Liputan6.com, Jakarta - Profesi ojek online (ojol) selama ini dipandang sebagai pekerjaan informal yang mengandalkan fleksibilitas waktu. Namun, di balik riuhnya jalanan ibu kota, tersimpan kisah perjuangan yang tak biasa dari para pengemudi ojol lintas daerah.
Salah satunya adalah Saugi (31). Alih-alih mencari peruntungan di tanah kelahiran, ia justru memilih meninggalkan kampung halamannya di kawasan kaki Gunung Salak, Bogor, demi mengadu nasib sebagai pengemudi ojol di Jakarta.
Advertisement
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Saugi menceritakan bahwa pasar konsumen ojek online di daerah asalnya tidak seramai di Jakarta.
"Kalau di Bogor kan agak sulit, enggak seramai di Jakarta," ungkap Saugi saat ditemui di kawasan Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, (3/10/2026).
Dia bercerita sempat iseng menjajal narik di Bogor akhir-akhir ini, namun pendapatannya terbatas. Yang dapat diandalkan hanya mobilitas mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yang jarak dari rumahnya saja membutuhkan waktu tempuh hingga 45 menit.
"Yang ramai ya paling cuman IPB. Ngandelin mahasiswa, itupun kalau libur semester sepi lagi. Pokoknya dari kampung saya, dari rumah ke IPB itu 45 menitan. Pulang pergi capek mendingan di sini ajalah. Pulang deket tinggal ke Tanah Abang (kontrakannya), kan," ujarnya.





Komentar (0)