Sebanyak 12 santriwati dan empat ustazah dari Pondok Pesantren Hamalatul Quran di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sempat dibawa ke kantor polisi setelah penggeledahan pada Selasa (27/10/2026) dini hari. Mereka diperiksa sebagai saksi terkait kasus pembakaran dan perusakan warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Sukoharjo.
Sekretaris Pondok Pesantren, Diyana Indah Sari, menjelaskan para santriwati dan ustazah tersebut awalnya dibawa ke Polsek Mojolaban untuk menjalani pemeriksaan. Mereka kemudian dipindahkan ke Polres Sukoharjo guna menjalani interogasi lanjutan.
“Untuk kronologi kejadiannya, ini berawal dari pukul 03.20 WIB. Pukul 03.51 WIB, para santriwati dibawa ke Polsek Mojolaban untuk diinterogasi. Sekitar pukul 10.00 atau sebelumnya, para santriwati dipindahkan ke Polres Sukoharjo untuk menjalani interogasi lanjutan,” ujar Diyana, Kamis (29/10/2026).
Menurut Diyana, pemeriksaan tersebut dilakukan karena adanya dugaan pengurus mahad atau santriwati terlibat dalam pembakaran warung mi babi di Sukoharjo. Namun, setelah pemeriksaan berlangsung, pihak ponpes menyatakan tidak ditemukan bukti keterlibatan mereka dalam perkara tersebut.
“Penggerebekan dilakukan karena adanya dugaan bahwa pengurus mahad atau santriwati terlibat dalam pembakaran warung mi babi di Sukoharjo,” ungkapnya.
Sementara itu, Polri menjelaskan penggeledahan tersebut merupakan bagian dari penyidikan kasus pembakaran, ancaman, dan perusakan di Desa Parangjoro pada 12 September 2026.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir mengatakan penyidik sebelumnya telah mengamankan seorang tersangka berinisial S dan kemudian mencari seseorang berinisial I yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut.
Baca Juga: PKS Desak Kapolda Jateng Dicopot Buntut Intimidasi Santri Ponpes Sukoharjo
Isir menyebut Polda Jawa Tengah telah melibatkan Polisi Wanita (Polwan) dalam kegiatan di lokasi yang ditempati sejumlah santri perempuan. Pelaksanaan kegiatan tersebut juga disertai pendampingan dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Sukoharjo.
Setelah proses pemeriksaan selesai, para santri dipulangkan kepada orang tua atau wali masing-masing pada hari yang sama. Polri juga menyampaikan empati kepada para santri, orang tua, dan keluarga yang terdampak penggeledahan.
Isir mengakui peristiwa yang berlangsung dini hari tersebut dapat meninggalkan rasa takut, terutama bagi anak-anak dan perempuan yang berada di lokasi.
“Polri memahami bahwa peristiwa dini hari itu meninggalkan rasa takut, khususnya bagi anak-anak dan perempuan yang berada di lokasi,” ujar Isir dalam siaran pers, Minggu (1/11/2026).






Komentar (0)