Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan sepekan mendatang seiring meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Ia mengatakan bahwa harga emas berpotensi turun hingga US$3.737 per troy ons apabila tekanan pasar berlanjut, dari penutupan perdagangan Sabtu di US$3.876 per troy ons.
"Kalau seandainya terkoreksi lagi dalam perdagangan hari Senin, kemungkinan besar di US$3.818. Kemudian dalam satu pekan sampai di hari Sabtu, kemungkinan besar harga emas dunia itu ditransaksikan di level US$3.737," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026).
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang akan muncul di tengah kekhawatiran inflasi Amerika Serikat akibat kenaikan harga energi, terutama minyak mentah.
“89% ekonom di Amerika mengindikasikan bahwa ada kemungkinan di akhir tahun ini 25 basis poin yang akan dinaikkan oleh bank sentral Amerika,” tuturnya.
Ia menilai, kenaikan harga minyak bisa menjadi pendorong meningkatnya biaya bahan bakar dan bahan pokok di Amerika Serikat sehingga berpotensi mendorong bank sentral mempertimbangkan penyesuaian suku bunga pada November atau Desember.
“Kalau seandainya harga minyak terus menaik, gasolin dan solar di Amerika juga tinggi, akan berdampak terhadap bahan makanan pokok di Amerika, ada kemungkinan besar bank sentral Amerika akan menaikkan suku bunga di bulan November atau bulan Desember,” katanya.
Baca Juga: BRMS Kantongi Laba US$11 Juta, Produksi Emas Meroket 166%
Baca Juga: Freeport Persoalkan Bea Keluar Emas 10%, Singgung Ketentuan IUPK
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan daya tarik imbal hasil obligasi dibandingkan emas. Ibrahim menilai kondisi tersebut dapat mendorong investor mengalihkan sebagian dananya dari logam mulia.
“Ini yang membuat indeks dolar kembali lagi mengalami penguatan, harga minyak menguat, rupiah melemah, kemudian harga emas dunia kembali terkoreksi,” ujarnya.
Dalam proyeksinya, emas dunia berpotensi bergerak pada rentang US$3.737 hingga US$4.003 per troy ons selama sepekan. Jika menguat pada awal pekan, harga diperkirakan mencapai US$3.951 per troy ons.






Komentar (0)