Gangguan KRL Bogor Line Berulang, Armada Makin Tertekan

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Penumpukan penumpang kereta rel listrik atau KRL Commuter Line rute Jakarta-Bogor terjadi di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (30/10/2026) sore. Situasi itu terjadi setelah rangkaian KRL KA 1374F relasi Jakarta Kota-Bogor hanya melayani perjalanan hingga Stasiun Manggarai untuk proses pertukaran rangkaian. Rangkaian sebelumnya kemudian dibawa ke Depo Bukit Duri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Melalui akun media sosialnya, KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan akibat proses pergantian rangkaian tersebut. Sejumlah penumpang juga menyampaikan keluhan melalui media sosial.

Seorang penumpang mengeluh melalui platform X karena tiba-tiba diminta turun dari kereta saat membawa barang bawaan berat. ”Pantas saja tiba-tiba diusir, mana lagi bawa tas berat,” kata pemilik akun @R**a*d*a*.

Sementara itu, melalui platform Threads, penumpang lain mengaku kebingungan karena kereta yang semula menuju Bogor tiba-tiba hanya berakhir di Stasiun Manggarai. ”Naik KRL dari Stasiun Jakarta Kota tujuan Bogor tapi tiba-tiba ada info keretanya sampai Manggarai aja. Maksudnya, kok bisa sih, ini kan tujuan Bogor loh. Akhirnya rusuh deh di Manggarai,” kata pemilik akun @i*i*t*u*i.

Keluhan juga disampaikan pemilik akun @r*a_*e*p yang menyoroti kondisi Peron 12 Stasiun Manggarai yang penuh sesak akibat kejadian tersebut.

Persoalan keterbatasan armada tidak boleh dibiarkan karena akan sangat merugikan mobilitas dan kenyamanan masyarakat pengguna kereta api.

Menanggapi peristiwa tersebut, Manajer Public Relations KAI Commuter Leza Arlan mengatakan, pertukaran rangkaian dilakukan karena terdapat kendala teknis pada rangkaian sebelumnya sehingga perlu diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut.

Dihubungi secara terpisah, Vice President Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menjelaskan, pertukaran rangkaian dilakukan untuk dua keperluan, yakni perawatan rutin dan penggantian rangkaian yang mengalami kendala operasional.

Pertukaran rangkaian yang dilakukan di salah satu lintasan Jakarta Kota-Bogor telah direncanakan dan merupakan bagian dari kegiatan rutin.

Baca Juga10 Perjalanan KRL Bogor-Jakarta Dibatalkan, KAI Desak INKA Tangani hingga Akar Masalah

Sementara skema pertukaran rangkaian lainnya dilakukan ketika dalam operasional perjalanan Commuter Line terjadi kendala. KAI Commuter akan mengganti rangkaian yang mengalami gangguan dengan rangkaian cadangan yang telah disiapkan.

Rangkaian cadangan tersebut telah melewati pemeriksaan akhir dan dinyatakan siap beroperasi.

Menurut Karina, pertukaran rangkaian tidak seharusnya mengurangi jumlah perjalanan KRL selama rangkaian cadangan tersedia. Pengurangan perjalanan hanya dilakukan apabila tidak ada rangkaian cadangan yang siap dioperasikan.

”Pengurangan dengan terpaksa dilakukan ketika rangkaian cadangan yang siap dioperasikan tidak tersedia pada saat terjadi kendala operasional,” kata Karina kepada Kompas, Senin (2/11/2026).

Gangguan berulang

Gangguan operasional KRL lintas Bogor juga terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir. KAI Commuter bahkan sempat mengurangi sejumlah perjalanan KRL relasi Bogor-Jakarta Kota dan rute terkait pada 7-30 September 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mendukung perawatan rangkaian kereta, termasuk rangkaian yang mengalami anjlok pada 4 September 2026.

Saat itu, KRL KA 1203 relasi Bogor-Jakarta Kota anjlok ketika hendak memasuki jalur 9 Stasiun Jakarta Kota pada pagi hari. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Namun, operasional kereta di stasiun tersebut sempat terganggu karena jalur 9 tidak dapat digunakan. KAI Commuter kemudian melakukan rekayasa pola operasi dengan membatasi sementara perjalanan KRL relasi Bogor hingga Stasiun Jayakarta dan Manggarai.

Pada hari yang sama, rangkaian yang mengalami anjlok tersebut kembali anjlok di jalur 7 Stasiun Manggarai pada siang hari. Saat itu, kereta tengah dalam perjalanan menuju Balai Yasa Manggarai untuk menjalani perawatan.

Gangguan berikutnya terjadi pada Jumat (9/10/2026). KRL INKA KA 1382 relasi Jakarta Kota-Bogor mengalami gangguan pintu di Stasiun Tanjung Barat. Akibatnya, sembilan perjalanan KRL relasi Jakarta Kota-Bogor dan Jakarta Kota-Nambo mengalami keterlambatan selama 9-32 menit.

Lima hari kemudian, gangguan pintu kembali terjadi pada rangkaian yang sama di Stasiun Cikini, Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 18.30 WIB.

Pintu kereta tidak dapat tertutup sehingga petugas berkoordinasi dengan teknisi PT Industri Kereta Api (INKA) untuk melakukan perbaikan. Perbaikan dilakukan saat kereta tiba di Stasiun Manggarai.

Namun, karena pintu belum berhasil diperbaiki, petugas mengunci pintu yang bermasalah dan melakukan pengawalan selama kereta melanjutkan perjalanan.

Baca JugaKRL Bogor dan Transjakarta Terganggu, Perjalanan Senin Pagi di Jakarta Makin Padat

Terbaru, gangguan operasional kembali terjadi akibat percikan api pada pantograf, yakni alat di atap KRL yang berfungsi menangkap aliran listrik, pada salah satu kereta Commuter Line nomor 1378 relasi Jakarta Kota-Bogor.

Peristiwa itu terjadi di jalur 10 Stasiun Jakarta Kota, Selasa (27/10/2026), sekitar pukul 17.52 WIB. Sebagai penanganan awal, KAI Commuter mengalihkan pengguna KA 1378 ke KA 1380 relasi Jakarta Kota-Bogor yang berangkat dari jalur 11 Stasiun Jakarta Kota.

Kapasitas armada terbatas

Rentetan gangguan tersebut perlu menjadi perhatian mengingat lintas Bogor merupakan salah satu jalur dengan tingkat kepadatan penumpang yang tinggi. Berdasarkan data KAI Commuter yang diberikan kepada Kompas, selama Oktober 2026, tingkat okupansi tertinggi KRL lintas Bogor mencapai 170 persen pada jam sibuk pagi pukul 05.30-06.30 WIB. Adapun pada jam sibuk sore pukul 17.00-18.00 WIB, tingkat okupansi mencapai 173 persen.

Tingginya okupansi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan KRL lintas Bogor. Dalam kondisi kapasitas angkut yang sudah padat, gangguan operasional maupun pertukaran rangkaian berpotensi semakin menambah ketidaknyamanan penumpang, terutama ketika mereka harus berpindah kereta atau menunggu perjalanan berikutnya.

Terkait gangguan dan pertukaran rangkaian di tengah kepadatan pengguna KRL, Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana menilai, tantangan utama KRL Jabodetabek saat ini adalah keterbatasan jumlah dan keandalan rangkaian kereta.

Menurut dia, keterbatasan jumlah kereta dapat terjadi karena penambahan rangkaian baru terlambat.

Meski demikian, kedatangan rangkaian baru belum tentu menambah kapasitas angkut secara signifikan. Sebab, sebagian pengadaan tersebut lebih banyak ditujukan untuk menggantikan kereta lama yang sudah berusia tua dan seharusnya tidak lagi dioperasikan.

”Keandalan kereta menurun karena ada kereta yang sudah berusia tua. Kereta yang baru pun masih memiliki kendala operasional, sementara pertumbuhan volume pengguna dan peningkatan mobilitas masyarakat terus meningkat,” kata Aditya.

Aditya mencontohkan, rangkaian KRL yang telah berusia lebih dari 40 tahun sejak pertama kali beroperasi di Jepang perlu dipertimbangkan untuk dihentikan operasionalnya. Salah satunya adalah KRL seri TM 6000.

Meski demikian, rangkaian tua masih dapat dipertahankan melalui peremajaan atau retrofit apabila dinilai memungkinkan.

Salah satu upaya peremajaan dilakukan terhadap dua rangkaian KRL seri TM 05 yang saat ini dikerjakan di PT INKA. Namun, rangkaian hasil peremajaan tersebut juga masih menghadapi kendala operasional.

Sementara itu, KRL seri JR 205 dan KfW seri 9000 dinilai masih memiliki masa operasional yang relatif lebih panjang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Aditya menilai, pemerintah perlu mengizinkan impor KRL bekas secara terbatas dalam jangka pendek sebagai solusi transisi hingga industri perkeretaapian dalam negeri siap memenuhi kebutuhan armada.

Bersamaan dengan itu, pemerintah perlu memperkuat kapasitas produksi PT INKA melalui dukungan riset dan pengembangan, alih teknologi, serta pendanaan dan permodalan.

Dalam jangka panjang, pemerintah perlu menyusun Peta Jalan Pengembangan Sarana dan Teknologi Perkeretaapian yang melibatkan lintas kelembagaan yang dapat menggambarkan kebutuhan, pembiayaan, serta rencana pemenuhan sarana perkeretaapian nasional serta mendukung kemandirian industri perkeretaapian dalam negeri.

Menurut Aditya, peta jalan tersebut harus melibatkan Kementerian Perhubungan, Danantara, Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara, KAI, INKA dan operator KA lain, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BRIN, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kementerian Keuangan. ”Persoalan keterbatasan armada tidak boleh dibiarkan karena akan sangat merugikan mobilitas dan kenyamanan masyarakat pengguna kereta api,” ujar Aditya.

Lebih baik impor

Di sisi lain, pengamat transportasi dari Inisiatif Strategis Transportasi (Instran), Deddy Herlambang, menilai, pengadaan KRL bekas dari Jepang dapat menjadi solusi yang lebih cepat untuk mengatasi keterbatasan armada.

Menurut dia, impor KRL bekas relatif lebih cepat dan murah dibandingkan dengan pengadaan rangkaian baru dari dalam negeri. ”Langkah ini lebih realistis untuk mendahulukan kepentingan pelayanan publik,” kata Deddy.

Deddy mengatakan, perawatan KRL yang dilakukan saat ini masih tergolong baik. Namun, keandalan atau reliabilitas sejumlah KRL baru produksi PT INKA masih perlu dievaluasi.

Evaluasi penting dilakukan agar rangkaian baru yang dioperasikan tidak justru menimbulkan persoalan dalam operasional perjalanan KRL.

Menurut Deddy, pasokan armada KRL saat ini turut terkendala karena pengadaan rangkaian baru dari INKA belum sepenuhnya rampung, sementara impor KRL bekas belum diizinkan.

Padahal, pengadaan KRL bekas dari Jepang dinilai dapat dilakukan lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan armada.

Ia menilai, KAI Commuter perlu mempertimbangkan kembali impor KRL bekas sebagai langkah mendesak untuk menjaga kecukupan armada dan frekuensi perjalanan.

Sementara itu, pengadaan KRL baru dari dalam negeri tetap dapat dilanjutkan dengan memastikan keandalan rangkaian sebelum dioperasikan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Projo hingga Gibranisti Bocorkan Sasaran Utama di Balik Polemik Ijazah Gibran: Bukan Suara Kami
• 22 jam lalu
0
thumb
KSTI 2026 Digelar 10-13 November di ITS, Pamerkan 490 Produk Riset
• 12 jam lalu
0
thumb
Fajar Sadboy Kelilit Pinjol di Pay Later 2, Sampai Berantem dengan Amanda Manopo di Atas Genteng
• 13 jam lalu
0
thumb
Gameweek 3 IWL: Persija Kalah Lagi, Dewa Makin Kokoh di Puncak
• 21 jam lalu
0
thumb
Laba Usaha Repower Asia (REAL) Melonjak 626 Persen hingga Kuartal III-2026
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.