BEI Setop Sementara Transaksi Short Selling, Keluarkan BBCA, ASII hingga BRPT

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Bursa Efek Indonesia meniadakan transaksi saham dalam skema short selling untuk sementara waktu karena kondisi pasar yang penuh ketidakpastian. Kebijakan ini diambil karena mempertimbangkan kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian dan tekanan jual yang tinggi.

Dalam kesempatan sama, BEI juga mengumumankan mencoret lima saham dari daftar efek yang dapat ditransaksikan dengan skema short selling untuk periode November 2026. Kelima saham tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang masih bergejolak. Menurut dia, volatilitas pasar yang tinggi disertai tekanan jual perlu diantisipasi agar tidak semakin memperburuk pergerakan saham.

“Tentu kami menilai untuk sementara kami tidak menetapkan ada saham dalam daftar short selling,” ujar Jeffrey saat ditemui seusai acara media gathering di Lombok, Sabtu (31/10).

Short selling merupakan transaksi penjualan saham yang belum dimiliki investor saat transaksi dilakukan. Dalam mekanisme ini, investor meminjam saham untuk dijual terlebih dahulu dengan harapan dapat membelinya kembali pada harga yang lebih rendah. Selisih harga jual dan harga beli kembali menjadi potensi keuntungan investor.

BEI sebenarnya baru mengaktifkan kembali fasilitas transaksi short selling pada 1 Oktober 2026. Sebelumnya, transaksi tersebut sempat dilarang sejak Maret 2020 atau ketika pandemi Covid-19 melanda. Larangan saat itu juga bertujuan meredam tekanan jual yang berpotensi memperburuk kejatuhan pasar saham.

Selain menghapus lima saham dari daftar short selling, BEI juga mengeluarkan 11 saham dari daftar efek yang dapat ditransaksikan dengan fasilitas margin untuk periode November 2026.

Berdasarkan pengumuman BEI No. Peng-00206/BEI.POP/10-2026, sebelas saham tersebut meliputi PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN), PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Esta Indonesia Tbk (NEST), PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS), PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM).

Margin trading merupakan fasilitas pembiayaan dari perusahaan sekuritas yang memungkinkan investor membeli saham dengan nilai transaksi lebih besar daripada modal yang dimiliki. Namun, fasilitas ini memiliki risiko, antara lain kewajiban membayar bunga, batas waktu pelunasan, hingga penjualan paksa (forced sell) apabila investor tidak mampu memenuhi kewajibannya.

Sementara itu, BEI menambahkan 23 saham baru dan 1 ETF ke dalam daftar efek yang dapat ditransaksikan dengan fasilitas margin pada November 2026. Berikut daftarnya:

  1. PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA)
  2. PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP)
  3. PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS)
  4. PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT)
  5. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA)
  6. PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA)
  7. PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP)
  8. PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS)
  9. PT Chitose Internasional Tbk (CINT)
  10. PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH)
  11. PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE)
  12. PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA)
  13. PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI)
  14. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
  15. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX)
  16. PT Karya Bersama Anugerah Tbk (KBAG)
  17. PT Modernland Realty Tbk (MDLN)
  18. PT Penta Valent Tbk (PEVE)
  19. PT Paninvest Tbk (PNIN)
  20. PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA)
  21. PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS)
  22. PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
  23. PT Winner Nusantara Jaya Tbk (WINR)
  24. Reksa Dana Indeks Batavia IDX30 ETF (XBID)

Kebijakan BEI tersebut dilakukan di tengah tekanan berat di pasar saham Indonesia. Sepanjang Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 17,39%. Kapitalisasi pasar BEI juga menyusut menjadi Rp 8.882 triliun. Angka tersebut tergerus 44,53% dibandingkan kapitalisasi pasar pada 2 Januari 2026 yang mencapai Rp 16.014 triliun.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
19 Perenang Seberangi Selat Madura, Galang Donasi Rp1 Miliar untuk Warga Pesisir
• 15 jam lalu
0
thumb
Pemprov Sumut Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan November 2026, Ini Daftar Denda yang Dibebaskan
• 5 jam lalu
0
thumb
AS Tiba-tiba Latihan Pemakaman 2.400 Tentara Sehari! Perang Besar dengan Tiongkok Sudah di Depan Mata?
• 4 jam lalu
0
thumb
Pemanasan Global Bikin Kekeringan Makin Parah, Ini 5 Kejadian Terparah
• 14 jam lalu
0
thumb
Gerindra Tegaskan Putusan MA soal Suket Penyetaraan Pendidikan Gibran Tak Otomatis Pengaruhi Jabatan Wapres
• 39 menit lalu
0
Berhasil disimpan.