Apple melaporkan pendapatan kuartal keempat sebesar USD 114,48 miliar atau sekitar Rp 2.077 triliun dan capaian ini melampaui ekspektasi pasar. Namun kabar baik ini bagai angin lalu. Para eksekutif di Apple memprediksi kondisi semakin sulit di kuartal-kuartal berikutnya.
Dalam konferensi pendapatan, para eksekutif Apple menyatakan margin keuntungan perusahaan akan menyempit. Penyebab terbesarnya adalah harga chip memori yang terus melonjak.
"Apa yang kita lihat dengan harga memori saat ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata CEO Apple yang baru dilantik, John Ternus, dalam konferensi pers pertamanya sebagai CEO dilansir Gizmodo.
"Sekarang, untuk kuartal Desember, kami memperkirakan biaya memori yang lebih tinggi lagi, sebagian diimbangi oleh beberapa faktor."
Krisis pasokan chip yang berlarutSejak tahun lalu, banyak industri teknologi dunia kekurangan pasokan chip memori berkecepatan tinggi (HBM). Permintaan memori dari pusat data AI melonjak, sehingga para pembuat chip mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka yang terbatas untuk memenuhi permintaan industri AI.
Akibatnya, pasokan menjadi timpang dan produsen elektronik segmen consumer 'gigit jari.' SK Hynix, raksasa semikonduktor asal Korea Selatan, baru-baru ini menyatakan bahwa krisis ini akan berlanjut hingga tahun 2030.
Imbasnya? Banyak produsen elektronik terpaksa menaikkan harga jual barangnya. Apple juga menempuh jalan itu: Perusahaan menaikkan harga Mac dan iPad, lalu harga iPhone pada bulan September.
CEO Apple John Ternus mengatakan, kenaikan harga unit itu bisa saja mengurangi tekanan di internal perusahaan. Ketersediaan pasokan dari pabrik dan ongkos produksi komponen non-memori yang rendah juga ikut membantu. Namun semua itu tidak cukup untuk menutup 'akar masalahnya.'
“Jika melihat lebih jauh dari kuartal Desember, kami memperkirakan harga pembelian memori akan terus meningkat,” Ternus juga memperingatkan.
Selain harga memori yang tinggi, Apple juga menanggung 'ongkos' mengejar ketertinggalan dari raksasa teknologi lain dalam perlombaan AI. Belakangan, Apple akhirnya merilis Siri bertenaga AI pada Juli dan memperluas penggunaannya secara bertahap. Semakin banyak pelanggan yang memakai Siri AI, semakin besar pula "biaya cloud terkait" yang harus Apple bayar.
Biaya itu akan “berdampak pada margin laba kotor,” kata kepala keuangan Apple, Kevan Parekh.
Posisi Apple saat ini relatif tenang dibanding raksasa teknologi lain seperti Meta dan Google. Dua perusahaan itu menggelontorkan dana besar untuk AI hingga menyebabkan arus kas bebas mereka anjlok.
Saat ini investor tampak gelisah soal masa depan AI. Mereka khawatir belanja besar untuk infrastruktur AI belum memberi imbal hasil yang cukup. Kendati demikian, para eksekutif Apple tetap antusias soal AI dan menjanjikan lebih banyak fitur AI ke depan.
“Kami berupaya untuk terus melakukan investasi yang diperlukan untuk mendukung bisnis, dan kami juga melihat berbagai cara AI dapat berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan dari waktu ke waktu,” kata Parekh.






Komentar (0)