JAKARTA – Hilirisasi nikel Indonesia memasuki tahap baru dengan mengarahkan investasi menuju produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan industri yang melampaui pembangunan smelter dan produksi bahan setengah jadi.
Sasaran berikutnya mencakup bahan baku baterai, sel baterai, hingga baja nirkarat jadi. Melalui pendalaman industri tersebut, pemerintah ingin memperbesar manfaat pengolahan nikel bagi tenaga kerja dan kemampuan teknologi nasional.
Baca Juga
Iran Tetapkan Angkatan Laut dan Udara Inggris Sebagai Organisasi Teroris
Penggerebekan Ponpes Hamalatul Quran Sukoharjo Picu Trauma Santri dan Ustazah
RANS Carnival di Sleman DIY Sepi Pengunjung Pascaseruan Boikot, UMKM Pergi Musisi Pilih Mundur
“Hilirisasi kita tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Kita harus bergerak sampai menghasilkan produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik, agar nilai tambah, lapangan pekerjaan, dan penguasaan teknologi benar-benar berada di Indonesia,” kata Bahlil dalam keterangan tertulis, Ahad(1/11/2026).
Menurut dia, perubahan arah ini berangkat dari tantangan struktur industri pengolahan. Dalam naskah kebijakan yang disampaikan, sekitar 50–60 persen kapasitas smelter nikel disebut masih menghasilkan produk antara.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Artinya, pengembangan fasilitas pengolahan masih menyisakan pekerjaan untuk menyambungkan hasil smelter dengan industri pembuat produk akhir. Indonesia perlu memperpanjang rantai produksi agar manfaat ekonomi pengolahan mineral semakin besar dinikmati di dalam negeri.
Pemerintah juga mengkaji pembatasan pembangunan smelter baru yang hanya memproduksi bahan setengah jadi. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mengarahkan investasi ke tahapan pengolahan yang lebih tinggi.
Komentar (0)