Metabolisme Manusia Hasilkan Dua Miliar Ton Karbon Dioksida Setiap Tahun

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Setiap kali manusia bernapas, tubuh melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Jika dijumlahkan dari semua penduduk dunia, karbon yang dihasilkan melalui proses metabolisme tubuh mencapai 2,05 miliar ton per tahun, naik 74 persen dalam tiga dekade.

Angka tersebut terungkap dalam studi global yang dipimpin peneliti dari University of Bath, Inggris, Javier Gonzalez, dan diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health.

Penelitian ini memperkirakan produksi karbon dioksida (CO₂) dari metabolisme manusia meningkat dari 1,18 miliar ton pada 1985 menjadi 2,05 miliar ton pada 2015. Pertumbuhan populasi menyumbang lebih dari 60 persen dari peningkatan tersebut.

" Kita semua menghasilkan karbon dioksida saat mengubah makanan jadi energi, namun hingga kini kita belum memiliki gambaran jelas total jumlahnya di tingkat global," kata Gonzalez, penulis utama laporan, dalam keterangan tertulis, Minggu (1/11/2026). Ia merupakan peneliti dari Center for Exercise, Nutrition and Metabolism di University of Bath.

Meski angkanya terbilang besar, para peneliti mengingatkan bahwa CO₂ hasil pernapasan manusia tidak bisa disamakan dengan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil yang menjadi pendorong utama pemanasan global.

Karbon yang dikeluarkan manusia melalui pernapasan berasal dari makanan yang dikonsumsi. Sebagian besar karbon dalam makanan itu sebelumnya diserap tumbuhan dari atmosfer melalui fotosintesis. Karbon ini merupakan bagian dari siklus karbon biologis yang relatif pendek.

Kita semua menghasilkan karbon dioksida saat mengubah makanan menjadi energi, tetapi hingga saat ini kita belum memiliki gambaran yang jelas mengenai total jumlahnya di seluruh dunia.

Sebaliknya, pembakaran batu bara, minyak, dan gas bumi melepaskan karbon yang tersimpan di bawah permukaan bumi selama jutaan tahun ke atmosfer. Pelepasan karbon fosil inilah yang menambah konsentrasi CO₂ secara bersih dan mengganggu keseimbangan iklim bumi.

" Kita semua menghasilkan karbon dioksida saat mengubah makanan menjadi energi, tetapi hingga saat ini kita belum memiliki gambaran yang jelas mengenai total jumlahnya di seluruh dunia," kata Gonzalez.

Baca JugaRekor Emisi, Warisan Bencana bagi Generasi Mendatang
Pertumbuhan penduduk

Penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah penduduk dunia menjadi penyebab utama bertambahnya CO₂ dari metabolisme manusia. Pertumbuhan populasi menyumbang lebih dari 60 persen kenaikan produksi CO₂ selama periode penelitian.

Untuk mendapatkan perkiraan tersebut, para peneliti menggabungkan ribuan pengukuran nyata metabolisme manusia, mulai dari bayi hingga orang lanjut usia, dengan data populasi global dan berat badan.

Hasilnya memperlihatkan bahwa peningkatan total CO₂ bukan terutama disebabkan oleh setiap individu menghasilkan karbon lebih banyak, melainkan karena jumlah manusia semakin besar.

Baca JugaBanyak Anak, Banyak Jejak Karbon

Dengan demikian, metabolisme manusia menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan ketika ilmuwan menyusun neraca karbon global, yakni perhitungan mengenai sumber, perpindahan, dan penyimpanan karbon di bumi.

Komponen ini terutama relevan di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi. Dalam skala kota, jutaan manusia setiap hari menghasilkan CO₂ melalui proses metabolisme, meskipun karbon tersebut berasal dari siklus biologis.

Gonzalez mengutarakan, temuan ini memberikan tambahan informasi bagi ilmuwan untuk memahami dari mana karbon berasal dan ke mana karbon itu bergerak. Pemahaman lebih lengkap diharapkan meningkatkan ketepatan model yang digunakan untuk memperkirakan dampak berbagai strategi pengurangan emisi.

Bukan mengurangi napas

Para peneliti menegaskan, studi ini bukan untuk menyatakan pernapasan manusia merupakan penyebab perubahan iklim. Temuan tersebut juga tidak menyarankan manusia mengurangi aktivitas fisik atau mengubah pola makan untuk menekan produksi CO₂ dari metabolisme.

Justru, penelitian ini memperlihatkan pentingnya membedakan antara karbon yang bersirkulasi secara alami dalam sistem biologis dan karbon fosil yang dilepaskan akibat aktivitas manusia.

Karbon dioksida atau CO₂ dari dua sumber itu merupakan gas rumah kaca yang menyerap radiasi inframerah. Namun dampak bersihnya pada konsentrasi CO₂ atmosfer bergantung asal karbon, proses menyertainya, serta keseimbangan antara pelepasan dan penyerapan kembali.

Dalam siklus biologis, tumbuhan menyerap CO₂ dari atmosfer untuk tumbuh. Karbon itu lalu berpindah melalui rantai makanan, masuk ke tubuh manusia, dan kembali ke atmosfer ketika manusia bernapas.

Baca JugaGanti Konsumsi Daging dengan Ikan untuk Kesehatan Diri dan Bumi

Siklus ini merupakan bagian dari pertukaran karbon yang berlangsung alami, meskipun produksi, distribusi, dan konsumsi pangan juga dapat menghasilkan emisi tambahan dari penggunaan energi, perubahan lahan, dan proses produksi.

Karena itu, besarnya CO₂ hasil metabolisme tak bisa langsung diterjemahkan sebagai tambahan emisi yang memperburuk pemanasan global. "Poin pentingnya, karbon dioksida yang kita embuskan tidak sama dengan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil. Kami tidak mengatakan pernapasan manusia jadi penyebab perubahan iklim," ucap Gonzalez.

Penelitian tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pemahaman mengenai krisis iklim membutuhkan penghitungan karbon yang cermat. Tidak semua CO₂ yang dilepaskan ke atmosfer memiliki asal-usul dan konsekuensi iklim yang sama.

Berbeda dengan CO₂ dari fosil

Karbon dioksida yang dihasilkan dari pernapasan berbeda dengan yang berasal dari bahan bakar fosil. Hal itu bukan terletak pada sifat gasnya, melainkan pada asal-usul karbon dan dampak bersihnya terhadap atmosfer.

Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA), melalui penjelasan mengenai siklus karbon, menerangkan bahwa tumbuhan menyerap CO₂ dari atmosfer melalui fotosintesis.

Karbon tersebut kemudian menjadi bahan organik yang dimanfaatkan mikroorganisme, hewan, dan manusia. Karbon kembali ke atmosfer melalui proses respirasi.

Dalam siklus biologis yang berlangsung cepat, karbon yang dilepaskan melalui pernapasan pada dasarnya merupakan karbon yang sebelumnya telah berada dalam sirkulasi atmosfer-biosfer.

Sebaliknya, pembakaran bahan bakar fosil memindahkan karbon dari cadangan geologis yang tersimpan selama jutaan tahun ke atmosfer. Proses ini menambah jumlah karbon aktif dalam sistem bumi.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), dalam laporan Framework for Assessing Biogenic CO₂ Emissions, juga menekankan pentingnya menghitung keseluruhan siklus produksi dan konsumsi bahan biologis untuk mengetahui kontribusi bersihnya terhadap atmosfer.

Namun karbon biologis tidak otomatis selalu netral. Pembukaan hutan untuk perkebunan, perubahan penggunaan lahan, pengeringan gambut, dan proses produksi pangan dapat menyebabkan pelepasan karbon tambahan yang tidak selalu dapat diimbangi oleh penyerapan kembali.

Karena itu, penghitungan emisi dari sektor pangan dan penggunaan lahan tetap harus memperhitungkan seluruh rantai produksinya, bukan hanya karbon yang dilepaskan melalui pernapasan manusia.

Pentingnya membedakan berbagai sumber dan penyerap karbon juga menjadi perhatian dalam laporan Global Carbon Budget 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Earth System Science Data pada Mei 2026.

Baca JugaPangan Lokal Lebih Hemat Biaya dan Mengurangi Emisi Karbon
Baca JugaAsap, Emisi, dan September Bisa Lebih Membara

Laporan yang disusun Pierre Friedlingstein dan puluhan peneliti internasional itu menyusun neraca karbon global dengan menghitung lima komponen utama, yakni emisi CO₂ dari bahan bakar fosil dan industri, perubahan penggunaan lahan, pertumbuhan CO₂ di atmosfer, penyerapan oleh laut, serta penyerapan oleh ekosistem daratan.

Neraca tersebut digunakan untuk mengetahui berapa banyak karbon yang dilepaskan manusia, berapa yang diserap oleh alam, dan berapa yang masih tertinggal di atmosfer.

Dalam konteks inilah, penghitungan CO₂ dari metabolisme manusia jadi tambahan informasi penting. Peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang besarnya perpindahan karbon dalam siklus biologis, terutama ketika menyusun model sistem karbon bumi.

Studi terbaru University of Bath menggunakan ribuan pengukuran metabolisme nyata dari 6.756 orang, yang mencakup 9.006 pengukuran. Data tersebut berasal dari berbagai kelompok usia dan ukuran tubuh.

Para peneliti menggabungkan hasil pengukuran dengan data populasi global, berat badan, dan perbedaan karakteristik biologis untuk memperkirakan produksi CO₂ manusia dari 1985 hingga 2015.

Hasilnya menunjukkan pertumbuhan populasi menyumbang lebih dari 60 persen peningkatan produksi CO₂ metabolik. Dengan kata lain, peningkatan jumlah manusia menjadi faktor utama, bukan kenaikan signifikan produksi CO₂ setiap individu.

Dengan memasukkan metabolisme manusia dalam perhitungan karbon global, ilmuwan diharapkan mendapat gambaran lebih utuh pergerakan karbon di bumi. Tantangan utama pengendalian perubahan iklim tetap pada pengurangan emisi dari bahan bakar fosil, perubahan penggunaan lahan, dan aktivitas manusia lain yang menambah karbon ke atmosfer.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
OJK Harus Pilih Sanksi Administratif atau Pidana bagi Pelanggar Pasar Modal
• 21 jam lalu
0
thumb
Ironi Raja Minyak: Harga Meroket, Ekonomi Arab Saudi Terancam Resesi
• 2 jam lalu
0
thumb
OJK Sebut Investor Cerdas Justru Serok Saham Saat Harga Anjlok
• 6 jam lalu
0
thumb
SDN Manukan Kulon dan SDN Kalirungkut Jadi yang Terbaik di Seri Surabaya
• 16 jam lalu
0
thumb
Revisi UU LLAJ, DPR Soroti Jaminan Keselamatan Transportasi
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.