Jakarta, VIVA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (3/11/2026) sore. Mata uang Garuda terkoreksi 7 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp18.156 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.152 per dolar AS.
Pergerakan rupiah sempat menunjukkan penguatan sebesar 4 poin sebelum akhirnya berbalik melemah pada penutupan perdagangan sore ini.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Indonesia Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (4/11/2026).
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.160 - Rp18.210," ujar Ibrahim dalam analisis tertulisnya.
Sementara itu, pada perdagangan sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS.
Menurut analisanya, salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dia menyoroti laporan Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat AS mengenai serangan militer Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm milik Iran.
"Beberapa pejabat tersebut menjelaskan bahwa serangan itu bersifat defensif, bertujuan untuk mencegah Iran memiliki keleluasaan dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," katanya.
Di sisi lain, peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi masih terbuka. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan keraguan mengenai kelanjutan ancaman serangan militer terhadap Iran dan membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Komunikasi antara kedua negara juga masih berlangsung. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai.
Selain konflik Timur Tengah, perkembangan perang Rusia-Ukraina turut menjadi perhatian pasar. Amerika Serikat berencana mempertemukan delegasi Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10-11 November mendatang untuk membahas penghentian perang, kesepakatan keamanan pascaperang, serta upaya meredakan ketegangan.
Ibrahim mengatakan, pelaku pasar juga mencermati pelaksanaan pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat pada 3 November 2026.
Selain perkembangan politik AS, serangkaian data ekonomi Amerika akan menjadi perhatian investor untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).






Komentar (0)