Pontianak (ANTARA) - Sarini kini memiliki kesibukan tambahan. Warga Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), itu tidak hanya menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga ikut mengelola peternakan ayam petelur dan kebun yang dikembangkan melalui inovasi desa untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mendekatkan sumber pangan bergizi kepada keluarga, terutama yang memiliki anak balita. Warga bisa lebih mudah memperoleh telur dan sayuran tanpa harus pergi jauh untuk berbelanja ke Pontianak.
Menurut Sarini, kegiatan itu bukan sekadar aktivitas ekonomi masyarakat, melainkan juga bagian dari upaya bersama mencegah masalah gizi anak sejak dini.
"Meskipun tanggung jawab ini membuat hari-hari saya menjadi lebih sibuk, saya melihat manfaatnya bagi desa. Kini warga desa dapat membeli sayuran dan telur langsung dari kami tanpa harus pergi jauh ke Pontianak. Kini, kasus balita yang tidak naik berat badan selama tiga bulan berturut-turut sudah tidak lagi kami temui di Kubu Raya," kata Sarini pada 3 November 2026.
Inovasi yang dikelola masyarakat tersebut menjadi salah satu praktik baik pelaksanaan Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) di Kalbar. Program ini mengembangkan pendekatan berbasis masyarakat dengan melibatkan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan hingga tingkat desa.
Baca juga: Mengubah ingatan iklan menjadi kesadaran gizi keluarga
Upayanya tidak hanya berfokus pada penanganan masalah gizi anak, tetapi juga meningkatkan kesadaran keluarga, memperluas pengetahuan remaja, serta memperkuat kelembagaan desa agar pencegahan stunting dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Program PASTI merupakan kemitraan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk melalui inisiatif Bakti BCA. Pelaksanaannya dilakukan oleh Yayasan Wahana Visi Indonesia di empat kabupaten prioritas: Sambas, Bengkayang, Sekadau, dan Kubu Raya.
Selama periode Januari 2023 hingga Oktober 2026, program tersebut menjalankan tiga pendekatan utama untuk mendukung percepatan penurunan stunting di wilayah sasaran.
Pendekatan pertama diarahkan pada peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan serta gizi berbasis masyarakat, terutama bagi keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.
Salah satu bentuk intervensinya adalah Pos Gizi DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting). Melalui kegiatan tersebut, lebih dari 3.000 anak di bawah dua tahun (baduta) berisiko stunting telah mengikuti intervensi di Kalbar. Dari jumlah tersebut, 60,4 persen anak yang mengikuti program secara lengkap mengalami kenaikan berat badan hingga mencapai kategori pertumbuhan normal.
Capaian tersebut memperlihatkan pentingnya pendampingan dan pemantauan pertumbuhan anak secara berkelanjutan. Keterlibatan keluarga dan masyarakat juga diperlukan untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi.
Pendekatan kedua menyasar kelompok remaja. Program PASTI menjangkau lebih dari 4.000 remaja berusia 15–19 tahun untuk meningkatkan pengetahuan tentang stunting dan praktik pemenuhan gizi yang baik.
Dari kelompok tersebut, 416 remaja mendapatkan pelatihan sebagai pendidik sebaya (peer educator). Mereka diharapkan menjadi penggerak penyebaran informasi kesehatan dan gizi di lingkungan pergaulan masing-masing, baik di tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desa.
Pelibatan remaja merupakan bagian dari upaya pencegahan jangka panjang. Pengetahuan tentang gizi dan kesehatan sejak usia muda diharapkan membentuk kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat sekaligus mempersiapkan kehidupan keluarga yang lebih sehat pada masa mendatang.
Pendekatan ketiga diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan dan tata kelola kolaboratif melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Baca juga: Tahan pangan dan tahan gizi
Dalam pelaksanaannya, Program PASTI mendorong TPPS desa agar tidak hanya berfungsi sebagai struktur kelembagaan, tetapi juga aktif berkoordinasi dan menggelar pertemuan rutin untuk memastikan berbagai intervensi berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kinerja TPPS desa meningkat dari 42,5 persen (51 dari 120 desa) pada 2025 menjadi 59,2 persen (71 dari 120 desa) pada 2026.
Selain itu, 50 dari 120 TPPS desa telah didorong menganggarkan pertemuan rutin menggunakan sumber pendanaan mandiri, seperti dana desa dan sumber pendanaan lokal lainnya. Sepanjang 2025–2026, 484 anggota TPPS juga mendapatkan pelatihan untuk memperkuat kapasitas dalam menjalankan tugas dan koordinasi.
Stunting Kalbar
Berdasarkan data aplikasi Sigizi Kesga Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, prevalensi stunting di daerah itu menunjukkan tren penurunan. Pada triwulan I 2026, angkanya tercatat 13,56 persen, lebih rendah dibandingkan dengan 14,03 persen pada 2025 dan 14,04 persen pada 2024.
Di Kabupaten Kubu Raya, prevalensi stunting tercatat 9,4 persen. Berdasarkan data pemerintah kabupaten, dari 36.797 balita yang telah diukur, 3.446 di antaranya mengalami stunting.
Sebaran kasus di sembilan kecamatan menunjukkan angka yang bervariasi. Kecamatan Sungai Ambawang mencatat prevalensi tertinggi sebesar 19,6 persen, disusul Teluk Pakedai 14 persen dan Batu Ampar 10,6 persen.
Perbedaan prevalensi antarkecamatan tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Menjaga keberlanjutan
Memasuki Oktober 2026, Program PASTI mencapai bulan ke-46 sekaligus mengakhiri periode pelaksanaannya. Namun, berakhirnya program tidak berarti kegiatan dan pembelajaran yang telah dibangun harus berhenti.
Baca juga: Tantangan memenuhi gizi anak setelah lepas ASI
Keberlanjutan menjadi perhatian utama melalui penyerahan dokumen pembelajaran dan praktik baik kepada Pemerintah Provinsi Kalbar pada 3 November 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian, berbagi pengalaman, serta menyelaraskan komitmen pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam melanjutkan inisiatif yang telah berjalan.
Penyerahan dokumen itu melibatkan perwakilan BKKBN Kalbar, perangkat daerah tingkat provinsi, dan Yayasan Wahana Visi Indonesia.
Dokumen yang diserahkan mencakup modul, buku hasil refleksi, serta dokumentasi praktik baik selama pelaksanaan program. Materi tersebut diharapkan menjadi sumber pengetahuan dan referensi bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan pembelajaran program ke dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sesuai kewenangan masing-masing.
Pengalaman dari empat kabupaten sasaran juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi wilayah lain dalam mengembangkan intervensi sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Peternakan ayam petelur, salah satu program penguatan pangan bergizi untuk pencegahan stanting (ANTARA/HO-PASTI) Pengelolaan kebun gizi dan peternakan ayam petelur, misalnya, memperlihatkan bagaimana keterlibatan masyarakat dapat membantu mendekatkan akses terhadap pangan bergizi. Sementara itu, penguatan TPPS desa menunjukkan pentingnya koordinasi dan dukungan pendanaan agar kegiatan pencegahan stunting dapat terus berjalan.
Upaya penurunan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat hanya mengandalkan intervensi sektor kesehatan. Dukungan sektor pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pemerintah desa, keluarga, hingga kelompok remaja diperlukan untuk membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui penyerahan dokumen pembelajaran dan praktik baik tersebut, Program PASTI berharap pengalaman selama hampir empat tahun dapat terus dimanfaatkan pemerintah daerah dan masyarakat.
Dengan demikian, berbagai inisiatif yang telah tumbuh di desa tidak berhenti ketika program berakhir, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi sesuai kebutuhan wilayah.
Keberlanjutan menjadi kunci agar upaya yang telah dibangun bersama dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus memperkuat pencegahan stunting di Kalbar.
Baca juga: Melihat MBG sebagai mesin pemerataan ekonomi
Baca juga: MBG: Investasi strategis tingkatkan mutu SDM Indonesia
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mendekatkan sumber pangan bergizi kepada keluarga, terutama yang memiliki anak balita. Warga bisa lebih mudah memperoleh telur dan sayuran tanpa harus pergi jauh untuk berbelanja ke Pontianak.
Menurut Sarini, kegiatan itu bukan sekadar aktivitas ekonomi masyarakat, melainkan juga bagian dari upaya bersama mencegah masalah gizi anak sejak dini.
"Meskipun tanggung jawab ini membuat hari-hari saya menjadi lebih sibuk, saya melihat manfaatnya bagi desa. Kini warga desa dapat membeli sayuran dan telur langsung dari kami tanpa harus pergi jauh ke Pontianak. Kini, kasus balita yang tidak naik berat badan selama tiga bulan berturut-turut sudah tidak lagi kami temui di Kubu Raya," kata Sarini pada 3 November 2026.
Inovasi yang dikelola masyarakat tersebut menjadi salah satu praktik baik pelaksanaan Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) di Kalbar. Program ini mengembangkan pendekatan berbasis masyarakat dengan melibatkan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan hingga tingkat desa.
Baca juga: Mengubah ingatan iklan menjadi kesadaran gizi keluarga
Upayanya tidak hanya berfokus pada penanganan masalah gizi anak, tetapi juga meningkatkan kesadaran keluarga, memperluas pengetahuan remaja, serta memperkuat kelembagaan desa agar pencegahan stunting dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Program PASTI merupakan kemitraan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk melalui inisiatif Bakti BCA. Pelaksanaannya dilakukan oleh Yayasan Wahana Visi Indonesia di empat kabupaten prioritas: Sambas, Bengkayang, Sekadau, dan Kubu Raya.
Selama periode Januari 2023 hingga Oktober 2026, program tersebut menjalankan tiga pendekatan utama untuk mendukung percepatan penurunan stunting di wilayah sasaran.
Pendekatan pertama diarahkan pada peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan serta gizi berbasis masyarakat, terutama bagi keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.
Salah satu bentuk intervensinya adalah Pos Gizi DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting). Melalui kegiatan tersebut, lebih dari 3.000 anak di bawah dua tahun (baduta) berisiko stunting telah mengikuti intervensi di Kalbar. Dari jumlah tersebut, 60,4 persen anak yang mengikuti program secara lengkap mengalami kenaikan berat badan hingga mencapai kategori pertumbuhan normal.
Capaian tersebut memperlihatkan pentingnya pendampingan dan pemantauan pertumbuhan anak secara berkelanjutan. Keterlibatan keluarga dan masyarakat juga diperlukan untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi.
Pendekatan kedua menyasar kelompok remaja. Program PASTI menjangkau lebih dari 4.000 remaja berusia 15–19 tahun untuk meningkatkan pengetahuan tentang stunting dan praktik pemenuhan gizi yang baik.
Dari kelompok tersebut, 416 remaja mendapatkan pelatihan sebagai pendidik sebaya (peer educator). Mereka diharapkan menjadi penggerak penyebaran informasi kesehatan dan gizi di lingkungan pergaulan masing-masing, baik di tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desa.
Pelibatan remaja merupakan bagian dari upaya pencegahan jangka panjang. Pengetahuan tentang gizi dan kesehatan sejak usia muda diharapkan membentuk kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat sekaligus mempersiapkan kehidupan keluarga yang lebih sehat pada masa mendatang.
Pendekatan ketiga diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan dan tata kelola kolaboratif melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Baca juga: Tahan pangan dan tahan gizi
Dalam pelaksanaannya, Program PASTI mendorong TPPS desa agar tidak hanya berfungsi sebagai struktur kelembagaan, tetapi juga aktif berkoordinasi dan menggelar pertemuan rutin untuk memastikan berbagai intervensi berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kinerja TPPS desa meningkat dari 42,5 persen (51 dari 120 desa) pada 2025 menjadi 59,2 persen (71 dari 120 desa) pada 2026.
Selain itu, 50 dari 120 TPPS desa telah didorong menganggarkan pertemuan rutin menggunakan sumber pendanaan mandiri, seperti dana desa dan sumber pendanaan lokal lainnya. Sepanjang 2025–2026, 484 anggota TPPS juga mendapatkan pelatihan untuk memperkuat kapasitas dalam menjalankan tugas dan koordinasi.
Stunting Kalbar
Berdasarkan data aplikasi Sigizi Kesga Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, prevalensi stunting di daerah itu menunjukkan tren penurunan. Pada triwulan I 2026, angkanya tercatat 13,56 persen, lebih rendah dibandingkan dengan 14,03 persen pada 2025 dan 14,04 persen pada 2024.
Di Kabupaten Kubu Raya, prevalensi stunting tercatat 9,4 persen. Berdasarkan data pemerintah kabupaten, dari 36.797 balita yang telah diukur, 3.446 di antaranya mengalami stunting.
Sebaran kasus di sembilan kecamatan menunjukkan angka yang bervariasi. Kecamatan Sungai Ambawang mencatat prevalensi tertinggi sebesar 19,6 persen, disusul Teluk Pakedai 14 persen dan Batu Ampar 10,6 persen.
Perbedaan prevalensi antarkecamatan tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Menjaga keberlanjutan
Memasuki Oktober 2026, Program PASTI mencapai bulan ke-46 sekaligus mengakhiri periode pelaksanaannya. Namun, berakhirnya program tidak berarti kegiatan dan pembelajaran yang telah dibangun harus berhenti.
Baca juga: Tantangan memenuhi gizi anak setelah lepas ASI
Keberlanjutan menjadi perhatian utama melalui penyerahan dokumen pembelajaran dan praktik baik kepada Pemerintah Provinsi Kalbar pada 3 November 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian, berbagi pengalaman, serta menyelaraskan komitmen pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam melanjutkan inisiatif yang telah berjalan.
Penyerahan dokumen itu melibatkan perwakilan BKKBN Kalbar, perangkat daerah tingkat provinsi, dan Yayasan Wahana Visi Indonesia.
Dokumen yang diserahkan mencakup modul, buku hasil refleksi, serta dokumentasi praktik baik selama pelaksanaan program. Materi tersebut diharapkan menjadi sumber pengetahuan dan referensi bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan pembelajaran program ke dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sesuai kewenangan masing-masing.
Pengalaman dari empat kabupaten sasaran juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi wilayah lain dalam mengembangkan intervensi sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Peternakan ayam petelur, salah satu program penguatan pangan bergizi untuk pencegahan stanting (ANTARA/HO-PASTI) Pengelolaan kebun gizi dan peternakan ayam petelur, misalnya, memperlihatkan bagaimana keterlibatan masyarakat dapat membantu mendekatkan akses terhadap pangan bergizi. Sementara itu, penguatan TPPS desa menunjukkan pentingnya koordinasi dan dukungan pendanaan agar kegiatan pencegahan stunting dapat terus berjalan.
Upaya penurunan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat hanya mengandalkan intervensi sektor kesehatan. Dukungan sektor pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pemerintah desa, keluarga, hingga kelompok remaja diperlukan untuk membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui penyerahan dokumen pembelajaran dan praktik baik tersebut, Program PASTI berharap pengalaman selama hampir empat tahun dapat terus dimanfaatkan pemerintah daerah dan masyarakat.
Dengan demikian, berbagai inisiatif yang telah tumbuh di desa tidak berhenti ketika program berakhir, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi sesuai kebutuhan wilayah.
Keberlanjutan menjadi kunci agar upaya yang telah dibangun bersama dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus memperkuat pencegahan stunting di Kalbar.
Baca juga: Melihat MBG sebagai mesin pemerataan ekonomi
Baca juga: MBG: Investasi strategis tingkatkan mutu SDM Indonesia






Komentar (0)