Jakarta: Alaska Air Group memberhentikan 200 karyawan karena menghadapi kerugian hampir USD700 juta tahun ini akibat tingginya harga bahan bakar dan tekanan geopolitik.
Dari jumlah karyawan yang terkena PHK, 125 orang di antaranya berbasis di Washington. PHK ini hanya mencakup posisi di luar serikat pekerja dan terbatas pada peran administratif (back-office).
Artinya, pengurangan ini tidak berdampak pada pilot, pramugari, staf layanan tamu di bandara, maupun posisi di bidang pemeliharaan dan teknik.
Baca Juga :
Dalam Performa Oke, Amazon PHK Ratusan Karyawan di Unit Ritel"Agar tetap kompetitif dan bangkit lebih kuat dari periode yang menantang ini, kita harus terus berinvestasi pada armada, pengalaman tamu, kapasitas, dan jaringan kita," tulis CEO Ben Minicucci dikutip dari Seattle Times.
"Pada saat yang sama, kita harus kembali menerapkan disiplin keuangan yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif utama kita. Ini berarti meninjau kembali biaya operasional secara cermat serta memastikan sumber daya kita difokuskan pada prioritas yang akan memperkuat perusahaan untuk jangka panjang." tegas dia.
Alaska Air Group, yang mencakup Alaska Airlines, Hawaiian Airlines, maskapai regional Horizon Air, dan perusahaan pendukung darat McGee Air Services, mencatat kerugian sebesar USD416 juta dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menurut laporan keuangan yang dirilis pada bulan Oktober.
Angka ini merupakan perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana perusahaan mencatatkan laba sebesar USD79 juta dalam periode sembilan bulan pertama.
Saat merilis laporan keuangan pada bulan Oktober, Alaska menyatakan bahwa tingginya biaya bahan bakar diperkirakan akan terus membebani perusahaan. Dengan memperhitungkan tambahan biaya bahan bakar sebesar USD1,8 miliar di atas proyeksi awal tahun, Alaska memperkirakan akan mengalami kerugian antara USD5 hingga USD5,50 per saham untuk keseluruhan tahun ini.
Dalam acara pertemuan investor pada bulan September, para eksekutif Alaska berupaya meyakinkan pihak Wall Street perusahaan berada di jalur yang tepat saat hadapi tingginya harga bahan bakar pesawat telah menekan kinerja keuangan mereka.
Para eksekutif menyampaikan perusahaan mulai merasakan manfaat dari rencana ekspansi jangka panjang yang disebut "Alaska Accelerate", yang diluncurkan pada tahun 2024, tak lama setelah Alaska merampungkan akuisisi terhadap Hawaiian Airlines.
Rencana tersebut mencakup lebih dari selusin rute internasional jarak jauh baru tanpa henti dari pusat operasional maskapai di Seattle, serta program loyalitas baru, kartu kredit premium, ruang tunggu (lounge), dan kursi yang dapat direbahkan menjadi tempat tidur datar (lie-flat suites) di dalam pesawat.
Meskipun menyoroti kemajuan tersebut, pada September para eksekutif memperingatkan bahwa Alaska mungkin tidak mencapai target keuangan jangka panjangnya, yaitu tambahan laba sebesar USD1 miliar dan laba per saham sebesar USD10 pada tahun 2027, dengan alasan utama tingginya harga bahan bakar pesawat.
Pada hari Jumat, Minicucci menulis kepada para karyawan proyeksi kerugian sebesar USD700 juta tahun ini akan menjadi kerugian sebelum pajak (yang disesuaikan) pertama bagi perusahaan sejak tahun 2003, di luar periode pandemi.
Dengan total 32.500 karyawan di seluruh perusahaan, pemutusan hubungan kerja (PHK) ini akan berdampak pada kurang dari 1% tenaga kerja Alaska Air Group. Selain 125 pengurangan posisi di Washington, perusahaan juga melakukan PHK terhadap 48 karyawan di Honolulu, tempat kantor pusat Hawaiian Airlines berada.
Alaska menyatakan bahwa hari kerja terakhir bagi karyawan yang terkena PHK adalah 13 November, namun mereka akan tetap menerima gaji hingga 31 Desember.
- URL Berhasil di Salin Maskapai Ini Lakukan PHK 200 Orang Gegara Harga Minyak Makin Mahal Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/global/eN44Y9rN-maskapai-ini-lakukan-phk-200-orang-gegara-harga-minyak-makin-mahal






Komentar (0)