Ruang tumbuh dan berdaya pasien ODGJ di timur Jakarta

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Jalanan bising oleh riuh klakson, transportasi umum berjejal manusia, serta raut wajah lelah meski jam belum menyentuh sudut 90 derajat. Inilah paras ibu kota setiap pagi di hari kerja.

Ungkapan klise, seperti: setiap orang sedang bertarung dalam diamnya masing-masing, agaknya familiar dengan kehidupan masyarakat urban. Ada yang bangun setiap hari untuk mencari makan, ada pula yang masih berusaha menemukan keberdayaan.

Ritme hidup yang serba cepat membuat banyak orang rentan berhadapan dengan masalah mental. Tidak heran jika kesehatan mental menjadi topik hangat yang banyak berkembang belakangan.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 2 persen. Kesadaran generasi muda akan kesehatan mental, membuat praktik pergi ke psikolog tidak lagi tabu dibicarakan.

“Jika ada perubahan emosi dan perilaku berulang di luar kebiasaan, konsultasikan ke psikolog,” ujar seorang psikolog klinis Atharana Aliyya, .

Tekanan hidup yang kian tak terkendali melahirkan tren hidup melambat di kalangan anak muda. Jika gangguan mental ringan bisa ditangani dengan perubahan pola hidup serta bantuan medis, bagaimana dengan mereka yang telah didiagnosis gangguan jiwa berat?

Bagi pasien dengan kondisi gangguan jiwa berat, bangkit adalah satu kata sederhana yang terus diusahakan. Peran puskesmas sebagai fasilitas kesehatan terdekat di masyarakat menjadi hal yang krusial dalam menjangkau dan memulihkan masalah kesehatan mental.

Sebagai wilayah urban berpopulasi lebih dari 300 ribu jiwa, Kecamatan Cipayung memiliki masalah psikososial yang kompleks. Masalah itu, mulai dari disfungsi keluarga, hingga ketidakstabilan ekonomi.



Layanan jiwa puskesmas

Ada tiga lapis layanan yang diaktifkan oleh Puskesmas Cipayung untuk mengakomodir kebutuhan layanan kesehatan jiwa. Pertama, layanan di dalam gedung melalui Layanan Kesehatan Jiwa dan Layanan Konseling yang diaktifkan sejak 2018 untuk memperkuat garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Seorang pasien ODGJ (kanan) konsultasi dengan psikolog (kiri) di Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (23/10/2026). (ANTARA/Rina Nur Anggraini) Kedua, layanan luar gedung, skrining jiwa di posyandu, posbindu, dan kunjungan rumah untuk ODGJ berat dan penanganan kegawatdaruratan. Terakhir, layanan pemulihan berbasis rehabilitasi sosial melalui program Rumah Jiwa.

Layanan konseling bisa diakses Senin-Jumat, sedangkan Layanan Kesehatan Jiwa dibuka pada Selasa dan Kamis.

“Kami dilengkapi satu psikolog klinis, satu tenaga dokter umum tersertifikasi, dan satu perawat ahli,” ujar Kepala Puskesmas Cipayung Agung Dewanto.

Dalam satu hari, ada sekitar 10 hingga 15 pasien yang mengunjungi kedua layanan tersebut. Ini bukan hanya sekadar angka, namun ini menunjukkan bahwa penyakit mental sama gentingnya dengan penyakit fisik yang tampak.

Penanganan pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tidak berhenti di ruang-ruang layanan kesehatan jiwa. Pasien yang telah stabil menghadapi pekerjaan rumah baru, yakni menyalakan kembali harapan, berdaya, dan berdamai dengan kondisi mental.

​​​​​​​

Produktif

Puskesmas Cipayung menempatkan ODGJ sebagai subjek yang harus diberdayakan. Mereka yang telah stabil, diikutsertakan ke dalam program Rumah Jiwa.

Pasien ODGJ memanen pakcoy yang jadi salah satu program Rumah Jiwa Puskesmas Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (23/10/2026). (ANTARA/Rina Nur Anggraini) Ada beragam kegiatan di Rumah Jiwa yang menjadi bentuk terapi okupasi terpadu guna memulihkan fungsi psikologis pasien ODGJ. Rasa tanggung jawab, fokus, dan kesabaran, diajarkan kepada ODGJ dengan melibatkan mereka ke dalam kegiatan hidroponik dan budi daya ikan di kolam gizi.

Pengekspresian emosi dan pelatihan motorik halus diterapkan melalui bimbingan pembuatan batik tie-dye dan kerajinan decoupage.

“Awal masuk itu mereka menunjukkan sifat yang minoritas, seperti murung, banyak diam, tidak semangat, tapi setelah tiga hingga empat bulan mengikuti kegiatan ini, terlihat perubahannya menjadi lebih ceria, lebih mudah berbicara, dan juga bersemangat.” kata Kepala Puskesmas Cipayung Agung Dewanto.

Pemberdayaan bukan hanya tentang mengasah keterampilan, tapi juga membuka jalan bagi pasien ODGJ menuju kemandirian melalui bekal kewirausahaan. Mereka diajarkan membuat pangan olahan, seperti telur asin dan stik hidroponik.

Pasien ODGJ (kanan dan kiri) mengikuti pelatihan kerajinan tangan yang menjadi salah satu program Rumah Jiwa Puskesmas Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (23/10/2026). (ANTARA/Rina Nur Anggraini) Seluruh hasil pangan yang dikelola dan dikembangkan oleh mereka, mulai dari sayuran hidroponik, produk perikanan, dan produk olahan pangan, dijual di Puskesmas Cipayung melalui program Jumat Harapan.

Pasien ODGJ didampingi oleh caregiver memasarkan produk seraya berinteraksi dengan pembeli. Jumat Harapan tidak hanya menjadi wadah mereka membangun kemandirian finansial, namun turut membangun rasa percaya diri mereka untuk kembali ke tengah masyarakat.

Ada 30 pasien ODGJ yang bergabung ke dalam Rumah Jiwa. Salah satunya Ana (42), ibu dua anak yang pada 2016 didiagnosis skizofrenia.



Berdamai dengan skizofrenia

Tiga tahun setelah didiagnosis skizofrenia dan kondisinya mulai stabil, Ana bergabung ke Rumah Jiwa. Alasannya sederhana, ia hanya ingin produktif dan berdamai dengan penyakit mentalnya.

Saat ini Ana masih rutin minum obat setiap malam agar kondisinya tetap stabil. Emosinya kini memang telah terkontrol, suara-suara riuh yang dulu ada di kepalanya juga tak lagi terdengar. Namun, ada satu tugas yang setiap hari kukuh digenggamnya, ialah semangat untuk tetap berdaya.

Melalui Rumah Jiwa, Ana belajar membuat telur asin dari tahap paling dasar. Keterampilannya, kini meningkat sampai ia bisa memproduksi telur asin sendiri di rumah. Setiap dua minggu sekali, Ana membuat 150 butir telur asin yang dijual Rp5 ribu per butir ke para tetangga dan kenalannya.

Setiap proses pemulihan Ana tidak lepas dari dukungan keluarga. Kepercayaan diri yang kini ia miliki tidak lahir tanpa sokongan moral yang tak henti diterimanya dari suami, anak, dan orang tua.

“Saya semangat ada keluarga yang mendukung, produktivitas saya semakin meningkat,” ucap Ana, sambil tersenyum.

Ana menjadi salah satu bukti nyata bahwa gangguan jiwa tidak membuat seseorang kehilangan ruang untuk bertumbuh dan berperan di masyarakat. Kesempatan selalu terbuka bagi mereka yang tidak patah arang.

Pintu kesempatan itu tidak akan terbuka tanpa bantuan keluarga, tenaga kesehatan, serta penerimaan masyarakat. Sehingga terbuka ruang seluas-luasnya bagi orang dengan penyakit mental untuk berkembang, seraya berdampingan dan berdamai dengan penyakitnya.




Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sadis! Kronologi Pembunuhan Bayi 20 Bulan, Disiksa Dalam Toilet Lalu Dikubur Pakai Kresek di Benhil
• 2 jam lalu
0
thumb
Kepala BKN Beri Arahan ke ASN di Kota Serang: Setiap Masalah Direspons Cepat
• 5 jam lalu
0
thumb
Fuel Surcharge Tiket Pesawat Domestik November 2026 Tetap 40%
• 28 menit lalu
0
thumb
K-Beauty Makin Digandrungi, Penjualan Produk Korea di Indonesia Naik 42%
• 16 jam lalu
0
thumb
Polemik Ijazah Gibran Makin Panas! PDIP dan Golkar Mulai Buka Suara, Hasto Singgung Mundur!
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.