Penumpang LRT Jakarta Melonjak, Kapasitas Layanan Perlu Ditambah

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Layanan light rail transit (LRT) Jakarta menghadapi lonjakan jumlah penumpang. Lonjakan ini dirasakan sebagian penumpang terutama setelah rute Manggarai-Velodrome dibuka. Penambahan armada dan peningkatan intensitas perjalanan perlu ditingkatkan.

Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat lonjakan kenaikan penumpang LRT yang diterbitkan Senin (2/11/2026). Pengguna LRT melonjak dari 133.010 penumpang pada bulan Agustus menjadi 210.054 penumpang pada bulan September 2026. 

Meski mengalami lonjakan jumlah penumpang, BPS mencatat, jumlah perjalanan justru menurun. Pada bulan September 2026, tercatat jumlah perjalanan sebanyak 5.283, turun 16,46 persen dibanding Agustus 2026.

Kenaikan jumlah penumpang dirasakan di Stasiun LRT Manggarai saat sejumlah penumpang turun dari gerbong pada Selasa (3/11/2026). Pada siang hari, penumpang dipenuhi oleh pelajar dan warga yang ingin berbelanja di Mall Kelapa Gading. 

Sore hari menjelang jam pulang kerja, terlihat sejumlah pekerja memenuhi gerbong. Meski terlihat padat, tetapi keramaian gerbong pada siang hari tidak sepadat pagi dan sore hari saat para pekerja berangkat dan pulang kerja.

Namun, kepadatan gerbong  LRT tidak sepadat gerbong KRL saat rush hour. Sejumlah penumpang mengaku dapat tetap merasa nyaman, meski gerbong kian padat.

Cinta (22), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, sudah tiga tahun belakangan rutin naik LRT sepulang kuliah. Rumahnya yang terletak di daerah Kelapa Gading membuatnya merasa terbantu dengan LRT. 

Namun, ia merasa akhir-akhir ini sejumlah gerbong mulai penuh. Menurutnya, kenaikan jumlah penumpang ini dirasa meningkat sejak rute Manggarai-Velodrome dibuka.

“Meskipun padat, tapi tidak sampai terjepit seperti naik KRL saat rush hour,” ujarnya. 

Klara (22), mahasiswa Universitas Terbuka, juga merasakan hal serupa. Ia merasa gerbong mulai terasa penuh saat jam pulang kerja. Selebihnya, saat siang hari, gerbong LRT dipenuhi oleh orang-orang yang ingin jalan-jalan di Mall Kelapa Gading. 

Rute Manggarai-Velodrome yang baru dibuka memang mengundang sejumlah pengguna baru LRT. Dinda (21) adalah salah satu penumpang yang beralih dari KRL ke LRT. Ia baru mencoba LRT pada Selasa (3/11/2026) untuk menopang perjalanannya ke kantor di Rawamangun dari rumahnya di Bogor.

Dinda mengaku, jika biasanya ia naik KRL dan turun di Stasiun Klender, ia masih harus menempuh perjalanan lebih jauh ke kantornya di Rawamangun dengan ojek online. Dengan naik LRT rute Manggarai-Rawamangun, ia merasa lebih terbantu dan akan menggunakannya dalam jangka waktu ke depan. 

Namun, konekting JPO LRT Manggarai yang belum beroperasi membuat Dinda kewalahan dan kepanasan. Harapannya, JPO dapat segera beroperasi dan menopang komuter berpindah perjalanan dengan mudah.

Baca JugaTingkatkan Aksesibilitas Transportasi Publik untuk Penyandang Disabilitas

Sri Sukesi (73), juga merasakan kesulitan yang sama, terutama sebagai lansia. Sri terlihat kewalahan dan tertatih menaiki anak tangga untuk mencapai pintu masuk LRT Manggarai.

Ia juga merasa kesulitan untuk menyebrang dan melewati trotoar yang tidak ramah pedestrian untuk menuju LRT. Namun, Sri merasa terbantu dengan adanya bantuan kartu bagi lansia. Ia bisa jalan-jalan dengan sesama teman lansianya secara gratis.

Penambahan armada

Kenaikan jumlah penumpang yang tidak dibarengi dengan armada serta peningkatan intensitas perjalanan riskan membuat penumpang berdesakan. Hal ini diutarakan oleh Yayat Supriatna, pengamat tata kota.

Keterbatasan jumlah kereta dan volume penumpang yang semakin banyak, kata Yayat, akan membuat penumpang bertumpuk. Waktu tunggu yang lama juga membuat jumlah penumpang mengalami kenaikan.

Untuk itu, Yayat menyarankan penambahan kapasitas layanan. Sebab, saat ini jumlah rangkaian kereta yang beroperasi masih terbatas, sementara minat masyarakat untuk menggunakan LRT meningkat.

“Bagus ada minat masyarakat untuk naik angkutan publik. Namun, kalau jumlah kereta tidak ditambah, ini akan menjadi persoalan. Permintaan terus meningkat, sementara kapasitas layanan tidak bertambah. Jadi kurang bisa dinikmati perjalanannya kalau penumpang harus berdiri,” ujarnya saat dihubungi pada Selasa (3/11/2026). 

Selain kapasitas armada, Yayat menyoroti pentingnya integrasi antarmoda di Stasiun Manggarai. Menurutnya, pembangunan jembatan penghubung (skybridge) antara KRL Commuter Line dan LRT Manggarai perlu segera direalisasikan untuk mempermudah perpindahan penumpang.

Integrasi tersebut perlu memperhatikan kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan lanjut usia. Tanpa fasilitas penghubung yang memadai, perpindahan antarmoda justru dapat menyulitkan penumpang dengan keterbatasan mobilitas. 

Yayat menambahkan, peningkatan jumlah penumpang juga perlu dilihat dari perkembangan jaringan LRT. Saat ini, pergerakan penumpang masih terkonsentrasi pada dua titik utama. Apabila stasiun lain mulai dibuka, jumlah pengguna diperkirakan akan bertambah. 

Menurut Yayat, pengembangan LRT harus memerhatikan 3D + 1T, yaitu density, diversity, design, dan transit. Density merupakan kepadatan kawasan atau jumlah penduduk pada suatu wilayah. Sedangkan diversity yaitu banyaknya kawasan atau tempat yang menjadi tujuan.

Sementara itu design terkait pertimbangan apakah transum ramah bagi pejalan kaki dan transit yaitu transum harus mudah diakses oleh transportasi publik pendukung lainnya. 










Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Detik-Detik Dua Helikopter Tabrakan di Pegunungan Himalaya, 1 Orang Tewas | KOMPAS PETANG
• 6 jam lalu
0
thumb
Green Water Infrastructure & Green Energy: Sinergi Dua Member Danantara Guna Mendorong Ketahanan Air dan Energi
• 6 jam lalu
0
thumb
Baznas Bazis DKI Hadirkan Layanan Kesehatan Bersama untuk Warga Terdampak Karhutla
• 11 jam lalu
0
thumb
Pemprov Bengkulu Batasi Pembelian Pertalite dan Biosolar, Pertamina Dukung Aturan Baru di SPBU
• 3 jam lalu
0
thumb
Irwasum Polri Tegaskan Kasus Penyadapan Ilegal Murni Ulah Oknum, Bukan Kebijakan Institusi
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.