Sekelompok mantan pejabat militer senior Israel berkumpul di dekat Desa Qusra, Tepi Barat, pada Selasa (3/11/2026). Mereka membantu petani Palestina memanen zaitun di tengah meningkatnya kekerasan yang dilakukan kelompok pemukim Israel terhadap warga Palestina di wilayah tersebut. (REUTERS/Mohamad Torokman)
2/6Mantan Mayor Jenderal Eyal Ben-Reuven mengatakan, aksi tersebut digagas beberapa bulan lalu dengan melibatkan sekitar 30 mantan pejabat militer senior. Ia menyebut meningkatnya serangan pemukim, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, sebagai tindakan yang menyerupai pogrom atau serangan massa terhadap kelompok minoritas. (REUTERS/Mohamad Torokman)
Ben-Reuven mengatakan situasi tersebut mengingatkannya pada kisah penderitaan bangsa Yahudi yang diceritakan orang tuanya. Sementara itu, mantan Kolonel Doron Meinert menilai pendudukan menjadi persoalan utama masyarakat Israel yang harus diselesaikan bersama rakyat Palestina. (REUTERS/Mohamad Torokman)
4/6Pemilik lahan, Nimr Nazzal, mengatakan kehadiran para mantan pejabat militer tersebut memungkinkan petani mengakses kebun zaitunnya. Tanpa bantuan mereka, para petani kesulitan melakukan panen akibat serangan pemukim. Nazzal juga menuding militer Israel melindungi para pemukim dalam sejumlah insiden kekerasan. (REUTERS/Mohamad Torokman)
Kelompok hak asasi manusia Israel, Yesh Din, mencatat 180 serangan fisik terhadap pemanen zaitun Palestina selama 35 hari sejak musim panen dimulai. Dalam lebih dari 23% kasus kekerasan pemukim yang didokumentasikan, militer Israel dilaporkan berada di lokasi kejadian. (REUTERS/Mohamad Torokman)
6/6Meinert menilai sebagian anggota militer Israel membantu kelompok pemukim karena memiliki pandangan ideologi serupa. Tepi Barat dihuni sekitar 500.000 pemukim Israel dan sedikitnya 3 juta warga Palestina. Badan-badan PBB dan sebagian besar negara menganggap permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional, sedangkan Israel menganggap wilayah itu sebagai kawasan sengketa. (REUTERS/Mohamad Torokman)





Komentar (0)