Konferensi Internasional di Turki, Kiai Cholil: Persatuan Umat tak Harus Menyatukan Doktrin

republika.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

ISTANBUL — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis menjadi pembicara dalam konferensi internasional bertajuk "Persatuan Bangsa Moderat: Dari Konstanta Menuju Piagam Persatuan" di Istanbul, Turki pada 28-30 Oktober 2026.

Konferensi yang diselenggarakan Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional bersama Yayasan Cendekiawan Islam itu diikuti sekitar 250 cendekiawan, pemikir, pendakwah, dan tokoh Islam dari lebih dari 30 negara.

Baca Juga
  • Resah Pohon Dipaku Dosen ini Sudah Cabut Ratusan Paku
  • Duo Bahlul Bicara Pengalaman Debu Film di Gak Masuk Akal
  • UNGU Rayakan 30 Tahun Berkarya, Cliquers ‘Vintage’ hingga Gen Z Nyanyi Bareng

Kiai Cholil menegaskan, persatuan umat Islam tidak harus diwujudkan dengan menyeragamkan aliran pemikiran maupun interpretasi keagamaan. Menurut dia, persatuan justru perlu dibangun dengan mengelola perbedaan, menghormati keberagaman, dan memperkuat kerja sama demi kepentingan bersama.

"Persatuan umat Islam tidak mengharuskan penyatuan pendapat dan doktrin, melainkan didasarkan pada kesepakatan mengenai nilai-nilai dasar, menghormati keberagaman, dan mengelola perbedaan dalam kerangka persaudaraan Islam," ujar Kiai Cholil seperti dilansir Hudhudeg, Sabtu (31/10/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pengasuh Ponpes Amanah Cendekia Depok, KH Cholil Nafis - (Havid Al Visky / Republika)

Dalam pidato berjudul "Moderasi Islam Antara Konstan dan Variabel: Pengalaman Indonesia dalam Mendorong Persatuan Bangsa", Kiai Cholil menjelaskan, moderasi Islam bukan berarti meninggalkan prinsip agama atau mengambil posisi abu-abu antara kebenaran dan kebatilan. Moderasi, kata dia, bertumpu pada keadilan, keseimbangan, dan sikap proporsional dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip agama. 

Dia menjelaskan, pendekatan tersebut dapat dirangkum dalam prinsip keteguhan dalam perkara mendasar, fleksibilitas dalam persoalan cabang, ketekunan dalam menghadapi persoalan baru, serta toleransi terhadap perbedaan. Karena itu, umat Islam perlu menghindari sikap mengubah perbedaan interpretasi menjadi tuduhan kafir, sesat, hingga konflik antarsesama Muslim.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
UMKM Perempuan Jadi Penggerak Ketahanan Ekonomi Keluarga
• 11 jam lalu
0
thumb
Pencuri Ayam Bangkok di Bojongsoang, Kab. Bandung, Siku Leher Pemilik Rumah hingga Tewas
• 14 jam lalu
0
thumb
Prediksi PSIM Vs Borneo FC di BRI Super League: Misi Laskar Mataram Akhiri Puasa Kemenangan
• 32 menit lalu
0
thumb
Pemerintah dan Kapolri Beri Perhatian Khusus, I.League dan Klub Sepakat Jaga Keamanan Kompetisi
• 13 jam lalu
0
thumb
Polisi Selidiki Perusakan dan Pencurian di Kantor Bupati Intan Jaya
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.