Mengapa Kita Suka dengan Tontonan yang Menakutkan?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Puncak perayaan Halloween 2026 yang diperingati setiap tanggal 31 Oktober usai sudah. Walau perayaan atas perasaan ketakutan yang menyenangkan itu berakar dari budaya Barat, sebagian masyarakat Indonesia turut merayakannya sebagai bagian dari budaya populer. Meski demikian, orang Indonesia juga memiliki kegilaan yang besar terhadap segala perkara yang menakutkan, seram, hingga hal-hal berbau mistis.

Di Amerika Serikat, Halloween dirayakan dengan memakai kostum bertema horor dan berkeliling ke rumah tetangga sambil mengucapkan, “Trick or treat!”, kamu pilih memberiku permen atau aku yang akan mengerjaimu. Warga biasanya juga menghiasi halaman rumah mereka dengan dekorasi seram, terutama labu ukir Jack-o’-lantern. Halloween juga dirayakan dengan pesta, menonton film horor, hingga mengunjungi wahana rumah hantu.

Sementara di Indonesia, perayaan Halloween lebih terbatas. Umumnya, kegembiraan ini diperingati secara komersial oleh kalangan muda, ekspatriat, atau komunitas tertentu. Bentuk perayaan yang paling umum dilakukan adalah dengan pesta kostum di kafe, hotel, klub malam, hingga acara televisi. Pusat-pusat perbelanjaan di kota besar pun umumnya menghiasi mal mereka dengan tema horor untuk menarik pengunjung.

Baca JugaHalloween, Ketakutan yang Menyenangkan

Halloween di Indonesia tidak semasif perayaan serupa di negara-negara lain. Namun, masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan yang besar dengan segala hal yang berbau horor. Sejumlah film horor masuk dalam jajaran film yang paling banyak ditonton di bioskop, seperti KKN di Desa Penari (2022) dengan lebih dari 10 juta penonton atau Pengabdi Setan 2: Communion (2022) sebanyak 6,39 juta penonton.

Siniar dan aneka konten horor di berbagai media sosial juga mendapatkan penonton dalam jumlah besar. Mulai dari cerita misteri, dialog dengan tema mistis, pembersihan kuburan, prank (guyonan) hantu, penelusuran lokasi seram, hingga mediumisasi dan menggambar makhluk astral. Sementara itu, salah satu kostum yang paling banyak menyedot perhatian selama karnaval peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-81 pada Agustus-September lalu adalah kostum Mak Lampir, legenda horor Indonesia yang memiliki penampilan dan suara tawa yang khas.

Model atau cosplayer horor juga mudah ditemukan di sejumlah tempat wisata umum, seperti di Jalan Asia-Afrika Bandung Jawa Barat atau kawasan Kota Tua Jakarta. Kehadiran mereka justru menjadi daya tarik unik bagi wisatawan. Di luar dunia hiburan, informasi dan berita seram terus muncul di media massa maupun media sosial, mulai dari isu penampakan hantu, teror pocong, hingga fenomena pesugihan.

Orang Indonesia memiliki kegilaan yang besar terhadap segala perkara yang menakutkan, seram, hingga hal-hal berbau mistis.

Walau seram dan menakutkan, tontonan horor itu nyatanya justru diminati banyak orang. Meski dianggap tidak rasional dan sering dituding tidak mendidik, tayangan yang memproduksi ketakutan itu terus diproduksi oleh media karena mampu mendatangkan penonton dan keuntungan yang besar. Kendati bisa menimbulkan trauma berkepanjangan pada kasus-kasus tertentu, banyak orang tetap penasaran dengan segala informasi dan produk hiburan yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.

Respons otak

Rasa takut muncul untuk menghindarkan manusia dari bahaya. Namun dalam banyak bentuk hiburan yang menyeramkan, banyak orang justru menginginkannya, bahkan memburunya meski harus mengeluarkan biaya yang tidak murah.

“Saat menghadapi sesuatu yang mengancam, sistem saraf manusia akan aktif dan mengirimkan sinyal ke otak dan seluruh tubuh untuk fight (melawan), flight (kabur), atau freeze (diam membeku),” kata ahli neurosains perilaku dan peneliti rasa takut dari Universitas Colorado Boulder, AS, Elora Williams di situs universitas Colorado.edu, Kamis (29/10/2026).

Baca JugaHalloween dan Kostum Bekasnya yang Sama-sama Menakutkan

Reaksi otomatis dan alami tubuh itu muncul untuk melindungi manusia dari bahaya. Sistem ini berkembang dari proses evolusi manusia yang membantu nenek moyang kita bertahan hidup. Masalahnya, di era modern, sistem ini tetap hidup meski ketakutan yang timbul bukan berasal dari hewan buas, tetapi dari tontonan atau hiburan yang menyeramkan.

Saat rasa takut itu datang, sel-sel saraf mengirimkan sinyal peringatan dan melepaskan pembawa pesan kimiawi yang membuat seluruh otak siaga. Sinyal tersebut kemudian menyebar melalui jaringan neuron yang mengoordinasikan perilaku pertahanan dan memerintahkan tubuh untuk bertindak.

Akibatnya, pupil mata melebar sehingga makin banyak cahaya masuk ke mata sehingga seseorang bisa melihat sumber atau pemicu ketakutan lebih baik. Denyut nadi pun meningkat, memompa lebih banyak darah untuk memberi energi pada otot jika orang tersebut memutuskan untuk flight atau lari menghindar. Saat bersamaan, hormon adrenalin ikut naik guna meredam persepsi rasa sakit yang muncul akibat ketakutan tersebut. Saat ancaman itu mereda, maka sejumlah zat kimia otak yang menimbulkan rasa senang akan membanjiri otak dan memberi sinyal bahwa situasi sudah aman.

Rasa takut muncul untuk menghindarkan manusia dari bahaya.

Anak-anak

Namun, tidak semua orang memiliki toleransi dan persepsi yang sama terhadap rasa takut. Karena itu, residen psikiatri di Allegheny Health Network di Pittsburgh, AS, seperti dikutip CBS, Kamis (29/10/2026) mengingatkan untuk lebih berhati-hati memaparkan anak-anak pada rasa takut. Hal-hal menakutkan yang justru menarik bagi orang dewasa, bisa dipersepsikan anak sebagai ketakutan yang sangat besar dan nyata.

“Menakut-nakuti anak-anak usia prasekolah maupun kelas-kelas awal sekolah dasar bisa menjadi masalah besar karena mereka belum memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang nyata dan tidak nyata,” katanya.

Ketakutan yang berlebihan pada anak dalam jangka pendek bisa membuat mereka menakutkan banyak hal yang bagi orang dewasa tidak wajar, seperti takut gelap, lebih sering bermimpi buruk, menjadi tidak mau ditinggal sendirian, hingga mengalami perubahan sikap dan perilaku yang perlu menjadi perhatian orangtua. Namun, ketakutan itu biasanya tidak menimbulkan trauma jangka panjang pada anak.

Baca JugaDari Halloween ke Rekor Dunia, Kisah Labu Raksasa Amerika

Meski demikian, pada anak-anak yang lebih besar, seperti ditulis dosen sejarah dan komunikasi di Universitas Southern Queensland, Australia, Matthew Thompson di The Conversation, Kamis (29/10/2026), anak-anak sebenarnya memiliki ketertarikan pada hal-hal yang menakutkan, termasuk yang mengandung kekerasan, sama seperti orang dewasa. Anak-anak juga bisa mempelajari, menikmati, dan mengendalikan rasa takut mereka saat perayaan Halloween, sama seperti orang dewasa.

Di sisi lain, sebenarnya banyak orangtua tanpa sadar memaparkan anak-anak mereka dengan hal-hal yang menyeramkan melalui berbagai dongeng yang dibacakan kepada mereka sebelum tidur. Cerita anak-anak itu bukan hanya yang indah-indah seperti kisah Putri Salju, tetapi juga ada kisah serigala memakan manusia, penyihir yang memakan anak-anak, hingga kisah ibu tiri kejam yang memperlakukan anak tirinya dengan kejam seperti budak.

Namun di balik cerita-cerita seram itu, anak-anak sejatinya belajar untuk bernegosiasi dan lebih tahan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dongeng-dongeng yang terlihat seram sebenarnya banyak menunjukkan kepada anak bahwa ketakutan dapat dikelola dan diatasi. Cerita seram itu membantu anak-anak menghadapi hal-hal menakutkan dan menyakitkan yang bakal mereka jumpai nanti di dunia nyata. Banyak cerita itu mengandung nilai hidup yang tinggi bahwa kehidupan yang baik dan memuaskan tetap dapat diraih meski menghadapi banyak kesulitan sepanjang mereka mau berjuang dengan cara yang pasti tidak mudah.

Menakut-nakuti anak-anak usia prasekolah maupun kelas-kelas awal sekolah dasar bisa menjadi masalah besar karena mereka belum memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang nyata dan tidak nyata.

Mengambil risiko

Sama seperti pada anak-anak, toleransi terhadap rasa takut pada orang dewasa sebenarnya juga beragam. Kemampuan menoleransi rasa takut itu berkaitan dengan toleransi seseorang dalam mengambil risiko. Masalahnya, kemampuan seseorang dalam mengambil risiko itu berkaitan dengan banyak hal, mulai dari genetik, pengalaman, jenis kelamin, umur, hingga riwayat gangguan mental emosional yang dimiliki.

Ada lebih dari 100 varian genetik yang terkait dengan toleransi seseorang terhadap risiko. Variasi sirkuit saraf dan zat kimia di otak juga membantu manusia menghadapi ancaman. Sirkuit saraf yang melibatkan zat kimia otak dopamin dan asam gama-aminobutirat (GABA) turut membantu manusia mengenali apa yang seharusnya ditakuti atau tidak ditakuti. Namun, studi Rona J Strawbridge dan rekan di Translational Psychiatry, 2 Februari 2018 menunjukkan laki-laki, perokok, dan orang dengan riwayat gangguan kejiwaan cenderung lebih berani dalam mengambil risiko.

Selain itu, usia dan pengalaman hidup di masa lalu juga menjadi faktor penting yang turut memengaruhi manusia dalam mengambil risiko. Semakin tua usia, maka semakin besar pula kemungkinan mereka untuk menghindari risiko. Memiliki sedikit pengalaman yang terkait dengan pengambilan risiko memang bisa membantu seseorang merasa lebih aman. Namun, kondisi itu juga berbahaya karena membuat seseorang tidak siap dan tidak terlatih menghadapi ancaman sehingga mereka lebih mudah terjebak dalam perilaku berisiko, seperti judi atau penyalahgunaan zat aditif.

Baca JugaHalloween dan Film Horor, Rekreasi Ketakutan yang Melegakan

Sementara studi Williams dan rekan juga menemukan bahwa sekelompok neuron di otak bagian tengah yang disebut nukleus interpedunkularis (IPN) tidak hanya membantu merangsang seseorang flight atau freeze saat ancaman datang, tetapi juga menurunkan rangsangan tersebut saat bahaya itu ternyata tidak nyata. Mekanisme inilah yang menjelaskan mengapa setelah beberapa adegan seram di film muncul, seseorang menjadi berhenti berteriak.

“Sistem untuk menghadapi ancaman pada otak itu bekerja seperti alarm. Sistem itu akan berbunyi ketika bahayanya nyata, tetapi mati ketika bahayanya ternyata tidak nyata. Sirkuit itu membantu manusia menyempurnakan respon (terhadap ancaman bahaya) melalui pengalaman sehingga membantu manusia beradaptasi dengan dunia,” kata Williams.

Toleransi rasa takut seseorang berkaitan dengan kemampuan mereka dalam mengambil risiko.

Variasi pada IPN juga membuat sebagian orang menyukai segala hal yang berbau horor dan sebagian yang lain justru membencinya. Gangguan pada sirkuit otak ini berpotensi memicu sejumlah masalah kejiwaan serius, seperti kecemasan kronis, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan kecanduan. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana respons kita terhadap ancaman itu bekerja mengingat banyak hal negatif bisa lahir dari rasa takut.

Selain itu, bagi orang-orang yang memiliki rasa takut berlebih terhadap suatu hal, maka rasa takut itu bisa dikurangi secara bertahap. Paparkan diri dengan hal-hal yang membuat seseorang takut dalam tingkat mikro secara berjenjang, tetapi jangan lupa menetapkan tujuan yang ingin diperoleh. Tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara bertahap dan rutin itu bisa mendorong seseorang keluar dari zona ketakutannya. Dengan demikian, di masa depan, mereka bisa menikmati kesenangan dari hal-hal yang menakutkan bersama orang-orang tercinta.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tes Kepribadian: Burung Gagak atau Sarung Tangan yang Pertama Dilihat Ungkap Kekuatan Tersembunyi
• 16 jam lalu
0
thumb
Jelang Musda, Lukman B. Kady Berpotensi Aklamasi Pimpin Golkar Gowa
• 1 jam lalu
0
thumb
Naturalisasi Timnas Indonesia Berubah Arah? Orang Dalam Sebut PSSI Mulai Tinggalkan Pemain Belanda
• 22 jam lalu
0
thumb
Polisi Bagikan Makanan ke Peserta Bulan Solidaritas Palestina di Monas
• 53 menit lalu
0
thumb
Rubio Bilang AS Tak Terlibat Langsung Kaburnya Flavio Bolsonaro dari Brazil
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.