Hasil Studi Ungkapkan Kaitan Polusi Udara dengan Risiko Katarak dan Glaukoma

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Penuaan selama ini dipahami sebagai faktor risiko terbesar penyebab katarak dan glaukoma. Namun, para ilmuwan melalui analisis terhadap sejumlah studi mengungkapkan bahwa paparan polusi udara juga berkaitan dengan masalah kesehatan mata tersebut.

Temuan tersebut diungkapkan oleh Ahmed Alnabihi, peneliti dari Rumah Sakit dan Pusat Penelitian Spesialis Mata King Khaled, Arab Saudi saat mempresentasikan penelitiannya di Kongres ke-44 European Society of Cataract and Refractive Surgeons (ESRS) di London, Inggris pada pertengahan September 2026. Penelitian tersebut dilakukan melalui tinjauan sistematis dan meta analisis terhadap 41 studi sebelumnya yang melibatkan jutaan orang di Asia Timur dan Inggris.

Alnabihi dikutip dari laman resmi ESCRS mengatakan, penyakit-penyakit seperti katarak dan glaukoma lebih dikenal sebagai penyakit yang terjadi akibat dari penuaan. Namun, lingkungan tempat tinggal seseorang ternyata bisa berpengaruh mempercepat kondisi tersebut.

Baca JugaPolusi Udara Picu Depresi, Kecemasan, dan Berbagai Gangguan Mental
Baca JugaPolusi Udara Jakarta Kronis, Revisi Perda Harus Sesuai Kondisi Terkini

“Jika ada faktor lingkungan yang dapat mempercepat penyakit-penyakit ini, cara pandang kita seharusnya bisa ikut berubah. Kita bisa mencari cara untuk menurunkan risikonya,” katanya.

Tim peneliti melakukan pengamatan terhadap paparan dari beberapa jenis polusi udara, seperti partikel halus PM 2,5, partikel PM 10, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, ozon, dan karbon monoksida. Peninjauan dilakukan pada dampak dari paparan jangka panjang dari polusi tersebut.

Adapun metode yang dilakukan beragam, mulai dari tinjauan pada sistem pemantauan pemerintah, data satelit, hingga model komputer untuk memperkirakan kadar polusi. Sejumlah studi pendukung juga dilakukan untuk mengkaji paparan jangka pendek dari polusi udara yang berkaitan dengan masalah mata yang muncul mendadak.

Dengan data-data tersebut, peneliti membandingkan antara paparan polusi udara dan angka kejadian glaukoma, katarak, serta degenerasi makula (area di bagian tengah retina) terkait usia. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa paparan PM 2,5 yang paling jelas berkaitan dengan risiko katarak dan glaukoma.

Untuk setiap peningkatan paparan polusi yang signifikan, risiko glaukoma meningkat sekitar delapan persen dan katarak sekitar empat persen.

Penelitian tersebut menyebutkan, orang yang tinggal di daerah paling tercemar dengan tingkat PM 2,5 yang tinggi lebih tinggi berisiko hingga 70 persen mengalami glaukoma dibandingkan mereka yang tinggal di daerah yang paling tidak tercemar. Orang yang tinggal di daerah dengan pencemaran udara tinggi juga lebih berisiko mengalami katarak.

“Untuk setiap peningkatan paparan polusi yang signifikan, risiko glaukoma meningkat sekitar delapan persen dan katarak sekitar empat persen,” tutur Alnabihi.

Baca JugaKabut di Mata akibat Katarak Hilang, Saatnya Cari Kerja Lagi  
Baca JugaDeteksi Glaukoma sejak Dini untuk Cegah Progresivitas

Partikel halus dari PM 2,5 diduga dapat menyebabkan peradangan dan stres oksidatif pada tubuh. Paparan yang terjadi selama bertahun-tahun tersebut dapat merusak saraf optik yang berkaitan dengan glaukoma dan katarak.

Tidak seperti organ lain, mata yang terbuka langsung terpapar dengan lingkungan sekitar, Permukaan pada mata, seperti konjungtiva dan kornea tidak memiliki lapisan penghalang sehingga risiko terhadap paparan dari luar menjadi lebih tinggi.

Standar kualitas udara

Menurut Alnabihi, temuan ini semakin memperkuat argumen untuk memperketat standar kualitas udara di lingkungan. Langkah-langkah untuk mengurangi polusi udara perlu lebih kuat dilakukan, mulai dari memperbanyak ruang terbuka hijau dan mengurangi kepadatan lalu lintas di perkotaan.

Baca JugaMutu Udara Jakarta Memburuk, Awasi Dampaknya pada Kesehatan
Baca JugaKualitas Udara Membaik, tetapi Belum Bebas dari Polusi

Kebijakan untuk mengupayakan udara bersih telah dipahami bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskuler dan organ paru. Dengan adanya temuan ini, kebijakan tersebut semakin relevan dijalankan guna menjaga kesehatan organ lain, termasuk mata.

“Para pemangku kebijakan yang mengupayakan investasi dalam pengendalian emisi kini punya alasan yang lebih kuat lagi untuk melakukannya. Bukti telah menunjukkan bahwa penglihatan kita juga berdampak,” katanya.

Mantan Presiden ESCRS yang juga Kepala Departemen Oftalmologi di Rumah Sakit da Luz, Lisbon, Portugal, Filomena Ribeiro menyampaikan, masalah katarak dan glaukoma mesti jadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan. Katarak yang merupakan suatu kondisi saat lensa mata menjadi keruh membuat orang dapat kehilangan penglihatannya.

Setidaknya terdapat 94 juta orang yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Selain itu, sebanyak 7,7 orang di seluruh dunia juga ditemukan mengalami glaukoma. Kondisi glaukoma juga dapat menyebabkan kehilangan penglihatan jika tidak terdiagnosis dan terobat sejak dini.

“Kedua kondisi tersebut lebih umum terjadi seiring bertambahnya usia, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang terpapar polusi udara tingkat tinggi juga menghadapi risiko yang lebih besar. Penelitian ini menambahkan isu kesehatan mata ke dalam daftar alasan untuk peduli terhadap kualitas udara,” tuturnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polisi Naik KRL Saat Serempak Gerebek Bandara Narkoba Kampung Bahari Jakut
• 22 menit lalu
0
thumb
Cegah narkoba, Kapolda Metro nilai pentingnya penataan Kampung Bahari
• 1 jam lalu
0
thumb
Usai Putusan MA, Pakar Hukum Tata Negara Ultimatum Gibran Agar Mengundurkan Diri dalam Waktu 3x24 Jam!
• 3 jam lalu
0
thumb
Menkop Ajak ICMI Wujudkan Koperasi Kemandirian Umat & Ekonomi Kerakyatan
• 17 jam lalu
0
thumb
Pusakata Rilis Single Anakku, Lagu tentang Cinta Orang Tua yang Tanpa Batas
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.