Jakarta, VIVA - Industri semen domestik masih memiliki prospek menjanjikan, seiring perbaikan permintaan yang didorong meningkatnya aktivitas konstruksi di tingkat nasional.
Sejumlah program pemerintah juga diperkirakan menjadi penggerak peningkatan permintaan industri semen. Di antaranya program 3 juta rumah, pembangunan infrastruktur nasional dan daerah, giant sea wall, serta investasi industri dan hilirisasi.
Potensi permintaan juga datang dari sektor swasta atau komersial, seiring meningkatnya pembangunan berbagai proyek, mulai dari high-rise residential, kawasan komersial, hingga data center.
Meski demikian, kesiapan industri dan kemampuan produksi semen nasional untuk memenuhi kebutuhan domestik saat ini dinilai sudah cukup memadai, bahkan mengalami kelebihan kapasitas (overcapacity).
Karena itu, untuk menyiasati kondisi kelebihan kapasitas sekaligus meningkatkan utilisasi produksi, pemerintah juga terus mendorong optimalisasi pasar ekspor.
Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui BUMN sektor semen, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), yang kini telah memperluas pasar ke sejumlah negara tujuan ekspor utama, termasuk Amerika Serikat (AS).
Bahkan, sejak Juni 2026, SIG melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, telah mengekspor lebih dari 300 ribu ton semen tipe khusus ke AS melalui kemitraan strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation.
"Di tengah tantangan overcapacity hingga peningkatan biaya energi, SIG menjalankan inisiatif strategis untuk mengamankan sektor penjualan dan pendapatan, mendorong efisiensi melalui operational excellence, serta pengelolaan keuangan yang baik," kata Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra dalam keterangannya, Minggu, 1 November 2026.
Strategi tersebut turut mendorong kinerja perseroan hingga berhasil membukukan kinerja keuangan konsolidasi tidak diaudit (unaudited) periode Januari-September 2026 yang positif.
Pada periode tersebut, volume penjualan SIG tercatat mencapai 27,87 juta ton dengan pendapatan sebesar Rp 27,67 triliun. Sementara itu, beban pokok pendapatan tercatat Rp 21,55 triliun dan EBITDA mencapai Rp 3,56 triliun.
"Dengan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 532 miliar," ujarnya.
Seiring permintaan semen nasional yang menunjukkan pemulihan, Indra juga melaporkan penjualan domestik SIG tumbuh 4,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 22,27 juta ton dari total volume penjualan yang mencapai 27,87 juta ton.






Komentar (0)