jakarta.jpnn.com - Pakar pendidikan Ki Darmaningtyas menilai akar persoalan anak terpapar radikalisme berawal dari rapuhnya fondasi sosial di tingkat keluarga.
Dia menyebut perilaku main hakim sendiri tidak terlepas dari bentukan dalam keluarga.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Mendadak Panggil Menteri dan Pejabat ke Istana
"Anak-anak yang tumbuh tanpa keharmonisan keluarga cenderung lebih mudah untuk kehilangan arah atau pegangan hidup," kata Ki Darmaningtyas.
Dia menjelaskan anak-anak seperti itu kemudian mengalami kegelisahan di dalam bersikap dan bertindak.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Mencurigai Perusahaan Asing Penyebab Karhutla
Kondisi itu secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka.
"Ketika mereka mengalami krisis kasih sayang, dia cenderung akan mudah meluapkan emosinya dalam tindakan-tindakan sepihak untuk melakukan kekerasan terhadap sesamanya," jelas Darmaningtyas.
BACA JUGA: 2 Tahun Prabowo-Gibran, Fondasi Ekonomi Menguat, Investasi Terus Tumbuh
Dia menjelaskan, 50 persen pembentukan karakter anak berasal dari keluarga, 30 persen dari sekolah, dan 20 persen dari lingkungan pergaulan. Ketika fondasi keluarga rapuh, anak cenderung mengalami masalah psikologis.
"Kalau kita lihat, ini pengalaman saya pribadi dan pengalaman teman yang mengelola SDM cukup banyak, ada kerentanan psikis pada anak milenial dan Gen Z, apalagi generasi Alfa. Tantangannya makin banyak, tapi peletakan dasar dari keluarga semakin minim. Itu berpengaruh terhadap perilaku main hakim sendiri," katanya.
Menurutnya, penyebaran paham radikal dan intoleran di era digital juga diperparah obsesi anak muda terhadap perhatian instan di media sosial.
Ketika tindakan destruktif mendapat sorotan luas, hal itu sering disalahartikan sebagai prestasi atau pencapaian eksistensi diri.
"Tindakan main hakim atau ekstremisme itu ternyata dianggap bisa mengangkat diri si pelaku agar menjadi viral atau terkenal. Tindakan vigilantisme atau main hakim sendiri menjadi populer di kalangan para pelaku karena mereka merasa belum tentu akan mendapatkan hukuman yang setimpal, bisa jadi dia malah happy karena perbuatan jahatnya itu dicita-citakan sebagai obsesi untuk mendapat perhatian orang banyak," ungkapnya.
Fenomena pamer perilaku menyimpang di ruang digital, lanjutnya, membuat pelaku merasa bebas dari rasa bersalah karena tujuan psikologis untuk mendapat atensi publik telah terpenuhi secara instan.
Ki Darmaningtyas menegaskan, upaya menangkal radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya dibebankan kepada negara tanpa dukungan ekosistem pendidikan yang kuat.
Ketika disinggung peran pemerintah, khususnya BNPT, dia menilai perlu edukasi publik yang berkesinambungan, bukan sekadar penyuluhan sesekali.
"Kegiatan penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan melalui pendidikan publik, bukan sekadar penyuluhan sekali dua kali, agar masyarakat selalu diingatkan dan memiliki daya tahan terhadap pandangan sempit," ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya pendekatan dialogis dalam meredam radikalisme berkedok agama yang rentan menyebar di kalangan anak muda.
"Kalau sudah menyangkut pandangan yang sempit dalam hal keagamaan, penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus melalui edukasi, dialog, dan adu argumen sampai orang itu punya kesadaran bahwa dirinya keliru, meskipun itu memerlukan waktu, energi, dan biaya yang besar," imbuhnya.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, ketahanan keluarga menjadi benteng utama. Orang tua diingatkan untuk kembali mengambil peran edukasi secara langsung dan membatasi ketergantungan anak pada gawai yang kerap merenggangkan relasi emosional di rumah.
Dia menyebut pembatasan gawai sudah banyak diterapkan di negara maju karena ada relasi antara intensitas penggunaan gawai dengan kecenderungan kekerasan pada anak dan remaja.
Keluarga harus menjadi tempat utama anak mendapatkan validasi, bukan gawai.
"Karakter anak itu lima puluh persen terbangun di lingkungan keluarga, sehingga keluarga harus menjaga keutuhan dan menghindari pola asuh yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada HP, karena hal itu tidak hanya merusak relasi dan saraf anak, melainkan juga melahirkan generasi yang rentan terpapar paham radikal di masa depan," katanya. (*)
Redaktur & Reporter : Ragil





Komentar (0)