Liputan6.com, Jakarta - Pemandangan tak biasa terlihat di kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu, 1 November 2026 pagi. Sejumlah petugas kepolisian datang menggunakan kereta rel listrik (KRL) untuk mengepung kawasan yang menjadi salah satu sasaran operasi pemberantasan narkoba. Dari berbagai arah, aparat gabungan bergerak menyisir lapak-lapak yang diduga menjadi lokasi peredaran narkotika.
Penggerebekan yang melibatkan Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), hingga Brimob itu mengerahkan sekitar 1.800 personel. Sebagian petugas menggunakan kereta luar biasa (KLB) rute Jakarta Kota-Tanjung Priok, sementara personel lainnya datang menggunakan kendaraan, termasuk sepeda motor.
Advertisement
Vice President Corporate Communication KAI Commuter Karina Amanda menjelaskan, perjalanan kereta yang digunakan aparat berlangsung sekitar pukul 06.25 WIB. Pengoperasian KLB tersebut merupakan hasil koordinasi antara kepolisian dan KAI Commuter serta tidak mengganggu perjalanan reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok.
"Perjalanan tersebut tidak berdampak pada perjalanan reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok," ujar Karina dalam keterangannya.
Meski demikian, proses penggerebekan sempat berdampak pada perjalanan kereta di kawasan tersebut. Kerumunan warga di sekitar rel membuat tiga perjalanan Commuter Line rute Jakarta Kota-Tanjung Priok mengalami keterlambatan.
"Terdapat 3 perjalanan Commuter Line Jakarta Kota-Tanjungpriok mengalami keterlambatan 4-19 menit yang disebabkan oleh kerumunan warga di rel dalam proses penggerebekan yang dilakukan," ungkap Karina.
Sementara itu, di kawasan Kampung Bahari, petugas gabungan melakukan penyisiran secara serentak dari berbagai sisi.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso mengatakan, pelibatan sejumlah instansi dilakukan untuk memastikan operasi menjangkau berbagai titik yang menjadi sasaran.
"Yang jelas kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi, ya. Ada dari berbagai arah, ya. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, dari Bareskrim, ya, kemudian dari Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya," kata Bismo kepada wartawan.
Dalam operasi tersebut, petugas sempat mendapat perlawanan. Bismo menduga aksi itu dilakukan untuk mengalihkan perhatian aparat dari target operasi. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan penyisiran yang terus berlangsung di sejumlah titik.
Dari hasil penggerebekan, polisi mengamankan 26 orang. Petugas juga menyita berbagai barang bukti, mulai dari sabu seberat ratusan gram, ganja, hingga ribuan butir ekstasi. Selain itu, ditemukan mesin pencetak ekstasi, senjata tajam, senjata api, bong, serta sejumlah peralatan yang diduga berkaitan dengan aktivitas penyalahgunaan narkoba.
"Kemudian ada mesin, mesin pencetak ekstasi, ya. Kemudian ada sajam dan bong, ya, peralatan-peralatan yang digunakan untuk penyalahgunaan narkoba," ujar Bismo.
Polisi turut menyita uang tunai yang ditemukan bersama barang bukti ganja. Uang tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas penjualan narkoba.
"Uang tunai ada. Hasil jadi satu sama barang bukti ganjanya," katanya.





Komentar (0)