PSM Makassar di Usia 111 Tahun: Pesan Aksa Mahmud dan Meresapi Kembali Makna Pasukan Ramang

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Usia PSM Makassar telah menembus 111 tahun. Klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) ini melewati perjalanan panjang dengan segala kebanggaan, perjuangan, dan sejarah yang melekat di dalamnya.

Namun, peringatan hari jadi ke-111 PSM Makassar kali ini tidak datang dengan hadiah kemenangan. Juku Eja justru harus menelan kekalahan 0-1 dari Madura United di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Sabtu (31/10/2026).

Kekalahan itu menjadi pembuka refleksi dalam perayaan anniversary PSM Makassar yang digelar sehari lebih awal di Top Room Lantai 19 Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Minggu (1/11/2026).

Founder Fajar Group Bosowa Corporindo yang juga Komisaris Utama PT Fajar Indonesia Corporindo (FIC), HM Aksa Mahmud, hadir memberikan pesan kepada seluruh elemen tim. Di hadapan pelatih, pemain, dan jajaran manajemen, ia mengingatkan bahwa PSM Makassar bukan sekadar klub sepak bola yang mengejar kemenangan.

Ada kehormatan, sejarah, dan semangat perjuangan yang harus terus dijaga.

Tema perayaan tahun ini, Rise Together atau Bangkit Bersama, terasa semakin relevan setelah kekalahan dari Madura United. Bagi Aksa, hasil pertandingan tersebut tidak boleh membuat seluruh elemen PSM larut dalam kekecewaan.

Sebaliknya, momentum ulang tahun harus menjadi titik untuk kembali menguatkan semangat dan menatap pertandingan berikutnya dengan optimisme.

Peringatan anniversary ke-111 PSM Makassar itu dihadiri Komisaris PT Persaudaraan Sepakbola Makassar (PSM), Andi Suruji, serta General Manager PSM Makassar, Muhammad Nur Fajrin.

Jajaran pelatih yang hadir di antaranya Darije Kalezic, Velibor Pudar, Ahmad Amiruddin, Aleksandar Ilic, Krsto Jokic, dan Iman Suherman.

Sebanyak 30 pemain PSM Makassar juga hadir, kecuali Stefan Jevtoski. Para pemain mengenakan baju putih dengan tulisan PSM Makassar di bagian dada.

Hadir pula Direktur Akademi PSM Makassar, Akbar Rasyid, bersama jajaran pelatih dan ofisial akademi, termasuk pelatih PSM U-16 Budiman Buswir, PSM U-18 Fathul Rahman, dan PSM U-20 Ahmad Rajendra Paturusi.

Belasan anak yatim piatu dari panti asuhan turut menjadi bagian dalam perayaan tersebut.

Di tengah suasana kebersamaan itu, Aksa Mahmud menyampaikan pesan yang menjadi pengingat bagi seluruh penggawa Juku Eja.

“Jadi, hadiahnya ulang tahun kita ke-111, hadiah kekalahan. Biasanya ulang tahun PSM Makassar hadiahnya menang dalam pertandingan,” katanya.

Pernyataan tersebut disambut senyum dan perhatian para hadirin. Kekalahan memang bukan hadiah yang diharapkan dalam perayaan ulang tahun sebuah klub. Namun, Aksa mengingatkan bahwa hasil pertandingan sudah terjadi dan tidak dapat diubah.

Yang terpenting, bagaimana PSM menjadikan kekalahan itu sebagai pelajaran.

“Ini sudah terjadi, mari kita sama-sama semuanya agar ulang tahun PSM Makassar berikutnya selalu dihadiahkan dengan kemenangan,” ucapnya yang disambut amin oleh seluruh hadirin.

Meresapi Filosofi Polo Pappa, Polo Panni

Di balik kekalahan dari Madura United, Aksa Mahmud tetap melihat sesuatu yang patut dibanggakan dari perjuangan para pemain PSM Makassar.

Ia menilai para penggawa Juku Eja telah menunjukkan semangat juang yang sesuai dengan karakter PSM sejak dahulu.

Semangat tersebut dikenal melalui filosofi polo pappa, polo panni. Sebuah ungkapan yang menggambarkan perjuangan tanpa mengenal kata menyerah, sekalipun harus menghadapi rasa sakit dan kesulitan.

Bagi Aksa, filosofi tersebut bukan sekadar ungkapan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai itu harus benar-benar hidup dalam setiap pertandingan yang dijalani PSM Makassar.

“Filosofinya orang PSM Makassar itu dari dulu itu polo pappa, polo panni. Artinya, sakit pahanya, patah pahanya, patah tangannya, tapi melawan, masih melawan,” tegasnya.

Aksa menilai para pemain telah memperlihatkan semangat tersebut ketika menghadapi Madura United. Meski hasil akhir tidak berpihak kepada PSM, perjuangan yang ditampilkan di lapangan tetap layak diapresiasi.

“Saya lihat kemarin perjuangannya bagus, cuma hokinya yang tidak datang. Oleh karena itu, saudara-saudara semuanya jangan pantang menyerah,” tegasnya.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa identitas PSM Makassar tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan. Ada karakter yang harus dipertahankan, yakni keberanian untuk terus berjuang meski berada dalam situasi sulit.

Di usia yang telah melewati satu abad, karakter tersebut menjadi salah satu warisan paling berharga bagi klub yang dikenal dengan julukan Pasukan Ramang.

Aksa pun meminta seluruh pemain untuk tetap memegang prinsip tersebut.

“Kalau kakimu tidak bisa melawan, jiwamu yang harus melawan. Itu yang saya harapkan, semangat saudara-saudara harus ditanamkan di PSM Makassar,” ucap mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tersebut.

Pasukan Ramang dan Sejarah Sepak Bola Indonesia

Pesan Aksa Mahmud tidak berhenti pada filosofi perjuangan. Ia juga mengingatkan seluruh pemain tentang sejarah panjang PSM Makassar yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Andi Ramang.

Nama Ramang merupakan salah satu legenda sepak bola Indonesia yang pernah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Ramang menjadi bagian penting dalam perjalanan Timnas Indonesia menuju kualifikasi Piala Dunia 1958 di Swedia.

Gol-gol krusialnya turut mengantarkan Indonesia unggul agregat 4-3 atas China. Namun, langkah Indonesia menuju Piala Dunia akhirnya terhenti setelah memilih mundur dari pertandingan berikutnya karena menolak menghadapi Israel.

Sejarah tersebut menjadi salah satu alasan nama Ramang begitu melekat dalam identitas PSM Makassar.

Julukan Pasukan Ramang bukan sekadar sebutan bagi para pemain Juku Eja. Di dalamnya terdapat kebanggaan atas warisan perjuangan seorang legenda yang pernah membawa nama Indonesia mendekati panggung sepak bola dunia.

“Itulah sebabnya saudara-saudara disebut Pasukan Ramang. Itulah darah anak bangsa Indonesia yang terbaik yang pernah mengantar Indonesia hampir ke Piala Dunia,” beber Aksa.

Ia berharap para pemain masa kini dapat memahami makna di balik nama besar tersebut.

PSM Makassar memiliki sejarah yang harus dijaga. Setiap pemain yang mengenakan seragam Juku Eja memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan warisan perjuangan yang telah dibangun selama lebih dari satu abad.

Kehormatan PSM dan Tantangan Bertahan di Kasta Tertinggi

Aksa Mahmud juga menyinggung perjalanan PSM Makassar dalam persaingan sepak bola Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa PSM merupakan salah satu klub besar era Perserikatan bersama Persebaya Surabaya, Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSMS Medan.

Dari lima klub tersebut, PSM Makassar menjadi salah satu klub yang tetap eksis di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Aksa menyebut PSM sebagai klub yang tidak pernah mengalami degradasi ke kasta kedua.

“Dari lima klub Perserikatan, PSM Makassar termasuk tim tak pernah degradasi ke Liga 2,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Ia membandingkan perjalanan PSM dengan Persebaya Surabaya dan PSMS Medan yang pernah merasakan turun kasta.

Persebaya pernah bermain di divisi kedua, sedangkan PSMS Medan hingga kini masih berjuang di kasta kedua sepak bola Indonesia.

Bagi Aksa, sejarah tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh pemain dan jajaran pelatih PSM Makassar.

Mempertahankan posisi di kasta tertinggi bukan sekadar target kompetisi, melainkan bagian dari menjaga kehormatan klub.

“Kita akan tetap bertahan di divisi satu (Super League). Oleh karena itu, di periode ini saya harapkan kepada saudara-saudara semuanya agar berjuang mati-matian, berjuang mati-matian untuk mempertahankan kehormatan PSM Makassar,” pintanya.

Pesan tersebut menjadi semakin penting mengingat PSM Makassar tengah menjalani kompetisi Super League 2026/2027 dengan tantangan yang tidak ringan.

Kekalahan dari Madura United menjadi pengingat bahwa perjalanan musim ini masih panjang dan membutuhkan konsistensi.

Aksa pun berharap PSM tidak hanya mampu mempertahankan posisinya di kasta tertinggi, tetapi juga kembali merasakan gelar juara.

Aksa Berharap Darije Kalezic Bawa PSM Juara Lagi

Di hadapan pelatih Darije Kalezic, Aksa Mahmud menyampaikan harapannya agar PSM Makassar kembali meraih prestasi tertinggi.

Darije bukan sosok asing bagi Juku Eja. Pelatih asal Belanda tersebut pernah membawa PSM Makassar meraih gelar juara Piala Indonesia 2019.

Pengalaman tersebut menjadi alasan Aksa menaruh harapan besar kepada sang pelatih.

“Saya harapkan mengantar lagi PSM Makassar juara lagi kembali di tangannya Mister Darije,” pintanya.

Aksa mengaku akan membuka ruang diskusi bersama Darije Kalezic mengenai kebutuhan tim, termasuk pemain yang diinginkan untuk memperkuat skuad.

Menurut dia, pembinaan dan pengembangan tim harus dilakukan secara bersama-sama agar PSM mampu tampil lebih baik.

“Kita akan duduk bersama-sama bagaimana cari pemain atau saudara-saudara harus bermain sebaik mungkin. Itulah harapan saya kepada saudara-saudara,” ucapnya.

Namun, sebelum berbicara lebih jauh mengenai gelar juara, Aksa memberikan target terdekat kepada PSM Makassar.

Juku Eja diminta segera bangkit dan mengalihkan fokus ke pertandingan berikutnya melawan Borneo FC Samarinda.

Target Menang di Samarinda

PSM Makassar dijadwalkan menghadapi Borneo FC di Stadion Segiri, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (7/11/2026).

Pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Pasukan Ramang untuk menjawab pesan Aksa Mahmud sekaligus memperbaiki hasil setelah kekalahan dari Madura United.

Aksa secara tegas meminta para pemain dan jajaran pelatih untuk memburu kemenangan.

“Pertandingan berikutnya saya menitip kepada pelatih, asisten pelatih dan seluruh pemain, kita harus mengalahkan Borneo,” tegasnya.

Ia bahkan menyatakan kesediaannya untuk hadir langsung di Samarinda guna menyaksikan perjuangan PSM Makassar.

Aksa juga membuka peluang mengajak jajaran direksi Bosowa Corporindo untuk memberikan dukungan langsung kepada tim.

“Saya datang pertandingan melawan Borneo, menerima kemenangan dari saudara-saudara semua. Insyaallah kita akan melihat semuanya dan jangan pernah menyerah,” pungkasnya.

Di usia ke-111 tahun, PSM Makassar kembali diingatkan bahwa sejarah besar tidak cukup hanya dikenang. Warisan Andi Ramang, filosofi polo pappa, polo panni, serta kebanggaan sebagai klub yang tidak pernah degradasi harus diwujudkan dalam perjuangan nyata.

Kekalahan dari Madura United mungkin menjadi hadiah ulang tahun yang tidak diharapkan. Namun, bagi Aksa Mahmud, yang lebih penting adalah bagaimana PSM bangkit, menjaga kehormatan, dan terus berjuang agar ulang tahun berikutnya dapat dirayakan dengan kemenangan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Borneo FC Waspadai Misi Kebangkitan PSIM di Markas Sendiri
• 13 jam lalu
0
thumb
Respons Parpol Usai MA Nyatakan Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Tak Sah
• 19 jam lalu
0
thumb
Makassar Half Marathon 2027 Bidik 12.000 Pelari
• 11 jam lalu
0
thumb
Lokasi SIM Keliling Beroperasi di Jakarta pada Minggu Ini
• 16 jam lalu
0
thumb
BNPB: Angin Puting Beliung Landa Lampung, Banjir Terjang Banyumas
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.