Dirut BEI: Saham syariah miliki ketahanan baik di tengah tekanan pasar

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Kabupaten Lombok Tengah (ANTARA) - Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan saham-saham syariah memiliki daya tahan yang cenderung baik di tengah adanya tekanan di pasar saham Indonesia, baik akibat sentimen dari domestik maupun global.

Alasannya, ia menjelaskan salah satunya yaitu di dalam indeks saham syariah tidak mencakup saham-saham perbankan konvensional, yang merupakan saham paling tertekan di pasar modal sepanjang tahun 2026.

“Kalau kita lihat memang demikian ya, baik dari sisi produknya maupun dari sisi investornya, daya tahannya harusnya lebih baik yang di syariah,” ujar Jeffrey, di sela Capital Market Journalist Workshop 2026, di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu.

Selain alasan tersebut, Jeffrey menjelaskan investor saham syariah juga bertransaksi tanpa menggunakan fasilitas berbasis bunga, termasuk margin.

Dengan demikian, investor saham syariah tidak menghadapi risiko margin call atau penjualan paksa saham akibat penggunaan fasilitas tersebut.

“Investor syariah tentu akan bertransaksi saham tanpa riba, apalagi margin, ya jadi tentu tidak ada risiko margin call atau force sell,” ujar Jeffrey.

Di tengah adanya tekanan ke pasar saham Indonesia sepanjang tahun 2026, indeks-indeks yang mencakup saham syariah tercatat masih memiliki kapitalisasi pasar (market cap) yang besar.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kapitalisasi pasar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai Rp5.658,68 triliun pada Agustus 2026.

Pada periode sama, kapitalisasi pasar Jakarta Islamic Index (JII) tercatat sebesar Rp1.891,89 triliun, kemudian kapitalisasi pasar Jakarta Islamic Index 70 (JII70) tercatat sebesar Rp2.681,94 triliun.

Apabila dibandingkan, total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp11.449 triliun pada Agustus 2026.

Jeffrey mengatakan dari data-data tersebut menunjukkan bahwa pilihan saham yang dapat menjadi alternatif investasi sesuai prinsip syariah sangat luas.

Lebih lanjut, OJK juga mencatat terdapat 622 saham dalam Daftar Efek Syariah (DES) hingga kuartal III-2026, ditambah tiga saham yang masuk melalui penetapan DES insidentil.

Baca juga: OJK catat piutang pembiayaan syariah Rp31,05 triliun di Januari 2026

Baca juga: OJK: Investasi saham didukung fatwa DSN-MUI dan sistem syariah


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Respons Putusan Suket SMA Gibran, PKS: DPR Perlu Ambil Sikap Konstitusional
• 14 jam lalu
0
thumb
Juara Bertahan Langsung Mengamuk, GS Caltex Kirim Sinyal Bahaya untuk Megawati Cs
• 23 jam lalu
0
thumb
Menlu AS: Trump Belum Putuskan soal Serangan Baru ke Iran
• 17 jam lalu
0
thumb
Tinjau bedah rumah di Palmerah, Menteri PKP pastikan tepat sasaran
• 22 jam lalu
0
thumb
Ada Apel Akbar Bulan Solidaritas Palestina di Monas, Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.