Hefei (ANTARA) - Di samping foto kampung halaman yang diletakkan di atas meja asrama, terdapat sebuah lampion ikan tradisional khas Huizhou, sementara rak-rak dipenuhi dengan buku-buku berbahasa Mandarin.
Bagi Nurkholish, seorang mahasiswa asal Indonesia di China, buku-buku tersebut menjadi sarana untuk mempelajari bahasa, sementara lampion itu mengingatkannya pada proses mengenal sebuah tempat dan budaya yang sebelumnya terasa asing baginya.
"Pihak universitas menyelenggarakan kegiatan untuk merayakan festival tradisional China, seperti Festival Musim Semi dan Festival Perahu Naga, sehingga kami dapat mengenal dan mempelajari budaya China," kata Nurkholish. Pada waktu luangnya, dia sering bepergian bersama teman-teman sekelasnya untuk menjelajahi kota dan merasakan kehidupan sehari-hari di China. Seiring waktu, dia pun mulai memiliki ikatan khusus dengan Wuhu.
Bagi Nurkholish dan teman-teman sekelasnya yang juga berasal dari Indonesia di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, datang ke China bukan sekadar untuk mempelajari keterampilan teknis. Pengalaman tersebut juga berarti mengenal cara hidup yang baru.
Sementara Nurkholish semakin mengenal China melalui kegiatan festival tradisional, Dwinita Asty Kusuma, seorang mahasiswa lain asal Indonesia, membangun kedekatan dengan China melalui kuliner lokalnya.
Selain kuliner, sistem transportasi perkotaan yang berkembang juga membuatnya terkesan. "Jaringan kereta cepat dan kereta ringan di China sangat luas dan terjangkau," kata Dwinita.
Perempuan berusia 22 tahun asal Provinsi Kalimantan Selatan itu telah tinggal selama dua tahun di China. Salah satu kegiatan favoritnya adalah menjelajahi beragam hidangan lokal bersama teman-teman sekelasnya.
Pengalaman sehari-hari tersebut membuat China terasa lebih nyata bagi Dwinita. Kesan yang dimilikinya tidak hanya terbatas pada pengetahuan baru yang diperoleh di kelas, tetapi juga mencakup hiruk-pikuk jalanan setempat, kemudahan transportasi, serta kehangatan orang-orang di sekitarnya.
"Setelah pulang ke tanah air, saya akan menceritakan pengalaman saya di sini kepada lebih banyak orang, agar mereka dapat mengenal China yang sesungguhnya," ujar Dwinita.
Bagi Brayen Difan Makatiwo, seorang alumnus asal Indonesia, berbagi pengalamannya selama berada di China dengan pemuda Indonesia lain merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kedekatan yang telah dia bangun dengan negara tersebut.
"Banyak perusahaan China yang beroperasi di Indonesia membutuhkan tenaga profesional lokal yang mampu berbahasa Mandarin. Penguasaan bahasa Mandarin membuat kami dapat membaca manual peralatan, berpartisipasi dalam rapat, serta mengoperasikan peralatan canggih buatan China, sehingga membuka lebih banyak peluang karier," tutur Brayen.
Setelah lulus, Brayen juga mengemban tugas sebagai penghubung alumni universitas tersebut di Indonesia, membagikan pengalamannya kepada para pemuda yang tertarik untuk melanjutkan studi di China..
"Saya berharap dapat membawa pulang ke Indonesia pengetahuan profesional, pendekatan manajemen, dan pengalaman hidup yang saya peroleh di China. Saya juga berharap dapat memanfaatkan kemampuan bahasa dan pemahaman lintas budaya yang saya miliki untuk membantu lebih banyak mahasiswa Indonesia menemukan pekerjaan yang sesuai bagi mereka," kata Brayen.
Bagi Nurkholish, seorang mahasiswa asal Indonesia di China, buku-buku tersebut menjadi sarana untuk mempelajari bahasa, sementara lampion itu mengingatkannya pada proses mengenal sebuah tempat dan budaya yang sebelumnya terasa asing baginya.
"Pihak universitas menyelenggarakan kegiatan untuk merayakan festival tradisional China, seperti Festival Musim Semi dan Festival Perahu Naga, sehingga kami dapat mengenal dan mempelajari budaya China," kata Nurkholish. Pada waktu luangnya, dia sering bepergian bersama teman-teman sekelasnya untuk menjelajahi kota dan merasakan kehidupan sehari-hari di China. Seiring waktu, dia pun mulai memiliki ikatan khusus dengan Wuhu.
Bagi Nurkholish dan teman-teman sekelasnya yang juga berasal dari Indonesia di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, datang ke China bukan sekadar untuk mempelajari keterampilan teknis. Pengalaman tersebut juga berarti mengenal cara hidup yang baru.
Sementara Nurkholish semakin mengenal China melalui kegiatan festival tradisional, Dwinita Asty Kusuma, seorang mahasiswa lain asal Indonesia, membangun kedekatan dengan China melalui kuliner lokalnya.
Selain kuliner, sistem transportasi perkotaan yang berkembang juga membuatnya terkesan. "Jaringan kereta cepat dan kereta ringan di China sangat luas dan terjangkau," kata Dwinita.
Perempuan berusia 22 tahun asal Provinsi Kalimantan Selatan itu telah tinggal selama dua tahun di China. Salah satu kegiatan favoritnya adalah menjelajahi beragam hidangan lokal bersama teman-teman sekelasnya.
Pengalaman sehari-hari tersebut membuat China terasa lebih nyata bagi Dwinita. Kesan yang dimilikinya tidak hanya terbatas pada pengetahuan baru yang diperoleh di kelas, tetapi juga mencakup hiruk-pikuk jalanan setempat, kemudahan transportasi, serta kehangatan orang-orang di sekitarnya.
"Setelah pulang ke tanah air, saya akan menceritakan pengalaman saya di sini kepada lebih banyak orang, agar mereka dapat mengenal China yang sesungguhnya," ujar Dwinita.
Bagi Brayen Difan Makatiwo, seorang alumnus asal Indonesia, berbagi pengalamannya selama berada di China dengan pemuda Indonesia lain merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kedekatan yang telah dia bangun dengan negara tersebut.
"Banyak perusahaan China yang beroperasi di Indonesia membutuhkan tenaga profesional lokal yang mampu berbahasa Mandarin. Penguasaan bahasa Mandarin membuat kami dapat membaca manual peralatan, berpartisipasi dalam rapat, serta mengoperasikan peralatan canggih buatan China, sehingga membuka lebih banyak peluang karier," tutur Brayen.
Setelah lulus, Brayen juga mengemban tugas sebagai penghubung alumni universitas tersebut di Indonesia, membagikan pengalamannya kepada para pemuda yang tertarik untuk melanjutkan studi di China..
"Saya berharap dapat membawa pulang ke Indonesia pengetahuan profesional, pendekatan manajemen, dan pengalaman hidup yang saya peroleh di China. Saya juga berharap dapat memanfaatkan kemampuan bahasa dan pemahaman lintas budaya yang saya miliki untuk membantu lebih banyak mahasiswa Indonesia menemukan pekerjaan yang sesuai bagi mereka," kata Brayen.






Komentar (0)