Lahir di Gang Kecil Jogja, Kupu-Kupu Kayu Hartono Terbang ke Kalimantan

kompas.tv
7 jam lalu
Cover Berita
Hartono (66) sedang memproduksi mainan kinetik berbentuk kupu-kupu, di rumahnya, kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV – Hartono, perajin mainan kinetik berusia 66 tahun itu jongkok di ruang kerja yang sekaligus menjadi ruang tamu rumahnya, di kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta.

Pagi itu, saat sebagian warga bersantai menikmati hari libur, Hartono telah sibuk dengan potongan tripleks berwarna-warni.

Topi berwarna abu-abu bertengger menutupi rambutnya yang memutih. Jemari tangan kirinya memegang tripleks berbentuk sisi sayap kupu-kupu. Sementara tangan kanannya menggenggam semacam jarum berukuran cukup besar.

Otot di lengannya sesekali mengeras saat tangannya menekan jarum untuk melubangi tripleks tersebut. Beberapa kali secara spontan jemarinya membetulkan posisi kaca mata wajahnya.

Sejumlah mainan kinetik berbentuk binatang tergantung dalam ruangan itu, mulai dari kupu-kupu, lebah, hingga kuda poni. Sementara, di tembok ruangan, beberapa karton pola tergantung di belakang meja, lengkap dengan kaleng berisi sisa cat.

Seluruh mainan kinetik tersebut merupakan hasil karyanya. Ia mulai memroduksi mainan tersebut sejak tahun 2024 lalu, ketika usaha sablon manual miliknya mulai sepi pelanggan.

Hartono (66) memasang gantungan besi pada sayap mainan kinetik berbentuk kupu-kupu, di rumahnya, kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

“Saya buka sablon sejak tahun 1995. Tapi orderannya sepi,” kata Hartono di rumah yang sekaligus menjadi tempat produksi karyanya, Minggu (1/11/2026).

Sebelum membuka percetakan sablon, Hartono sempat bekerja di salah satu percetakan. Namun, kini pelanggan sablon manual lebih banyak yang beralih pada digital printing.

Baca Juga: Melihat dari Dekat Proses Pembuatan Tempe Berbahan Kacang Koro di Bantul

Sehingga ia harus memutar otak untuk beralih profesi. Hartono pun memilih untuk menggeluti pembuatan mainan kinetik yang memadukan teknik dan seni.

Proses Produksi

Awalnya, Hartono hanya membuat mainan berupa pajangan. Berbekal gergaji manual dan kemampuannya melukis, ia memroduksi pajangan-pajangan kecil berbentuk binatang.

Pajangan itu juga berfungsi sebagai sandaran untuk ponsel.

Namun, ia merasa perlu mengembangkan karyanya agar tak hanya menjadi pajangan, tetapi juga dapat bergerak. Hartono pun mencoba membuat mainan kinetik dengan menambahkan semacam engsel pada sisi dalam sayap.

Setelah berhasil, ia mengembangkan karyanya dengan bentuk yang lebih beragam.

“Ini saya utak atik. Supaya enggak mati seperti ini. Supaya bisa seperti terbang, gimana? Ini saya potong,” tuturnya sambil menunjukkan bagian mainan.

Ia menggunakan lembaran tripleks sebagai media karya. Dari selembar tripleks utuh, ia mampu membuat 12 kupu-kupu berukuran kecil atau delapan kupu-kupu besar.

Hartono menggunakan kertas karton sebagai pola pada tripleks. Setelah memotong-motong menggunakan gergaji manual, ia menggambar pola pada tripleks-tipleks itu menggunakan pensil.

“Nah, setelah digergaji baru digambar motifnya dulu. Motifnya bolak-balik, pakai pensil. Nah, setelah motifnya digambar, baru dilukis  pakai cat, pakai kuas,” ucapnya.

Meski ia memiliki keterampilan untuk menyablon, Hartono mengaku lebih memilih mewarnai mainan buatannya secara manual menggunakan kuas. Sebab, ia merasa nilai karyanya berbeda jika pewarnaannya dilakukan menggunakan sablon.

Hartono (66) memasang senar penggantung pada bagian sayap mainan kinetik berbentuk kupu-kupu di rmahnya, kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Padahal, menurut dia, jika diwarnai dengan cara sablon, proses produksinya menjadi lebih cepat.

“Ini manual. Kalau sablon, sama semua. Kalau sablon, bikin kayak gini sehari bisa 100. (biaya produksi) enggak jauh beda, sama. Enggak jauh beda kalau misalnya sablon sama, cuma nilai seninya beda.”

Setelah proses pewarnaan selesai, Hartono melanjutkan dengan membuat bagian tubuh hewan. Ia menggunakan potongan kayu yang dipasangi semacam gantungan besi berulir. Gantungan berukuran kecil itu juga dipasang pada masing-masing sayap mainannya.

Selanjutnya, ia melubangi bagian sayap menggunakan jarum. Nantinya pada lubang itu juga dipasang senar atau benang yang menggerakkan sayap kupu-kupu atau kumbang.

“Saya buat konstruksinya. Habis konstruksi selesai, baru saya rakit karena seperti itu, sana. Ditarik-tarik,” ujarnya sambil menunjuk beberapa mainan yang tergantung di ruangan itu.

Pemasangan benang atau senar tersebut memerlukan ketelitian dan keterampilan tersendiri. Sebab, jika posisi pemasangannya tidak tepat, mainan itu akan miring dan tidak seimbang.

Seperti hari itu, Hartono beberapa kali melubangi bagian sayap mainan karena pada pemasangan awal terlihat tidak seimbang. Hal yang sama juga berlaku pada pembuatan hanger atau penggantungnya.

Hartono (66) bersama mainan kinetik berbentuk kupu-kupu, di rumah yang merupakan tempat produksinya, kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Jika pemasangan senar dan gantungan besi berulir tidak tepat, mainan itu juga akan tergantung miring.

Pemasaran

Proses produksi berakhir saat senar dari mainan telah terpasang pada gantungan atau hanger secara seimbang. Namun, tahapannya belum berhenti. Hartono masih harus memasarkan mainan hasil karyanya di tengah gempuran permainan daring.

Ia memasarkan produknya masih secara manual, mulai dari memasangnya di depan rumah hingga membuka lapak.

Hartono mengaku pernah membuka lapak untuk menjual mainan karyanya di kawasan Stadion Mandala Krida.

“Ya, pernah di sana (Stadion Mandala Krida). Tapi kurang-kurang laku. Di rumah juga tetap jualan di rumah, ngelayani pesanan di rumah.”

Hartono adalah satu dari segelintir pelaku UMKM yang bergerak di sektor kerajinan di Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Rayakan HUT ke-81 RI, Perajin Kulon Progo Buat Batik Garuda Emas Sepanjang 8,1 Meter

Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Mikro Kota Yogyakarta terkait basis data terpadu hasil pembaruan data UKM tahun 2025, jumlah UKM di Kota Yogyakarta sebanyak 5.421.

Jumlah itu didominasi oleh sektor kuliner. Sebagian besar beroperasi di rumah pribadi dengan modal di bawah Rp25 juta.

Hartono (66) memperagakan gerakan mainan kupu-kupu buatannya, di rumahnya, kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Dari jumlah tersebut, pelaku usaha di bidang kuliner sebanyak 2.700 UKM (49,8%), yang mencakup warung makan, pedagang makanan, dan usaha pengolahan makanan.

Selanjutnya, sektor jasa menempati posisi kedua dengan jumlah 1.041 UKM (19,2%); sektor ‘lainnya’  sebanyak 960 UKM (17,7%); sektor fashion sebanyak 482 UKM (8,9%); dan kerajinan sebanyak 238 UKM (4,4%).

Sementara, pelaku kategori Fashion dan Kerajinan, seperti Hartono menunjukkan kontribusi yang lebih kecil, masing-masing 8,9% dan 4,4%.

Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Mikro Kota Yogyakarta menilai hal itu menunjukkan bahwa sektor-sektor ini masih memiliki potensi pengembangan yang signifikan.

Hingga saat ini, Hartono masih menjalankan usahanya dengan pendanaan pribadi. Ia mengaku belum tersentuh dukungan bantuan dari pemerintah maupun swasta, baik untuk promosi maupun pendanaan untuk UMKM miliknya.

Ia juga tidak menutup peluang jika ada pihak yang akan membantunya ke depan. Terlebih Hartono juga sudah memikirkan inovasi lain untuk mainan buatannya.

“Kalau dikembangkannya, bisa jadi, cuma saya cenderung ke ini, inovasi selain ini. Tapi sama kinetiknya sama.”

“Cuma beda beda motifnya aja, burung, burung, atau nanti ada yang lain, misalnya ikan, atau apa ini,” tuturnya.

Saat ini, Hartono hanya melayani penjualan dari pemesan setelah mainan karyanya viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Pemesan pun tak hanya dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi telah merambah sejumlah daerah di Indonesia.

“Ya itu tiba-tiba viral di TikTok itu. Malah setelah itu, terus semua yang digantung itu dibeli, dibeli terus stok habis. Stok habis, terus saya produksi lagi. Tapi terus, terus menerima khusus pesanan,” ucapnya.

Hartono (66) perajin mainan, menunjukkan sandaran ponsel berbentuk kupu-kupu buatannya, di rumahnya, kawasan Semaki Gede, Kota Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Hartono mematok harga mulai Rp40 ribu hingga Rp60 ribu untuk setiap unit mainan kinetik buatannya, tergantung pada ukuran dan kerumitan produksi.

Ia mengaku selama ini melakukan pengiriman melalui salah satu usaha jasa pengiriman di dekat rumahnya.

“Yang pakai dus itu. Itu mau dikirim ke Kalimantan, yang itu,” ujarnya sambil menunjuk satu kardus berukuran cukup besar yang berisi belasan mainan hasil produksinya di dekat tembok.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV

Tag
  • hartono
  • mainan kinetik
  • perajin mainan
  • yogyakarta
  • kerajinan
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Akhirnya, Gaji PPPK Paruh Waktu Maros Kini Dibayar Bersamaan dengan PNS
• 21 jam lalu
0
thumb
BNPB Terbitkan Delapan Langkah Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan
• 22 jam lalu
0
thumb
Dukung Kesehatan Ibu dan Anak, BRI Peduli Resmikan Posyandu Lily dan Kebun Pangan Perempuan di Yogyakarta
• 17 jam lalu
0
thumb
Peluncuran Blueprint Keuangan Syariah di IIFS 2026: Ini 4 Strateginya
• 4 menit lalu
0
thumb
Serangan Drone Sasar Pembangkit Listrik di Enam Negara Bagian Sudan
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.