Kereta Api (KA) Sri Tanjung dikabarkan nyaris tertimpa longsoran tanah saat melintas di petak jalur Kalibaru–Mrawan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (2/11/2026) sekitar pukul 11.20 WIB. Beruntung, kereta berhasil berhenti sekitar 200–300 meter sebelum lokasi longsor.
Vega Septian Humas Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Timur menjelaskan, kejadian tersebut bermula dari gangguan jalur KA di petak Sempolan–Ledokombo, Kabupaten Jember pada Senin pagi, akibat longsoran dan pengikisan badan rel oleh banjir.
Gangguan tersebut membuat perjalanan KA Pandanwangi, Probowangi, dan Mutiara Timur hanya sampai Stasiun Jember. Sementara KA Tawangalun dan Logawa tertahan di Kalibaru, serta Sri Tanjung di Glenmore. Perjalanan KA Pandanwangi arah Banyuwangi juga dibatalkan.
Setelah dilakukan penanganan, jalur Sempolan–Ledokombo kembali dapat dilalui dengan pembatasan kecepatan. KA Sri Tanjung kemudian melanjutkan perjalanan dari Stasiun Kalibaru, sebelum akhirnya dihadapkan longsoran baru menjelang Terowongan Mrawan.
Beruntung, masinis masih sempat melakukan pengereman sehingga kereta tidak sampai memasuki jalur yang tertutup material longsor.
“Kereta sudah berangkat, ternyata tiba-tiba di depan itu longsor, mau masuk terowongan merawan itu ada longsor. Untungnya masih bisa nutut buat ngerem,” beber Vega saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Senin siang.
“Jadi (KA) Sri Tanjung belum sampai ya, ke belum sampai ke longsor. Jadi di sekitar 200-300 meter ke depan itu sudah longsor. Jadi relnya sudah sudah ketutup sama longsoran, ini sedang dalam penanganan,” imbuhnya.
Demi keselamatan, perjalanan Sri Tanjung kemudian ditarik mundur kembali ke Stasiun Kalibaru. “Untuk kami lakukan pengecekan-pengecekan juga apakah ada dampak-dampak yang lain, sekaligus untuk mitigasi risikonya,” jelasnya.
Longsoran terbaru itu juga mengganggu perjalanan KA Tawangalun tujuan Malang. Kedua kereta mengalami keterlambatan lebih dari tiga jam. Vega menyebut penumpang Tawangalun telah dialihkan menggunakan bus untuk melanjutkan perjalanan. Sementara keputusan pengalihan penumpang Sri Tanjung masih menunggu operator KAI.
Ia menjelaskan, sejumlah titik rawan longsor sebenarnya sudah mendapat penguatan tebing menggunakan rel dan bronjong batu. Namun, curah hujan tinggi selama dua hari terakhir diduga menyebabkan penahan tanah tidak mampu menahan longsoran.
“Kami sudah memperkuat dinding-dinding di tebing-tebingnya itu juga kami sudah perkuat dengan rel, dengan kemudian ada bronjong batu. Tapi mungkin karena curah hujan yang sangat ekstrem tinggi di dua hari ini sehingga kemudian tanggul penahan itu juga mungkin tidak mampu menahan,” ujarnya.
Saat ini, petugas Balai Teknik Perkeretaapian bersama operator KAI memusatkan penanganan pada longsoran di Kalibaru–Mrawan. Vega memperkirakan jalur membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk kembali dapat dilalui, terhitung sejak wawancara berlangsung.
“Tapi saat ini fokus kami adalah untuk penanganan ya, penanganan yang pertama penanganan jalur itu bisa kembali dilakukan perbaikan-perbaikan dan kemudian secepatnya pelayanan bisa kembali pulih dulu,” katanya.
Berikut dampak longsor tersebut terhadap perjalanan kereta:
- KA Pandanwangi hanya sampai Jember
- KA Probowangi hanya sampai Jember
- KA Mutiara Timur hanya sampai Jember
- KA Tawangalun posisi berhenti di Kalibaru
- KA Logawa berhenti di Kalibaru
- KA Sritanjung berhenti di Glenmore
- KA Pandanwangi genap arah Banyuwangi batal
Vega juga menyampaikan permohonan maaf kepada penumpang yang terdampak gangguan perjalanan tersebut. Penumpang diberi opsi oleh operator untuk overstappen dengan menggunakan bus dan diberi kompensasi sesuai Permenhub
“Kami juga memohon maaf ya, terutama bagi para pengguna kereta api yang terdampak. Kami mohon maaf dan kami akan berusaha, ini memang kami full tim untuk memulihkan perjalanan,” pungkasnya. (bil/ham)





Komentar (0)