IHSG Dibuka Melemah 0,97 Persen, Pasar Cermati Pemilu Midterm AS

suarasurabaya.net
1 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (4/11/2026).

IHSG turun 47,33 poin atau 0,97 persen ke level 4.856,96. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan melemah 3,51 poin atau 0,71 persen ke posisi 493,76.

Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 4.650–4.750 apabila level 4.900 tidak mampu bertahan sebagai penopang atau support.

“Secara teknikal, IHSG berpotensi akan uji level 4.650-4.750 apabila support di level 4.900 tidak mampu menahan penurunan lebih lanjut,” ujar Ratna dilansir dari Antara.

Dari eksternal, pelaku pasar mencermati pemilihan umum paruh waktu atau midterm election Amerika Serikat (AS), yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari teknologi hingga utilitas.

Ratna menilai inflasi menjadi salah satu isu penting dalam pemilu tersebut, terutama setelah kenaikan harga energi di tengah perang antara AS dan Iran.

Kenaikan harga bensin dan solar turut menambah tekanan biaya. Di sisi lain, belanja konsumen yang kuat serta investasi pada teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih menopang pertumbuhan ekonomi AS. Namun, sebagian pemilih juga mengkhawatirkan dampak perkembangan AI terhadap lapangan kerja.

Ketegangan geopolitik AS dan Iran juga masih menjadi perhatian investor. Upaya diplomatik melalui Qatar belum menunjukkan kepastian, sementara kedua negara masih berbeda pandangan terkait tuntutan dalam rancangan kesepakatan.

Situasi semakin memanas setelah AS dilaporkan melancarkan serangan defensif terhadap sistem rudal permukaan ke udara Iran. Presiden AS Donald Trump juga kembali mengancam kemungkinan aksi militer.

Meski demikian, pasar masih menyimpan harapan tercapainya penyelesaian diplomatik. Harapan tersebut ikut mendorong pelemahan harga minyak mentah global.

Pada Selasa (3/11/2026), minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran 96 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di level 103 dolar AS per barel.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury 10-year yield naik lebih dari enam basis poin menjadi 4,96 persen. Harga emas spot melemah 0,5 persen ke level 3.920 dolar AS per troy ounce.

Ratna mengatakan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS memberikan tekanan terhadap harga emas. Investor juga menantikan hasil pemilu midterm untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal AS.

Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 diturunkan menjadi 5,4–5,5 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6–6,0 persen.

Menurut Ratna, revisi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap prospek ekonomi domestik. Kondisi ini berpotensi membatasi optimisme investor terhadap prospek laba emiten, terutama di sektor yang sensitif terhadap daya beli dan aktivitas ekonomi, seperti konsumer, ritel, dan properti.

Sentimen lain datang dari kepastian pemerintah yang tidak akan memberlakukan skema pungutan pajak baru pada 9 November 2026.

Suahasil Nazara Menteri Keuangan RI menegaskan, tidak ada kebijakan pungutan baru, termasuk terkait isu pajak transaksi digital melalui perbankan, perusahaan teknologi finansial atau fintech, hingga perdagangan elektronik atau e-commerce.

Ratna menilai klarifikasi tersebut diharapkan dapat meredakan kekhawatiran pelaku usaha dan masyarakat terhadap potensi kenaikan biaya transaksi digital.

Selain itu, pemerintah tengah merancang perubahan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA). Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong eksportir mengonversi lebih banyak devisa dalam dolar AS ke rupiah.

Menurut Ratna, kebijakan itu berpotensi memperkuat likuiditas dan ketahanan pasar keuangan domestik. Namun, dampaknya terhadap fleksibilitas likuiditas eksportir tetap perlu dicermati.

Di pasar global, bursa Eropa kompak melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Euro Stoxx 50 turun 0,61 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,14 persen, DAX Jerman turun 0,45 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 0,34 persen.

Sementara itu, pergerakan bursa Wall Street bervariasi. Indeks S&P 500 menguat 0,37 persen dan Nasdaq Composite naik 0,83 persen. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,38 persen.

Pelemahan juga terjadi di sejumlah bursa saham Asia pada Rabu pagi. Nikkei Jepang turun 3,70 persen ke 60.746,86, Shanghai melemah 0,26 persen ke 3.598,74, Hang Seng turun 0,42 persen ke 23.428,95, Kospi Korea Selatan melemah 3,25 persen ke 5.465,17, dan Straits Times Singapura turun 1,12 persen ke 5.210,99. (ant/saf/ipg)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Struktur Pengendali AADI Terkuak, Ada Nama Boy dan Erick Thohir
• 23 jam lalu
0
thumb
OJK Tutup 1 Bank di Sumsel, Ada Masalah Modal
• 5 jam lalu
0
thumb
PT PAL dan BRIN kembangkan teknologi energi bersih KRI Sriwijaya-100
• 20 jam lalu
0
thumb
Sebelum Mobil Listrik, Konsumen Sekarang Mulai Pikirkan Ini
• 20 jam lalu
0
thumb
Hasil I League Cup: PSM Makassar Bungkam De Red FC 2-0
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.