Harga bahan baku pakan ayam berpotensi kian mahal. Ini mengingat produksi jagung nasional pada Oktober-Desember 2026 diramal turun, sedangkan harga bungkil kedelai dunia pada 2026 dan 2027 diperkirakan naik. Dalam kondisi itu, bagaimanakah nasib harga bahan baku pakan ayam berikut upaya stabilisasi harganya di Indonesia?
Bagi peternak ayam, pakan merupakan kebutuhan vital dan harian. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS), dalam Statistik Perusahaan Peternakan Unggas 2025, menyebut pakan merupakan pengeluaran terbesar perusahaan peternakan unggas. Dari total pengeluaran perusahaan peternakan unggas di seluruh Indonesia pada 2025 yang senilai Rp 25,306 triliun, sebesar 64,26 persen berupa total pengeluaran pakan.
Selama ini, kebutuhan bahan baku pakan ayam di Indonesia dipenuhi dari dalam negeri dan impor. Merujuk data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, dalam formula pakan ayam pedaging, bahan baku yang berasal dari dalam negeri sebesar 60 persen dan impor 40 persen.
Adapun dalam formula pakan ayam petelur, bahan baku yang berasal dari dalam negeri sebesar 63 persen dan impor 37 persen. Dalam formula pakan kedua jenis ayam tersebut, bahan baku terbesarnya adalah jagung dalam negeri, yakni sebesar 45 persen.
Bahan baku pakan terbesar kedua adalah bungkil kedelai (soybean meal/SBM) impor. Porsi SBM tersebut dalam formula pakan ayam pedaging dan petelur masing-masing sebesar 25 persen dan 20 persen.
Produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan sebanyak 3,23 juta ton, turun 0,12 juta ton atau 3,55 persen dibandingkan dengan Oktober-Desember 2026 yang mencapai 3,35 juta ton.
Belakangan ini, harga jagung pipilan kering di tingkat petani di atas Rp 7.500 per kilogram (kg). Harga tersebut di atas harga pembelian pemerintah (HPP) jagung pipilan kering di tingkat petani yang dipatok Rp 5.500 per kg.
Jika El Nino berlangsung hingga awal triwulan I-2027, masa paceklik jagung yang biasanya berlangsung pada Oktober-Januari berpotensi semakin panjang. Harga jagung diperkirakan kian meningkat atau tetap tinggi hingga Maret 2027. Harga jagung di tingkat petani berkadar air di bawah 25 persen bisa di atas Rp 7.500 per kg (Kompas, 28/10/2026).
Pada Senin (2/11/2026), BPS—merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika—menyatakan El Nino 2026 lebih kuat ketimbang El Nino 2023. Dampaknya tecermin dari potensi penurunan luas panen dan produksi beras dan jagung yang merupakan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Beras dan Jagung Amatan September 2026.
Ihwal jagung, BPS memperkirakan luas panen jagung pipilan kering pada Oktober-Desember 2026 mencapai 0,48 juta hektar. Potensi luas panen itu menyimpit sekitar 0,04 juta hektar atau 7,3 persen dibandingkan dengan realisasi luas panen Oktober-Desember 2025 yang mencapai 0,51 juta hektar.
Dalam periode perbandingan yang sama, produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen diperkirakan turun 0,12 juta ton atau 3,55 persen dari 3,35 juta ton menjadi 3,23 juta ton. Kendati demikian, produksi jagung tersebut pada Januari-Desember 2026 diperkirakan sebanyak 16,39 juta ton atau meningkat 1,34 persen secara tahunan.
Di sisi lain, Bank Dunia memperkirakan harga sejumlah komoditas pangan dunia, termasuk SBM, pada 2026 dan 2027 melonjak. Dampak konflik di Timur Tengah dan Laut Hitam serta El Nino menjadi pemicu utama.
Bank Dunia mencatat, harga rerata SBM dunia pada 2025 senilai 366 dolar AS per ton. Pada 2026 dan 2027, harganya diproyeksikan naik masing-masing menjadi 430 dolar AS per ton dan 471 dolar AS per ton. Pada September dan Oktober 2026, harga SBM dunia telah tembus masing-masing 447 dolar AS per ton dan 453 dolar AS per ton.
Di tengah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya impor SBM pasti membengkak. Dengan rupiah di kisaran Rp 17.880-Rp 18.183 per dolar AS sepanjang Oktober 2026, biaya pembelian satu ton SBM saja bisa mencapai Rp 8,09 juta-Rp 8,24 juta.
Merujuk pada potensi kian mahalnya harga jagung, apakah drama jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog bagi peternak ayam rakyat bakal berlanjut? Selain itu, di tengah potensi kenaikan harga SBM dunia, mampukah PT Berdikari (Persero) mempertahankan harga SBM untuk peternak ayam rakyat senilai Rp 8.630 per kg?
Bulog dikabarkan kekurangan stok jagung program SPHP bagi peternak ayam rakyat. Untuk mengatasinya, Bulog berencana membeli jagung pipilan kering dari para pengusaha pakan ayam anggota Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT).
Kabar itu tertuang dalam Surat Bulog Nomor B-1228/III/DU000/PD.02.01/10/2026 tanggal 26 Oktober 2026 yang ditujukan kepada GPMT. Surat perihal dukungan pembelian jagung pipilan kering untuk program SPHP jagung pakan itu ditandatangani Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.
Dalam surat itu, Bulog menyebutkan mendapatkan tugas dari pemerintah untuk menyalurkan jagung kepada peternak sebanyak 391.964 ton pada 2026. Namun, cadangan jagung pemerintah (CJP) yang dikelola Bulog per 25 Oktober 2026 tinggal 284.097 ton sehingga masih kurang 107.867 ton.
Untuk menutup kekurangan itu, Bulog akan membeli jagung pipilan kering berkadar air maksimal 14 persen dan aflatoksin maksimal 50 bagian per miliar (ppb) dari GPMT sesuai HPP. HPP jagung kualitas tersebut senilai Rp 6.250 per kg untuk curah dan Rp 6.400 per kg untuk kemasan polos baru kapasitas 50 kg (Kompas, 29/10/2026).
Sejumlah kalangan menilai opsi tersebut dipilih lantaran Bulog kesulitan membeli jagung petani sesuai HPP. Selain itu, meskipun ada opsi impor jagung pakan, pemerintah cenderung bersikukuh tidak membuka keran impor demi mewujudkan swasembada jagung pakan.
Sementara tanpa ada insentif, langkah Bulog itu berpotensi menekan, bahkan merugikan, GPMT. Bisa jadi harga jagung yang dibeli perusahaan yang tergabung di GPMT lebih tinggi daripada harga yang ditentukan Bulog. Jika menolak permintaan Bulog, GPMT bisa dianggap tidak mendukung kebijakan pemerintah (Kompas, 30/10/2026).
Serial Artikel
Kekurangan Stok, Bulog Dikabarkan Bakal Beli Jagung Perusahaan Pakan
Jika ketersediaan jagung pakan dalam negeri terbatas atau dalam kondisi ”force majeure” (darurat), pemerintah jangan malu-malu membuka keran impor jagung.
Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, langkah Bulog tersebut bisa jadi terus berlanjut hingga kekurangan jagung pakan untuk program SPHP teratasi. Pertama, harga jagung di tingkat petani berpotensi merangkak naik atau stabil tinggi hingga panen raya jagung pada Februari atau Maret 2027. Dengan catatan, musim tanam I jagung berikut panen rayanya tidak mundur akibat dampak El Nino.
Kedua, peternak ayam rakyat benar-benar membutuhkan jagung dengan harga terjangkau. Terlebih, peternak ayam petelur yang sudah sekitar tujuh bulan merugi akibat harga jual telur jauh di bawah biaya produksi dan harga acuan pembelian telur di tingkat proudsen yang dipatok Rp 26.500 per kg (Kompas, 8/10/2026).
Ketiga, hingga kini, impor jagung pakan masih distop pemerintah. Kalaupun keran impor dibuka, biaya impor jagung bakal melonjak akibat depresiasi rupiah dan kenaikan harga jagung. Bank Dunia memperkirakan, harga jagung dunia yang pada 2025 senilai 203 dolar AS per ton naik menjadi 223 dolar AS per ton pada 2026 dan 235 dolar AS per ton pada 2027.
Bulog diperkirakan baru dapat menyerap jagung petani setelah harganya sesuai atau mendekati HPP pada 2027. Apalagi, Bulog mendapat mandat dari Presiden Prabowo Subianto untuk menyerap jagung dalam negeri untuk CJP mulai 2027 hingga 2029.
Mandat itu tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran CJP Tahun 2026-2029. Inpres tersebut memuat sejumlah tugas Bulog.
Salah satunya adalah pengadaan jagung dalam negeri untuk CJP ditargetkan minimal 1 juta ton mulai 2027 sampai dengan 2029. Jagung pipilan kering di tingkat petani yang dapat diserap Bulog harus berkadar air 18-20 persen dan dibeli dengan HPP Rp 5.500 per kg.
Per Oktober 2026, harga rerata SBM dunia senilai 453 dolar AS per ton. Dengan rupiah di kisaran Rp 17.880-Rp 18.183 per dolar AS sepanjang Oktober 2026, biaya pembelian satu ton SBM saja bisa mencapai Rp 8,09 juta-Rp 8,24 juta.
Selain menggulirkan jagung SPHP, pemerintah melalui PT Berdikari (Persero) juga menyalurkan 30.000 ton SBM kepada para peternak ayam rakyat hingga Desember 2026. SBM tersebut dibanderol Rp 8.630 per kg atau lebih rendah dari SBM milik swasta yang harganya berkisar Rp 10.000-Rp 12.000 per kg.
Per Oktober 2026, harga rerata SBM dunia senilai 453 dolar AS per ton. Dengan rupiah di kisaran Rp 17.880-Rp 18.183 per dolar AS sepanjang Oktober 2026, biaya pembelian satu ton SBM saja bisa mencapai Rp 8,09 juta-Rp 8,24 juta atau sekitar Rp 8.099-Rp 8.236 per kg.
Harga SBM tersebut memang masih berada di bawah harga penjualan SBM kepada peternak ayam rakyat yang senilai Rp 8.630 per kg. Namun, ingat, harga SBM dunia tersebut belum memperhitungkan biaya dan asuransi pengiriman.
Lantas, bagaimana perkiraan harganya pada 2027? Dengan asumsi rupiah masih berada di level Rp 18.000, harga SBM dunia yang diperkirakan Bank Dunia senilai 471 dolar AS per ton setara dengan Rp 8,48 juta ton, atau sekitar Rp 8.478 per kg.
Harga SBM tersebut juga masih berada di bawah harga penjualan SBM kepada peternak ayam rakyat yang senilai Rp 8.630 per kg. Namun, sekali lagi perlu diingat, harga SBM dunia itu belum memperhitungkan biaya dan asuransi pengiriman.
Semoga saja, pada 2027, harga SBM dunia kembali normal atau berada jauh di bawah perkiraan Bank Dunia. Bersamaan dengan itu, tekanan dolar AS terhadap rupiah diharapkan bisa berkurang. Jika hal itu tidak terjadi, setidaknya sepanjang triwulan I-2027, Berdikari bakal masih dibebani tugas menyalurkan SBM kepada para peternak ayam rakyat.






Komentar (0)