Sumba Timur: Ketersediaan pupuk subsidi belum sepenuhnya menjamin petani dapat memperolehnya tepat waktu. Di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), proses penebusan pupuk masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari cuaca buruk yang menghambat pengiriman hingga gangguan pada sistem aplikasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sumba Timur, Nico Pandarangga, mengatakan pupuk subsidi untuk wilayahnya didatangkan dari Jawa menggunakan kapal laut. Kondisi cuaca yang tidak bersahabat dapat menghambat pelayaran sehingga pasokan pupuk terlambat tiba di daerah.
Menurut Nico, situasi tersebut menjadi persoalan karena kebutuhan pupuk di tingkat petani berkaitan erat dengan jadwal musim tanam. Ketika kapal tidak dapat berlayar, pasokan pupuk di tingkat distributor maupun pengecer ikut terdampak.
"Apalagi kalau iklimnya tidak bersahabat, ada pengumuman dari BMKG yang melarang untuk berlayar sementara. Sedangkan kebutuhan pupuk di masyarakat ini diharapkan untuk musim tanam yang sedang berjalan," kata Nico saat diwawancarai Metrotvnews.com di Sumba Timur, Kamis, 29 Oktober 2026.
Baca Juga :
Pemkab Sumba Timur Siapkan 75 Ton Benih Padi Bersertifikat untuk PetaniKondisi tersebut membutuhkan tambahan waktu, tenaga, hingga biaya transportasi, terutama bagi petani yang tinggal jauh dari lokasi pengecer.
“Kadang-kadang aplikasinya error. Mereka harus menunggu berapa lama lagi, kemudian datang lagi. Itu membutuhkan waktu, tenaga, dan transportasi bagi petani untuk menebus pupuknya," ujarnya.
Ilustrasi. Sawah padi di Sumba. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul. Pergeseran Musim Tanam Pengaruhi Ketersediaan Pupuk Persoalan lain muncul ketika waktu musim tanam bergeser dari kebiasaan sebelumnya. Nico menjelaskan, sebagian petani memiliki kebiasaan menebus pupuk ketika musim hujan mulai tiba.
Akibatnya, banyak petani datang secara bersamaan untuk membeli pupuk. Sementara itu, pengecer belum tentu memiliki stok yang cukup karena pemesanan sebelumnya tidak selalu sesuai dengan kebutuhan aktual petani.
Menurut Nico, pengecer juga menghadapi risiko apabila pupuk yang sudah dipesan dari distributor tidak segera ditebus oleh petani. Pasokan yang menumpuk di gudang dapat menimbulkan kerugian bagi pengecer.
“Banyak petani yang tidak bisa menebus atau tidak membeli pupuknya. Dengan dasar itulah, pengecer memesan pupuk ke distributor. Ini juga bisnis. Kalau jumlahnya banyak ditumpuk di gudang dan tidak ada yang menebus, pengecernya bisa rugi,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan waktu musim tanam membuat kebutuhan pupuk sulit diperkirakan apabila petani baru melakukan penebusan ketika hujan mulai turun.
Baca Juga :
Cerita Manis Petani di Sumba Barat Usai Pakai Benih SridewiDigitalisasi juga dinilai dapat mencegah penebusan pupuk secara ganda maupun manipulasi data penggunaan.
“Dengan adanya digitalisasi sebenarnya ini bagus. Jadi tidak ada lagi yang namanya mengambil dobel, tidak ada lagi yang memanipulasi, dan lain sebagainya. Semua sudah digitalisasi, sehingga jelas pemakaiannya,” tutur Nico.
Meski demikian, ia mengakui manfaat digitalisasi perlu didukung dengan kelancaran sistem serta distribusi pupuk yang tepat waktu agar tidak menambah kesulitan petani di lapangan.





Komentar (0)