BALIKPAPAN, KOMPAS - Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, membuka lagi opsi Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ bagi sekolah di tengah kualitas udara yang tak menentu. Saat kualitas udara memburuk karena kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan, pihak sekolah diminta membuat keputusan cepat.
Sebelumnya, mulai 29 Oktober 2026, pembelajaran tatap muka terbatas telah diberlakukan kembali di beberapa sekolah di Palangka Raya. Hal itu diterapkan terutama di wilayah dengan kondisi kualitas udara yang baik dan sedang.
"Ada opsi kembali PJJ. Dalam surat edaran yang kami bagikan, satuan pendidikan diminta selalu memantau kualitas udara dan bisa mengambil langkah cepat memulangkan peserta didik saat kualitas udara berbahaya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Jayani, Rabu (4/11/2026).
Pada awal November, konsentrasi partikulat PM2.5 di Palangka Raya sempat menyentuh angka 164,5 mikrogram per meter kubik atau masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Pada 4 November 2026, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangka Raya bahkan dalam kategori berbahaya.
Jayadi mengatakan, keselamatan dan kesehatan seluruh peserta didik dan pengelola sekolah merupakan prioritas utama. Sekolah diberikan kewenangan penuh untuk mengambil tindakan cepat demi melindungi siswa.
Ia menyatakan, beberapa sekolah yang telah melaksanakan PJJ langsung memulangkan siswa lantaran kualitas udara memburuk. "Dari laporan yang kami terima, sudah ada yang cepat memulangkan seluruh siswanya. PJJ bisa kembali diterapkan," kata Jayani.
Salah satunya adalah SMP Negeri 8 Palangka Raya di Jalan Temanggung Tilung, Kelurahan Menteng. Pihak sekolah diminta terus memantau perkembangan kualitas udara agar siswa bisa belajar dengan nyaman dan aman.
Kondisi udara yang memburuk di sejumlah kawasan di Kalteng terjadi lantaran titik api karhutla masih muncul. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, titik api di provinsi ini berjumlah 425 pada 3 November 2026.
Jumlah tersebut naik 50 persen dari hari sebelumnya. “Lahan (terbakar) dalam penanganan seluas 664 hektar atau naik 21 persen dari hari sebelumnya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Guna mempercepat penanganan ini, BNPB dan tim gabungan mengerahkan tiga unit helikopter untuk operasi modifikasi cuaca dan delapan helikopter untuk penyiraman via udara.
Sebanyak 6 sortie telah dilakukan oleh helikopter yang beroperasi di Kalteng. Adapun 10.600 kilogram dry ice dan NaCl telah disebar untuk memantik hujan.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengatakan, dampak karhutla bagi kesehatan warga masih perlu diantisipasi. Hingga 2 November 2026, masih terdapat laporan warga sakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), di tujuh provinsi prioritas, termasuk Kalteng.
“Tercatat 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota,” kata Widyawati.






Komentar (0)