Ekonomi Tumbuh 5,29%, Mengapa Masyarakat Justru Makin Sulit Belanja?

wartaekonomi.co.id
8 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti tekanan daya beli rumah tangga di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan pada triwulan II 2026. Sejumlah indikator, mulai dari stagnasi penjualan ritel, pelemahan kredit konsumsi, hingga penurunan saldo rekening kecil, menunjukkan ruang belanja masyarakat yang semakin terbatas.

Dalam laporan berjudul Daya Beli di Persimpangan: Antara Inflasi, Upah, dan Tekanan Rumah Tangga edisi Oktober 2026, INDEF mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% pada triwulan II 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Kondisi tersebut telah berlangsung selama lima kuartal berturut-turut.

Porsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB juga turun dari 54,25% menjadi 53,31% pada triwulan II 2026.

“Penjualan ritel nyaris tidak pulih sejak April, mengindikasikan permintaan kehilangan tenaga, bukan sekadar berpindah kanal,” tulis laporan tersebut, Senin (2/11/2026).

Setelah melonjak secara musiman pada Maret dan terkoreksi lebih dari 11% pada April, pertumbuhan penjualan ritel bulanan pada Mei hingga Agustus bergerak di kisaran minus 1% hingga plus 1%. Bank Indonesia bahkan memperkirakan penjualan ritel mengalami kontraksi 2,30% pada September 2026.

Menurut laporan INDEF, pola tersebut mengindikasikan belanja rumah tangga belum kembali seperti biasa setelah puncak konsumsi Lebaran. Pengeluaran dilakukan secara lebih terbatas, bahkan kebutuhan harian seperti makanan dan minuman turut mengalami tekanan.

Pelemahan daya beli juga tercermin dari indikator kredit konsumsi. INDEF mencatat indeks kredit konsumsi turun dari 3,28 pada kuartal IV 2025 menjadi 1,92 pada kuartal II 2026. Pada kuartal III 2026, indeks tersebut masuk zona negatif di level minus 0,05.

Tekanan lainnya terlihat pada saldo rata-rata rekening masyarakat dalam kelompok nominal hingga Rp100 juta. Berdasarkan laporan tersebut, saldo rata-rata rekening turun dari Rp3,09 juta pada 2018 menjadi Rp1,74 juta pada 2025.

Baca Juga: Strategi Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Baca Juga: Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%, Rosan Bidik Investasi Rp13.000 T

Pada Agustus 2026, saldo rata-rata tersebut kembali menyusut menjadi Rp1,66 juta, terendah selama periode pengamatan laporan.

“Penurunan yang berulang selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa tabungan rumah tangga berpenghasilan rendah kian tergerus dan simpanan yang dulu cukup menutup kebutuhan beberapa pekan, kini lebih cepat habis oleh satu kali biaya berobat atau uang masuk sekolah,” tulis INDEF.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BPS Catat Nilai Tukar Petani Naik 1,13 Persen pada Oktober 2026, Hortikultura Melonjak Tertinggi
• 11 jam lalu
0
thumb
[FULL] Banjir Terjang Aceh dan Lumajang, BNPB Ungkap Langkah Penanganan Bencana di Musim Hujan
• 9 jam lalu
0
thumb
BMKG Prediksi Hujan Guyur Sejumlah Kota Besok 3 November 2026, Ini Daftarnya
• 9 jam lalu
0
thumb
Mensos Ajak RT-RW Perbaiki Data Penerima Bansos, Begini Cara Masyarakat Ajukan Usulan
• 22 jam lalu
0
thumb
Terketuk Kondisi Mak Een, Bupati Jeje Turun Tangan Bantu Wujudkan Rumah Layak di Bandung Barat
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.