Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta Danantara Indonesia tidak tergoda tawaran negara lain dalam menentukan tarif ekspor listrik. Hal ini menyusul proses perundingan ekspor listrik Indonesia ke Singapura yang masih berlangsung.
“Kalau harganya belum cocok, tidak bisa (ekspor). Karena itu saya minta Danantara tidak boleh mau mengikuti agar harga (ekspor listrik) bisa turun,” kata Bahlil saat ditemui di Istana Kepresidenan, Senin (2/11).
Saat ini, menurut dia, Kementerian ESDM telah menghitung skema ekspor listrik, termasuk menentukan harga yang sesuai dengan proposal yang diajukan. Bahlil mengatakan, rencana ekspor listrik tersebut dapat berlanjut jika kedua pihak mencapai kesepakatan harga.
“Kalau harganya tidak cocok, kami akan memprioritaskan untuk kebutuhan di dalam negeri, kebutuhan domestik,” ujarnya.
Bahlil sebelumnya enggan memberikan lampu hijau terhadap rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura. “Saya sudah mengumumkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik. Kita masih butuh listrik. Nggak ada (ekspor),” kata Bahlil saat memberikan sambutan pembukaan Minerba Convex di JIEXpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada (2/11).
Dia juga meminta Danantara menghentikan pembahasan maupun negosiasi terkait rencana ekspor listrik tersebut. Bahlil mengatakan, seluruh keputusan terkait perizinan ekspor listrik berada di bawah Kementerian ESDM.
“Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi. Nggak ada. Izin itu ada di Kementerian ESDM, bukan di Danantara,” ujarnya. Bahlil sebelumnya juga telah menyampaikan hal serupa dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM pada Senin (26/10).
Saat itu, Bahlil menyampaikan pemerintah belum berencana melakukan ekspor listrik ke negara lain, karena kebutuhan energi domestik masih tinggi. Dia mengatakan pasokan listrik yang ada saat ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, termasuk untuk menunjang industri pusat data atau data center yang diperkirakan membutuhkan pasokan hingga 20 gigawatt (GW).
“Indonesia sendiri masih butuh listrik. Data center kita butuh 20 gigawatt. Kurang market apa kita? Saya tetap akan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri dulu,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM pada Senin (26/10).





Komentar (0)