jpnn.com, JAKARTA - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai semakin strategis dalam kalkulasi politik nasional. Posisinya sebagai wakil presiden, tingkat pengenalan publik yang tinggi, serta peluang dalam kontestasi politik mendatang membuat Gibran tetap menjadi figur yang diperhitungkan, sekaligus menghadapi berbagai serangan politik.
Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia Chamad Hojin menilai dinamika tersebut tidak terlepas dari posisi Gibran dalam struktur kekuasaan dan prospek politiknya ke depan.
BACA JUGA: Agendra Gibran Hari Ini, Ada Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang
"Kekuatan seorang tokoh tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang sedang diemban, tetapi juga oleh daya tawarnya dalam perebutan kekuasaan berikutnya," ujar Chamad.
Dalam konteks tersebut, Gibran memiliki sejumlah modal politik yang membuat posisinya tetap relevan. Selain menjabat wakil presiden, Gibran mempunyai tingkat pengenalan publik yang luas dan masih masuk dalam bursa kandidat potensial untuk kontestasi mendatang.
BACA JUGA: Jansen Demokrat soal Putusan MA: Gibran Tidak Lagi Memenuhi Syarat Jadi Wapres
Namun, posisi tersebut juga menempatkan Gibran di tengah berbagai polemik, mulai dari persoalan administrasi pendidikan, rivalitas politik, hingga perdebatan mengenai latar belakang keluarganya.
Chamad menyoroti bagaimana kritik terhadap Gibran terlihat dominan dalam percakapan media sosial. Meski demikian, intensitas kritik di ruang digital tidak dapat langsung diartikan sebagai gambaran sikap mayoritas masyarakat.
BACA JUGA: Di depan Ilmuwan, Wapres Gibran Mengakui Soal Peta Jalan Inovasi Teknologi EV
Menurutnya, karakter media sosial yang mengutamakan interaksi membuat konten kontroversial dan perdebatan politik lebih mudah memperoleh perhatian.
“Suara yang terdengar paling keras di media sosial belum tentu mewakili mayoritas sesungguhnya,” tulis Chamad.
Di sisi lain, posisi Gibran dalam sejumlah survei memperlihatkan bahwa berbagai polemik yang mengiringinya tidak serta-merta menghilangkan peluang politiknya.
Survei SMRC pada 1–10 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gibran sebesar 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka 24 nama calon presiden. Hasil tersebut menempatkannya di posisi keempat.
Angka itu meningkat dibandingkan November 2025 sebesar 5,1 persen, Februari–Maret 2026 sebesar 6,8 persen, dan Juli 2026 sebesar 7,7 persen.
"Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Gibran tetap memiliki daya tawar politik di tengah berbagai kritik yang diarahkan kepadanya," tambahnya.
Chamad juga menyinggung bagaimana perhatian terhadap seorang tokoh politik tidak selalu berujung pada kerugian elektoral.
Serangan yang dimaksudkan untuk menurunkan citra seorang figur justru dapat memperluas pengenalan publik terhadap tokoh tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa meningkatnya perhatian publik tidak otomatis menghasilkan dukungan politik.
"Posisi strategis Gibran tetap harus diimbangi dengan pembuktian kinerja, kapasitas kepemimpinan, dan akuntabilitas sebagai wakil presiden," ujarnya
Dengan berbagai modal yang dimilikinya, Gibran dinilai akan tetap menjadi bagian penting dalam kalkulasi elite politik nasional.
Sementara itu, serangan dan kritik yang mengiringinya menjadi salah satu tantangan dalam membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan. (dil/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif





Komentar (0)