Tekan Disparitas Harga Cabai Rawit Antarwilayah, Kemendag Fasilitasi Pengiriman Stok

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pengiriman cabai rawit ini sekaligus memperkuat pasokan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Tekan Disparitas Harga Cabai Rawit Antarwilayah, Kemendag Fasilitasi Pengiriman Stok. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Kementerian Perdagangan memfasilitasi pengiriman 7 ton cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur, ke Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, untuk mengurangi disparitas harga cabai rawit antarwilayah. 

Pengiriman cabai rawit ini sekaligus memperkuat pasokan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, fasilitasi pengiriman ini bertujuan untuk memperkuat konektivitas perdagangan antardaerah, khususnya dengan menghubungkan sentra produksi dan daerah yang mengalami keterbatasan pasokan. 

Baca Juga:
Ekspor RI Tembus USD193 Miliar, Kemendag Fokus Jalankan Tiga Program Prioritas

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (bapok), terutama menjelang momen Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).

“Untuk mengatasi kesenjangan harga bapok antarwilayah, Kemendag mendorong kerja sama pasokan antara daerah sentra produksi dan daerah yang membutuhkan. Melalui fasilitasi ini, kami berharap tambahan pasokan dapat menjaga keseimbangan harga, serta memastikan masyarakat memperoleh bapok dengan harga yang terjangkau,” ujar Mendag Busan (31/10/2026).

Baca Juga:
Ekspor Alat Musik Tembus Rp6,2 Triliun, Kemendag Beberkan Peluang Indonesia di Pasar Global

Mendag Busan menjelaskan, pengiriman cabai rawit ke Halmahera Utara merupakan bagian dari kerja sama distribusi pangan antardaerah yang difasilitasi Kemendag bersama Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara. Pengiriman turut didukung Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). 

Fasilitasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga dan kebutuhan pasokan di daerah tujuan yang dipantau melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag. Berdasarkan SP2KP pada 27 Oktober 2026, harga cabai rawit di Halmahera Utara di kisaran Rp150.000/kg.

Baca Juga:
Cabai Rawit di Halmahera Utara Tembus Rp150 Ribu per Kg, Kemendag Tambah Pasokan

“Fasilitasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga dan kebutuhan pasokan di daerah tujuan,” tambah Mendag Busan.

Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua, mengapresiasi fasilitasi perdagangan antardaerah tersebut. Menurutnya, tambahan pasokan dari Jawa Timur diharapkan dapat memperlancar distribusi, menjaga ketersediaan cabai rawit, dan membantu mengendalikan gejolak harga.

“Pengiriman cabai ini dapat memperlancar distribusi komoditas dari daerah penghasil ke daerah yang membutuhkan. Tambahan pasokan dari Jawa Timur diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menekan harga cabai yang telanjur melonjak. Kami harap, tambahan pasokam tersebut dapat menekan harga hingga di bawah Rp100.000/kg,” ujar Piet.

Penguatan Sinergi Distribusi

Selain memfasilitasi pengiriman komoditas, Kemendag mendorong penguatan KAD untuk memperlancar pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan. Salah satunya melalui fasilitasi penandatanganan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dan Pemerintah Kabupaten Malang pada Senin (19/10/2026). 

Penandatanganan ini turut didukung oleh Bank Indonesia melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Untuk mengatasi kendala logistik, lanjut Iqbal, Kemendag memperkuat sinergi dengan kementerian, lembaga, dan penyedia jasa transportasi. 

Fasilitasi Distribusi Pangan dikoordinasikan bersama Bapanas. Pengiriman telur dapat dioptimalkan melalui kerja sama dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), sedangkan pengiriman cabai melalui jalur udara dapat dipertimbangkan untuk mempercepat distribusi karena daya tahan komoditas yang terbatas. 

Pemilihan moda transportasi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasokan, waktu tempuh, dan efisiensi biaya.

Penguatan distribusi juga didukung oleh program Gerai Maritim yang memanfaatkan Tol Laut dan Jembatan Udara untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP). 

Program ini menjangkau 63 kota/kabupaten melalui Tol Laut dan 12 kabupaten melalui Jembatan Udara. Program tersebut mencatatkan penurunan harga rata-rata sebesar 11,22 persen, dengan penurunan harga bapok sebesar 11,63 persen dan barang penting sebesar 8,04 persen. 

Kemendag turut memperkuat pemantauan arus barang melalui pelaporan angkutan barang antarpulau menggunakan sistem Indonesia National Single Window (INSW). Pada Januari–September 2026, pelaporan mencakup 244 pelabuhan dengan volume barang tercatat sebesar 541,26 juta ton. 

Sementara itu, pelaporan distribusi bapok dan barang penting (bapokting) melalui INATRADE melibatkan 253 pelaku usaha dan mencakup 16 komoditas. Koordinasi kerja sama antardaerah juga telah menjangkau 18 provinsi dan 301 kabupaten/kota.

“Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pasokan di daerah yang membutuhkan, menekan kesenjangan harga antarwilayah, serta menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat,” tutup Iqbal. 

(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Datangi Rumah Prabowo, Khozinudin Bawa Surat Desakan Gibran Mundur, Begini Nasibnya
• 21 jam lalu
0
thumb
Hasil, Klasemen, dan Top Skor Liga Italia: Inter Milan Lengser, AS Roma dan AC Milan Panaskan Persaingan Scudetto, Como Juga Mengancam
• 7 jam lalu
0
thumb
Orientasi Pengurus Golkar Sulsel, IAS Siapkan Karpet Merah bagi Kader di DPRD
• 21 jam lalu
0
thumb
Kisah Perjalanan Mendiang Hj Suharti, Sosok di Balik Ayam Goreng Kremes Legendaris
• 20 jam lalu
0
thumb
Sejauh Mana RKAB Menjamin Keberlanjutan Industri Tambang?
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.