Menperin Sarmuji Beberkan Kinerja Manufaktur RI yang Cetak Rekor

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa sektor industri manufaktur nasional saat ini berada dalam fase ekspansi yang sangat solid, sekaligus menepis narasi deindustrialisasi yang sempat berkembang. Hal ini dibuktikan dengan lonjakan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur hingga capaian pertumbuhan industri pengolahan non-migas tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Berdasarkan data S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober melesat ke level 54,0—posisi tertinggi dalam 31 bulan terakhir sejak Maret 2024. Pesanan baru tercatat tumbuh paling cepat dalam lima tahun, sementara pesanan ekspor membukukan rekor tertinggi sejak survei dimulai pada 2011. Sejalan dengan itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) rilisan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga berada di zona ekspansi pada angka 53,77, serta pertumbuhan manufaktur triwulan II mencapai 5,32 persen.

"Narasi deindustrialisasi itu tidak sepenuhnya benar. Penurunan persentase industri terhadap PDB yang saat ini berada di kisaran 19,07 persen lebih disebabkan oleh perubahan metode pencatatan klastering sektor di BPS yang dipecah menjadi belasan sektor," kata Sarmuji, dikutip dari tayangan Top Economy, Metro TV, Selasa, 3 November 2026.

Sarmuji memaparkan, dari total 15 subsektor industri, sebanyak 14 subsektor mencatatkan pertumbuhan positif. Subsektor furnitur dan alas kaki bahkan melesat dengan pertumbuhan dua digit di atas 11 persen, disusul tekstil yang tumbuh 5–6 persen.

"Satu-satunya subsektor yang mengalami kontraksi hanya industri hasil tembakau, yang dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran kesehatan serta maraknya peredaran rokok ilegal tanpa cukai," jelasnya. Strategi Bahan Baku dan Paradigma Gas Industri
Menperin mengungkapkan, saat ini tingkat utilisasi pabrik manufaktur nasional berada di angka 66 persen dan ditargetkan meningkat hingga 80–85 persen. Untuk mencapai target tersebut, Kemenperin berfokus menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bagi industri berorientasi ekspor.

Sarmuji mencontohkan langkah cepat Kemenperin saat mengatasi kekurangan pasokan 15.000 ton gula rafinasi pada sebuah industri besar agar roda produksi tidak terhenti. Terkait perdagangan, ia menegaskan perlunya relaksasi impor bahan baku dan mesin penunjang, sembari tetap memperketat proteksi terhadap impor barang jadi.
 

Baca Juga :

Kemenperin Kawal Pasokan Gas untuk Industri Lokal, Jabar-Lampung Paling Disorot


Di sektor energi, Sarmuji mendorong perubahan paradigma terkait pemanfaatan gas bumi. Menurutnya, gas tidak boleh dipandang semata sebagai komoditas ekspor yang dijual lepas demi penerimaan jangka pendek, melainkan sebagai bahan baku dan bahan bakar bernilai tambah tinggi bagi industri dalam negeri.

"Bila gas dialokasikan untuk bahan baku dan energi industri, efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian dan penciptaan nilai tambahnya berlipat ganda dibanding sekadar dijual mentah," tegasnya. Pengembangan Kawasan Industri Luar Jawa hingga Hilirisasi Alga
Guna mendorong pemerataan ekonomi agar tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, Kemenperin tengah mematangkan konsep kawasan industri tematik berbasis komoditas lokal. Di antaranya pengolahan bauksit di Kalimantan Barat, hilirisasi kelapa di Riau, hingga pengolahan sagu di Maluku dan Papua.

Kemenperin juga melirik potensi kelautan nasional dengan menginisiasi pengembangan industri alga (ganggang laut) di wilayah Seram Bagian Timur, Maluku, yang memiliki potensi besar untuk bahan baku pangan, farmasi, hingga bahan bakar hayati (biofuel). Sementara di sektor maritim, Kemenperin mengupayakan pemberian insentif dan kepastian penyerapan (offtaker) lokal bagi galangan kapal tanker dalam negeri. Atasi Paradoks Vokasi dan Komitmen Industri Hijau
Menanggapi fenomena lulusan SMK yang kerap mendominasi angka pengangguran akibat ketidakcocokan (link and match) dengan kebutuhan pabrik, Sarmuji menyatakan solusinya adalah "membawa industri langsung ke dalam kelas".

Ia mencontohkan SMK dan SMAK di bawah naungan Kemenperin yang menerapkan kurikulum tematik bersama pelaku usaha berhasil mencatat tingkat keterserapan kerja langsung sebesar 74 persen saat kelulusan, dan mencapai 100 persen dalam setahun.

Terkait keberlanjutan lingkungan, Menperin menekankan bahwa dekarbonisasi dan konsep industri hijau (green industry) kini bukan lagi beban biaya (unit cost), melainkan peluang keuntungan (unit profit). Ia mencontohkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) di Petrokimia Gresik yang menangkap emisi karbon dan mengubahnya menjadi soda ash, yang kemudian diserap secara penuh oleh industri kaca di kawasan JIIPE Gresik.

"Target kami ke depan adalah menaikkan kembali kontribusi manufaktur terhadap PDB secara bertahap ke level 20 hingga 25 persen. Pemerintah berkomitmen menyinkronkan regulasi tata ruang yang tumpang tindih, membasmi pungutan liar, dan menciptakan iklim investasi yang aman dan nyaman bagi pelaku industri global," pungkas Sarmuji.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
OJK Hukum 2 Manajer Investasi: Izin PT Pratama Capital Dicabut, PT Aurora Didenda Rp 2,57 Miliar
• 10 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Akan Perbaiki Total Tata Kelola Beras Fortifikasi
• 15 jam lalu
0
thumb
Persib Bisa Cetak Sejarah di Australia, Satu Poin Lagi untuk Amankan Tiket 16 Besar ACL 2
• 11 jam lalu
0
thumb
Asing Jual BBRI, ANTM, BUMI kala IHSG Anjlok 3,78% ke Level 4.904
• 6 jam lalu
0
thumb
4 Selebriti Ini Beri Dukungan untuk Raffi Ahmad di Tengah Seruan Boikot
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.