Mengintip Dapur Bisnis "Money Changer"

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Papan digital yang menayangkan pergerakan kurs mata uang asing selalu menarik perhatian. Ketika grafik nilai tukar mata uang dolar AS melonjak menembus angka psikologis Rp 18.000, bayangan publik kerap melayang pada satu kesimpulan: para pengelola gerai penukaran valuta asing atau money changer sedang menikmati “pesta” keuntungan.

Namun, di balik dinamika papan kurs yang berganti angka setiap jam, dunia penyelenggara kegiatan usaha jual-beli valuta asing bukan bank (KUPVA BB) memiliki dapur bisnis yang jauh lebih kompleks.

Lonjakan nilai tukar tidak meluluh menjadi mesin pencetak uang secara otomatis, melainkan menjadi pertarungan sengit antara manajemen modal, kecepatan perputaran stok, dan mitigasi risiko fluktuasi pasar.

Gambaran itu terlihat pada gerai penukaran valuta asing Chandra Prima di Tanah Abang, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Untuk mencapai gerai ini, pelanggan perlu menaiki tangga menuju lantai dua bangunan pertokoan. Di dalamnya, sederet bangku disediakan bagi pelanggan yang menunggu giliran bertransaksi. Sementara itu, mesin penghitung uang terus bekerja menghitung lembaran valuta asing yang berpindah tangan.

Direktur Chandra Prima Surya Joko Wijaya mengatakan, gerainya melayani sedikitnya sepuluh penukar uang setiap hari. Pelayanan juga dilakukan secara daring melalui sistem pemesanan sebelum pelanggan datang ke lokasi. Menurut dia, transaksi daring menyumbang sekitar 60–65 persen dari total transaksi harian.

Melalui layanan tersebut, pelanggan dapat memesan mata uang asing yang dibutuhkan terlebih dahulu. Setelah jumlah dan kurs dikonfirmasi, gerai menyiapkan uang sebelum pelanggan datang sehingga waktu tunggu dapat dipersingkat. “Cara itu kami lihat lebih efisien,” kata Surya.

Asal pasokan uang

Layaknya bisnis perdagangan, money changer membutuhkan persediaan barang untuk melayani permintaan pelanggan. Bedanya, komoditas yang diperdagangkan berupa uang kertas asing atau banknotes.

Menurut Surya, pasokan valuta asing dapat diperoleh dari masyarakat yang menukarkan uang, sesama pengelola money changer, serta perbankan. Ketiga sumber tersebut membantu gerai menjaga ketersediaan mata uang sesuai kebutuhan transaksi.

Baca JugaJelang Natal dan Tahun Baru, Permintaan Valuta Asing Meningkat

Masyarakat menjadi salah satu sumber pasokan ketika menukarkan sisa uang perjalanan ke rupiah atau menjual simpanan valuta asing. Sementara itu, kerja sama dengan sesama pengelola memungkinkan gerai memperoleh mata uang yang sedang dibutuhkan dari pihak yang memiliki persediaan lebih banyak.

Perbankan juga menjadi mitra dalam memenuhi kebutuhan valuta asing. Ketika persediaan mata uang tertentu tidak mencukupi, pengelola gerai perlu mencari pasokan tambahan agar tetap dapat melayani pelanggan.

Jenis mata uang yang disediakan pun menyesuaikan karakteristik pelanggan dan aktivitas ekonomi di sekitar gerai.

Di kawasan perdagangan Tanah Abang, Surya mengatakan, permintaan tidak hanya datang untuk dolar AS dan dolar Singapura. Yuan China (renminbi) dan dong Vietnam juga dicari untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pedagang yang melakukan transaksi terkait perdagangan internasional.

Sebaliknya, mata uang yang jarang diminta, seperti rupe India, cenderung lebih jarang disediakan dalam jumlah besar. Pengelola perlu mempertimbangkan kemungkinan mata uang tersebut tersimpan lebih lama sebelum kembali terjual.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa bisnis money changer tidak hanya bergantung pada nilai tukar, tetapi juga pada kemampuan pengelola menyesuaikan persediaan dengan permintaan pasar.

Mengandalkan selisih kurs

Sumber pendapatan utama money changer berasal dari spread, yakni selisih antara kurs beli dan kurs jual. Kurs beli merupakan harga yang dibayarkan gerai ketika membeli valuta asing dari pelanggan, sedangkan kurs jual merupakan harga yang dikenakan ketika gerai menjual valuta asing kepada pelanggan.

Baca JugaSimpanan Valas di Perbankan Terus Meningkat

Surya mengatakan, dalam kondisi pasar normal, Chandra Prima menerapkan selisih kurs sekitar Rp 20–Rp 50 per unit dolar AS. Ketika permintaan meningkat tajam dan persediaan menipis, selisih tersebut dapat melebar menjadi Rp 100 atau lebih.

Besarnya selisih kurs, menurut dia, bergantung pada mata uang yang diperdagangkan dan tingkat permintaan pasar. Ketika banyak pelanggan memburu mata uang tertentu, pengelola perlu menyesuaikan harga dengan kondisi persediaan dan biaya memperoleh pasokan tambahan.

Sebagai ilustrasi, sebuah gerai membeli dolar AS dengan kurs Rp 18.000 dan menjualnya kembali pada kurs Rp 18.100. Selisihnya mencapai Rp 100 per dolar AS.

Jika gerai membeli 1.000 dolar AS pada kurs tersebut dan seluruhnya berhasil dijual kembali pada kurs Rp 18.100, nilai pembelian mencapai Rp 18 juta, sedangkan hasil penjualannya Rp 18,1 juta. Selisihnya sebesar Rp 100.000.

Angka itu merupakan margin kotor dari transaksi tersebut sebelum memperhitungkan biaya operasional dan risiko usaha. Dalam praktiknya, margin yang terealisasi dapat berbeda karena kurs berubah, harga transaksi tidak selalu sama dengan kurs yang terpampang, dan persediaan belum tentu seluruhnya terjual pada harga yang direncanakan.

Kecepatan perputaran persediaan menjadi penting karena gerai money changer harus memastikan uang yang dimiliki dapat digunakan untuk mendukung transaksi berikutnya.

Karena itu, besarnya spread tidak bisa langsung disamakan dengan laba bersih. Pengelola juga memperhitungkan biaya sewa gerai, gaji pegawai, pengamanan uang tunai, serta kebutuhan operasional lainnya. Sejauh ini, gerai Chandra Prima mempekerjakan enam pegawai.

Baca JugaRupiah Tertekan Penguatan Dolar AS
Perputaran stok dan risiko

Di tengah perubahan kurs, pengelola harus menjaga keseimbangan antara persediaan valuta asing dan ketersediaan rupiah. Terlalu sedikit stok dapat membuat gerai kehilangan kesempatan melayani pelanggan. Sebaliknya, persediaan yang terlalu besar berpotensi menahan modal dan meningkatkan risiko ketika harga bergerak berlawanan dengan perkiraan.

Ketika banyak pelanggan membeli dolar AS, misalnya, persediaan gerai dapat menipis. Pengelola perlu mencari pasokan tambahan dari mitra atau perbankan. Sebaliknya, ketika banyak pelanggan menjual dolar AS, jumlah valuta asing yang tersimpan dapat meningkat dan perlu disalurkan kembali kepada pembeli atau mitra yang membutuhkan.

Kecepatan perputaran persediaan menjadi penting karena gerai money changer harus memastikan uang yang dimiliki dapat digunakan untuk mendukung transaksi berikutnya.

Risiko juga muncul dari kondisi fisik uang kertas. Dolar AS emisi lama atau uang yang kondisinya kurang baik dapat menghadapi perlakuan berbeda dalam proses penukaran kembali.

Uang tertentu mungkin lebih sulit diserap oleh pembeli atau mitra sehingga berpotensi ditawarkan dengan harga berbeda atau tidak diterima sesuai kebijakan pihak yang dituju.

Baca JugaTarik Devisa Hasil Ekspor, Bunga Deposito Valas Perlu Kompetitif
Tidak semata gerak kurs

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menjelaskan, keuntungan money changer tidak hanya ditentukan oleh arah pergerakan kurs, tetapi juga oleh selisih harga beli dan jual atau spread, volume transaksi, serta kecepatan perputaran persediaan.

Ketika dolar AS menguat, money changer membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli jumlah dolar yang sama. Jika kurs kembali berubah sebelum persediaan tersebut terjual, pelaku usaha berisiko memperoleh keuntungan yang lebih kecil, bahkan mengalami kerugian apabila harus menjual di bawah harga perolehan.

Di sisi lain, kenaikan permintaan valuta asing dapat membuka peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan transaksi. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan mereka memperoleh pasokan dan menjual kembali valuta asing dengan margin yang memadai.

Menurut Ibrahim, spread yang lebar juga tidak selalu mencerminkan keuntungan bersih yang lebih besar. Selisih harga tersebut perlu dilihat bersama biaya operasional, harga perolehan valuta asing, serta risiko yang ditanggung selama mata uang itu berada dalam persediaan.

Dengan demikian, keberlangsungan bisnis money changer tidak semata-mata bergantung pada apakah rupiah sedang menguat atau melemah. Kemampuan mengelola modal kerja, menjaga ketersediaan valuta asing, dan mengendalikan risiko perubahan kurs turut menentukan hasil usaha.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bamsoet: Prabowo minta Kadin jadi mitra strategis pemerintah
• 14 jam lalu
0
thumb
Danantara Indonesia Tegaskan Tidak Ada Dana Sponsorship dalam Partisipasi TIME100 Next 2026
• 21 jam lalu
0
thumb
Bermodus Truk Modifikasi, Polisi Ungkap Sindikat Penimbun Solar Subsidi
• 12 jam lalu
0
thumb
Ruben Amorim Kirim Pesan Tegas Jelang Hadapi Inter di Derbi della Madonnina: AC Milan Datang untuk Menang
• 23 jam lalu
0
thumb
Polisi Punya Mobil Khusus untuk Bongkar Mobil yang Ringsek, Begini Peralatannya
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.