Rumah Batik TBIG di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah terus berupaya memberdayakan masyarakat. Salah satunya melalui Program Pelatihan Membatik.
Kegiatan yang diselenggarakan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) ini telah mewisuda 33 peserta, terdiri dari 22 siswa reguler dan 11 remaja difabel. Mereka diwisuda setelah menyelesaikan Program Pelatihan Membatik.
Para lulusan juga berkesempatan melanjutkan pembelajaran ke tahap inkubasi kewirausahaan untuk mengembangkan keterampilan menjadi peluang usaha. Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mulai dari desain batik, proses pencantingan, pewarnaan, hingga penyempurnaan produk.
Baca Juga:Cara Unik Jenderal Kopassus Richard Tampubolon Ajak Mahasiswa Peringati HUT TNIMereka juga mempelajari teknik batik tulis dan cap, desain digital, penggunaan pewarna alami, serta pengelolaan limbah pewarna. Khusus bagi peserta difabel, program ini turut membuka ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui pembuatan karya batik dan produk upcycle yang memiliki nilai guna.
Melalui program inkubasi, Rumah Batik TBIG mendorong lulusan untuk melangkah lebih jauh, tidak hanya terampil menghasilkan produk, tetapi juga siap mengembangkan usaha. Peserta yang mengikuti program ini akan mendapatkan pendampingan dalam pengembangan produk, perencanaan produksi, manajemen usaha, pemasaran, dan distribusi.Dukungan juga diberikan melalui Koperasi Jasa Bangun Bersama (KBB), yang menyediakan akses permodalan tanpa bunga untuk mendukung tiga siklus produksi. Hasil produksi peserta selanjutnya diserap oleh koperasi melalui mekanisme bagi hasil sesuai skema yang diterapkan. Skema ini diharapkan dapat membantu peserta mengatasi tantangan awal dalam membangun usaha sekaligus memperoleh akses pasar.
Chief Business Support Officer TBIG, Lie Si An menyampaikan Rumah Batik TBIG dirancang sebagai ruang pembelajaran yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi dan kemandirian ekonomi.
Baca Juga:Breaking News! Dua Korban KM Virgo Transport 8 Ditemukan di Seruyan Kalteng“Bagi kami, proses pembelajaran tidak berhenti ketika peserta mampu membuat batik. Kami ingin keterampilan yang mereka peroleh menjadi bekal untuk berkarya, membangun kepercayaan diri, dan membuka peluang ekonomi. Melalui pendampingan kami berharap para lulusan dapat terus berkembang sesuai potensi masing-masing dan memiliki kesempatan untuk menjadi pelaku usaha yang mandiri,” ujarnya, Rabu (4/11/2026).
Hadir sejak 2014, kata dia, Rumah Batik TBIG menghubungkan pelestarian budaya batik dengan pengembangan keterampilan dan kewirausahaan. Hingga 2025, program ini telah melatih sekitar 1.200 calon pembatik, dengan sekitar 300 alumni yang kemudian menjadi pembatik aktif.
"Kami berharap Rumah Batik dapat terus membuka akses pembelajaran yang inklusif sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi generasi muda, termasuk penyandang disabilitas, untuk berkarya dan berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan budaya batik Indonesia," ujarnya.





Komentar (0)