Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji, menyebut, sektor industri Indonesia masih menjadi backbone atau tulang punggung penyerap tenaga kerja. Meski begitu, ia mengakui masih ada sejumlah masalah yang perlu diselesaikan.
"Kalau penyerapan lapangan kerja kita, industri kita masih menjadi backbone utama ya, menjadi tulang punggung utama penyerapan lapangan kerja itu sektor industri," ujar Sarmuji, dalam program Top Economy Metro TV, Selasa, 3 November 2026.
Ia menjelaskan, salah satu masalah yang masih terjadi yaitu hubungan antara dunia pendidikan dan industri atau link and match. Ia mencontohkan, para lulusan SMK yang punya orientasi untuk bekerja.
"Begitu tidak match (lulusan SMK) dengan kebutuhan industri, ia tidak melanjutkan ke kuliah, tapi juga dia tidak terserap ke tenaga kerja. Itu kan problemnya," jelasnya.
Sarmuji mengungkapkan, harus ada kurikulum yang menyatukan antara industri dengan sekolah-sekolah vokasi. Menurutnya, Kemenperin sudah membina SMK-SMK tematik dengan sangat baik.
Ia menyebut, di SMK tematik tersebut, industri langsung hadir di dalam kelas. Dengan industri hadir di tiap proses pembelajaran, lulusan SMK bisa langsung terserap.
"Begitu lulus sudah langsung 74 persen itu langsung masuk dunia kerja. Sisanya di tahun berikutnya langsung juga terserap 100 persen," katanya.
Sarmuji menekankan, selama tidak ada pertautan antara industri dan pendidikan, maka ada jarak kebutuhan industri dengan para lulusan. Pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk menindaklanjuti hal tersebut.
"Sepanjang tidak ada pertautan antara industri dan pendidikan, sepanjang itu juga akan ada jarak kemampuan yang dibutuhkan oleh industri dengan lulusan sekolah kita," ucapnya.
Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji (kanan) dalam program Top Economy. Dok. Metro TV.
Sarmuji mengungkapkan syarat utama tenaga kerja lokal bisa terserap industri di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya, tenaga kerja lokal harus memiliki kemampuan yang cocok dengan kebutuhan industri tersebut.
"Asalkan satu syaratnya. Syaratnya ya, mereka memiliki kemampuan yang cocok dengan industri itu," sebut Sarmuji.
Ia menjelaskan, butuh timbal balik antara warga sekitar dengan industri. Menurutnya, industri terbuka untuk menyerap tenaga kerja lokal, terbukti dari beberapa kawasan industri.
"Banyak di kawasan-kawasan industri sudah kita pantau penyerapan tenaga kerja lokalnya maksimal," tuturnya.
Sarmuji mendorong peran pemerintah daerah (pemda) untuk mewujudkan hal tersebut. Menurutnya, pemda berperan penting untuk menghubungkan kebutuhan industri dengan kemampuan masyarakat sekitar.
Ia menyebut, banyak industri berniat untuk menyerap tenaga kerja lokal, tapi kemampuan yang tersedia tidak cocok. Menurutnya, upaya pemerintah pusat untuk mewajibkan industri menyerap tenaga kerja lokal juga harus diikuti peran pemda.
"Pemerintah daerah juga mesti menyajikan daftar keahlian yang sudah bisa dipenuhi untuk diserap oleh dunia industri," terangnya.
Sarmuji juga mengungkap sejumlah strategi pengembangan industri ke depan. Hal ini karena ada perubahan karakter sektor industri di Indonesia, terutama seiring perkembangan teknologi dan informasi.
"Meskipun industri yang dulu padat karya, karakter industri kita itu sudah berubah. Dengan teknologi informasi, dengan teknologi mesin yang semakin canggih itu, sudah terjadi perubahan. Karena itu perlu beberapa strategi mendasar," terang Sarmuji.
Ia menyebut, strategi pertama yaitu memproteksi industri-industri yang menyerap tenaga kerja lebih banyak. Strategi tersebut, lanjutnya, harus diikuti dengan strategi transisi.
Baca Juga :
Menperin Sarmuji Beberkan Kinerja Manufaktur RI yang Cetak RekorSarmuji menerangkan, tenaga kerja Indonesia harus berubah dengan model-model teknologi yang baru, terutama dengan akal imitasi (artificial intelligence/AI).
"Kita harus mentrasisikan jenis keahlian tenaga kerja kita yang ada itu. Kita bisa melakukan upskill, meningkatkan kemampuan, atau kita menambahkan kemampuan yang baru," tambahnya.
Ia menyebut, strategi ketiga yaitu transformasi tenaga kerja. Menurutnya, jangan sampai tenaga kerja Indonesia dibekali oleh kemampuan teknis, tetapi kemampuan-kemampuan yang lain, yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi sekalipun.
"Misalkan kemampuan mengambil keputusan, kemampuan untuk melihat lebih detail selain mesin, itu harus kita transformasikan. Yang memang hanya manusia bisa lakukan," paparnya.





Komentar (0)