pertama adalah tujuan dulu. Goal kita itu mau ngapain? Tujuan kita berinvestasi itu mau ngapain? Tujuan kita punya dolar itu untuk apa?” ujar dia.
Rista menekankan pentingnya menentukan tujuan keuangan sebelum memilih produk atau instrumen yang akan digunakan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membeli dolar AS hanya karena melihat nilai tukarnya sedang meningkat.
“Produk itu di belakang, tujuan kita di depan. Jadi tujuannya yang ditentukan, baru kita tentuin produknya,” kata dia.
Dalam menyusun perencanaan keuangan, Rista memperkenalkan pendekatan 3L, yakni melindungi, melokasikan, dan melanjutkan aset. Pendekatan tersebut dapat menjadi panduan untuk mempertimbangkan kebutuhan perlindungan sekaligus menjaga keberlanjutan kondisi keuangan keluarga.
Baca Juga :
Zurich Indonesia Sebut Tidak Terpengaruh Guncangan MSCI(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com) Tips memilih asuransi jiwa Berikut sejumlah hal yang dapat diperhatikan sebelum memilih asuransi jiwa di tengah ketidakpastian ekonomi. 1. Dahulukan kebutuhan perlindungan Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah memastikan kondisi keuangan keluarga terlindungi dari berbagai risiko. Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan perubahan ekonomi dan inflasi, tetapi juga mencakup masalah kesehatan hingga hilangnya sumber penghasilan.
Asuransi jiwa dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan finansial, terutama bagi keluarga yang masih bergantung pada penghasilan pencari nafkah utama. Dengan perlindungan tersebut, keluarga diharapkan memiliki dukungan finansial apabila tertanggung meninggal dunia selama masa pertanggungan, sesuai manfaat dan ketentuan polis.
“Dalam kita membuat diversifikasi aset buat keluarga kita, masih ada yang namanya risiko,” ujar Rista.
Karena itu, masyarakat perlu mengidentifikasi risiko yang paling mungkin memengaruhi kondisi keuangan keluarga sebelum menentukan jenis dan besaran perlindungan yang dibutuhkan. 2. Sesuaikan produk dengan tujuan dan kemampuan finansial Sebelum memilih produk asuransi, masyarakat perlu menentukan kebutuhan yang ingin dipenuhi. Tujuan tersebut dapat berupa memberikan perlindungan bagi keluarga, menyiapkan dana pendidikan anak, atau merencanakan kebutuhan keuangan jangka panjang.
Selain manfaat yang ditawarkan, calon nasabah juga perlu memahami besaran premi, masa pembayaran, masa pertanggungan, serta ketentuan pencairan manfaat. Hal ini penting agar produk yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.
Rista mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren atau memilih produk berdasarkan potensi manfaat yang terlihat menarik. Keputusan perlu didasarkan pada tujuan keuangan yang telah disusun sebelumnya.
Dengan demikian, asuransi jiwa tidak dipilih semata-mata karena manfaat tambahannya, tetapi juga berdasarkan fungsi perlindungan yang dibutuhkan keluarga. 3. Diversifikasikan aset sesuai kebutuhan Di tengah perubahan nilai tukar, sebagian masyarakat mungkin mempertimbangkan untuk menyimpan dana dalam mata uang asing. Namun, Rista mengingatkan keputusan tersebut perlu mempertimbangkan tujuan penggunaan dana dan risiko perubahan kurs.
Sebagai contoh, keluarga yang memiliki rencana membiayai pendidikan anak di luar negeri dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikan sebagian dana dalam mata uang yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Dengan begitu, keluarga dapat mengantisipasi risiko perubahan nilai tukar ketika biaya pendidikan harus dibayarkan.
Meski demikian, bukan berarti seluruh aset perlu dialihkan ke dolar AS. Alokasi dana tetap perlu dibagi ke berbagai instrumen sesuai tujuan, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing.
Rista juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru hanya karena melihat suatu mata uang atau instrumen sedang mengalami kenaikan. Diversifikasi diperlukan untuk mengelola risiko, bukan sekadar mengikuti pergerakan pasar. 4. Evaluasi kondisi keuangan secara berkala Perencanaan keuangan tidak berhenti setelah masyarakat memilih produk atau menentukan alokasi aset. Kondisi keuangan dan kebutuhan keluarga dapat berubah seiring waktu sehingga strategi yang telah disusun perlu ditinjau kembali.
Rista menyarankan evaluasi dilakukan secara berkala, setidaknya setiap tahun. Peninjauan tersebut dapat mencakup perubahan pendapatan, pengeluaran, kebutuhan perlindungan, serta kesesuaian alokasi aset dengan tujuan keuangan.
Jika terdapat perubahan kebutuhan atau kondisi pasar, masyarakat dapat mempertimbangkan penyesuaian portofolio atau rebalancing. Dengan begitu, alokasi dana untuk perlindungan dan kebutuhan jangka panjang tetap relevan dengan kondisi keuangan terkini.
Selain pendekatan 3L, Rista juga memperkenalkan prinsip 3P dalam pengelolaan kekayaan, yakni pertumbuhan, perlindungan, dan pewarisan. Ketiganya mencakup upaya menjaga nilai aset, mengantisipasi risiko keuangan, serta memastikan kekayaan yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi keluarga pada masa mendatang. Asuransi jiwa berbasis dolar AS Sejalan dengan kebutuhan perencanaan keuangan dalam mata uang asing, Prudential Indonesia memperkenalkan PRUProsper, produk asuransi jiwa berbasis dolar AS yang ditujukan bagi nasabah segmen atas.
Berdasarkan keterangan perusahaan, produk ini memiliki masa pembayaran premi selama lima tahun dan masa pertanggungan selama 15 tahun. PRUProsper menawarkan manfaat tunai tahunan sebesar tujuh persen dari premi tahunan mulai akhir tahun polis ketiga hingga akhir masa pertanggungan.
Pada akhir tahun polis ke-15, nasabah juga berhak memperoleh manfaat akhir pertanggungan sebesar 565 persen dari premi tahunan, sesuai ketentuan polis.
President Director Prudential Indonesia Mukesh Dhawan mengatakan, produk tersebut dihadirkan untuk menjawab kebutuhan nasabah yang memiliki perencanaan keuangan dalam mata uang asing.
“Melalui PRUProsper, Prudential Indonesia menghadirkan solusi perlindungan jiwa berbasis USD yang dilengkapi manfaat tunai tahunan sejak tahun polis ketiga,” ujar Mukesh.
Perusahaan juga menyebut pengajuan PRUProsper dapat dilakukan tanpa pemeriksaan kesehatan, dengan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. (Selsha Septifanie Gunawan)





Komentar (0)