Guru dan Orang Tua Diminta Bersinergi Cegah Perundungan di Sekolah Surabaya

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya memperkuat pencegahan perundungan di lingkungan sekolah, mulai jenjang SD hingga SMP. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong komunikasi rutin antara guru dan orang tua untuk mengenali perubahan perilaku anak sejak dini.

Febrina Kusumawati Kepala Dispendik Surabaya mengatakan, pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi, tetapi perlu dibangun lewat pembiasaan perilaku positif dalam keseharian peserta didik.

Penguatan pendidikan karakter melalui program Sekolahe Arek Suroboyo menjadi salah satu upaya untuk menanamkan sikap saling menghargai, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.

“Anak-anak tidak cukup hanya diberi pemahaman tentang pendidikan karakter, tetapi juga perlu dibiasakan menerapkannya. Mereka harus belajar menghormati perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang baik. Dengan begitu, anak memahami bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat,” kata Febrina dalam keterangan resminya pada Senin (2/11/2026).

Menurutnya, pengawasan terhadap perkembangan anak tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Orang tua juga perlu menyampaikan perubahan perilaku yang terlihat ketika anak berada di rumah.

Karena itu, komunikasi guru dan wali murid perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya saat pembagian rapor.

Jika ditemukan perubahan perilaku, guru kelas maupun guru Bimbingan Konseling (BK) diharapkan segera menghubungi orang tua untuk membahas kondisi anak.

“Kalau ada perubahan perilaku anak, jangan menunggu sampai pembagian rapor. Guru kelas maupun guru BK bisa segera berkomunikasi dengan orang tua untuk membicarakan kondisi anak. Bisa melalui telepon, pesan singkat, atau bertemu langsung. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa lebih cepat memahami situasi dan menentukan langkah pendampingan yang tepat,” ujarnya.

Dispendik Surabaya mengoptimalkan peran 3.856 guru kelas dan 283 guru BK untuk mendampingi perkembangan peserta didik.

Guru dapat mengamati interaksi anak selama di sekolah, sementara orang tua memberikan informasi mengenai perilaku anak di rumah.

Pertukaran informasi tersebut diharapkan membantu sekolah dan keluarga mengenali kebutuhan anak sekaligus mencegah persoalan berkembang lebih jauh.

Febrina juga menyoroti pentingnya pendampingan pada jenjang SD. Pada usia tersebut, anak masih mengembangkan kemampuan sosial dan emosional sehingga membutuhkan arahan untuk memahami batasan perilaku, membangun pertemanan yang sehat, serta menyikapi perbedaan dengan teman sebaya.

“Anak usia SD memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sedang belajar memahami lingkungan sosialnya. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan yang konsisten, baik dari guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Keduanya harus berjalan bersama agar anak mendapatkan pemahaman dan contoh perilaku yang baik,” pungkasnya. (saf/ipg)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KSAD Jenderal Tandyo Terima KSAD Australia, Bahas Kerja Sama Militer
• 3 jam lalu
0
thumb
Garudayaksa FC Hajar PSS Sleman, Andik Vermansah Comeback usai Dihantam Cedera
• 13 jam lalu
0
thumb
Tergiur Untung Harian hingga Bulanan, 99 Orang Malah Kehilangan Rp5,7 Miliar
• 5 jam lalu
0
thumb
Fakta Baru Kasus Balita Tewas di Kebayoran Lama: Alami Kekerasan Berulang dan Gizi Buruk
• 4 jam lalu
0
thumb
Tiket Kereta Api Nataru 2026/2027 Mulai Dijual 1 Desember, Cek Cara Pesannya di Sini
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.