jpnn.com, JAKARTA - Kemendikdasmen menyodorkan bukti-bukti keberpihakan Prabowo terhadap pendidikan. Guru paling paten.
Kesempatan memperoleh pendidikan bermutu tidak boleh ditentukan oleh kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, maupun latar belakang ekonomi.
BACA JUGA: Mendikdasmen Bilang Daya Tarik MBG Mirip Kegiatan Jumat Berkah di Masjid
Oleh karena itu, selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat fondasi pendidikan melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, serta penguatan karakter.
Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan setiap murid, termasuk yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta murid berkebutuhan khusus, memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.
BACA JUGA: Mendikdasmen Berkali-kali Memuji Guru Honorer, PPPK Paruh Waktu dan PPPK
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan Presiden Prabowo memberikan mandat untuk membangun generasi Indonesia yang berkualitas melalui perbaikan pendidikan dasar dan menengah.
Mandat tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat, yakni membangun sumber daya manusia unggul, sekaligus memperkuat ideologi Pancasila, budaya, dan bahasa. Salah satu arahan Presiden yang menjadi perhatian utama adalah memastikan tidak ada lagi murid yang harus belajar di ruang kelas dengan atap roboh, fasilitas sanitasi yang tidak layak, maupun bangunan sekolah yang rusak.
BACA JUGA: 180 Penelitian Pelajar Sekolah Menengah Ikuti Lomba Peneliti Belia Jatim Ubaya 2026
“Pak Presiden berkali-kali menyampaikan tidak boleh ada sekolah yang atapnya roboh, tidak boleh ada yang toiletnya kotor, tidak boleh ada kelas yang rusak dan sebagainya,” ujar Abdul Mu'ti, Minggu (1/11).
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemendikdasmen telah merevitalisasi lebih dari 55 ribu satuan pendidikan dalam dua tahun pertama.
Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi hampir 80 ribu satuan pendidikan hingga akhir 2026. Revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah dengan kerusakan berat, sekolah di wilayah 3T, serta satuan pendidikan yang terdampak bencana.
Bagi anak-anak di daerah terdampak bencana Sumatra, misalnya, pemulihan fasilitas pendidikan turut mendukung keberlangsungan pembelajaran.
Mendikdasmen menyampaikan 98 persen sekolah terdampak di wilayah tersebut telah dibangun kembali dan seluruhnya sudah melaksanakan pembelajaran secara normal, meskipun sebagian masih menerapkan sistem pergantian waktu belajar.
Selain perbaikan infrastruktur, pemerintah memperluas pemanfaatan teknologi agar pembelajaran semakin interaktif dan dapat menjangkau lebih banyak murid.
Sepanjang 2025, lebih dari 288.865 papan interaktif digital atau telah dikirimkan ke satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pada 2026, pemerintah menargetkan distribusi lebih dari 700.000 perangkat tambahan sehingga totalnya melampaui satu juta perangkat dalam dua tahun. Menteri Mu'ti menegaskan bahwa teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Program digitalisasi itu paketnya ada empat. Pertama tentu saja adalah perangkatnya, yang kedua adalah laptop, yang ketiga yaitu pelatihan guru, dan yang keempat adalah fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan juga materi pembelajarannya,” jelasnya.
Manfaat digitalisasi juga terlihat dalam terbukanya kesempatan belajar bagi murid berkebutuhan khusus.
Berdasarkan pemantauan Abdul Mu’ti di sejumlah sekolah, fitur audio pada IFP dapat membantu murid tunanetra mengikuti pembelajaran, sementara guru di sekolah luar biasa di Kudus telah mengembangkan materi berbantuan kecerdasan artifisial (AI) untuk murid tunarungu.
Perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium virtual untuk membantu murid memahami konsep sains melalui simulasi.
Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur, Kemendikdasmen bekerja sama dengan PLN dalam penyediaan akses listrik dan menyiapkan panel surya bagi sekolah yang belum terjangkau jaringan listrik.
IFP juga dilengkapi penyimpanan materi sehingga tetap dapat digunakan meskipun sekolah belum memiliki akses internet.
Di sisi lain, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang murid. Kemendikdasmen menjalankan kebijakan peningkatan kualitas guru melalui pendekatan 3K, yaitu kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan.
Bagi lebih dari 200 ribu guru yang belum berkualifikasi D4 atau S1, pemerintah memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dengan bantuan beasiswa Rp3 juta per semester per guru.
Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, STEM (Sains, Teknologi, Enjinering/Rekayasa, dan Matematika), serta bahasa Inggris.
Sementara itu, tunjangan sertifikasi guru non-ASN meningkat dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, sedangkan insentif guru yang belum bersertifikat naik dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan.
Penguatan mutu pendidikan juga dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan belajar setiap murid. Kemendikdasmen mendorong peran guru wali agar pendampingan tidak hanya mencakup perkembangan akademik, tetapi juga persoalan psikologis, kesulitan belajar, hingga kondisi keluarga yang dapat memengaruhi proses pendidikan.
Melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA), pemerintah berupaya menyediakan instrumen evaluasi yang lebih terstandar untuk membantu guru, orang tua, dan murid mengenali capaian serta aspek pembelajaran yang masih perlu diperbaiki. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan kesenjangan mutu pendidikan antardaerah dan antarsatuan pendidikan.
Ke depan, Kemendikdasmen akan mempercepat penyelesaian revitalisasi sekolah, memperluas digitalisasi pembelajaran, dan meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan serta kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Inovasi Australia dan McGill University Kanada.
Seluruh upaya tersebut dijalankan dengan semangat partisipasi semesta agar peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Mendikdasmen menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan pada akhirnya bergantung pada komitmen seluruh ekosistem pendidikan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.
“Murid jadilah pembelajar sepanjang hayat. Guru juga jadilah pendidik dan pembelajar sepanjang hayat,” pesannya. (esy/jpnn)
Video Terpopuler Hari ini:
BACA ARTIKEL LAINNYA... Korlantas Jemput Bola Layanan SIM ke Desa, Sekolah, Kampus, dan Pesantren
Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Mesyia Muhammad





Komentar (0)