Perang Rusia-Ukraina Bayangi G20, Para Menlu Gagal Sepakati Pernyataan Bersama

kompas.tv
2 jam lalu
Cover Berita
Para Menteri Luar Negeri dari negara-negara G20 menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Jumat (30/10/2026). (Sumber: Megan Varner/Pool Photo via AP)

ATLANTA, KOMPAS.TV — Pertemuan para menteri luar negeri negara-negara anggota G20 di Atlanta, Amerika Serikat (AS), berakhir tanpa konsensus mengenai sejumlah isu keamanan global. 

Perbedaan sikap, terutama terkait perang Rusia-Ukraina, menghambat upaya para diplomat mencapai kesepakatan bersama dalam pertemuan dua hari tersebut.

Seperti dikutip dari Associated Press (AP), pada Sabtu (31/10/2026), para menteri luar negeri G20 tidak akan menerbitkan komunike bersama. 

Sebagai gantinya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan menyampaikan pernyataan ketua yang merangkum hasil pembahasan. Meski tidak menghasilkan konsensus, Rubio menyebut hari pertama pertemuan berlangsung sangat produktif. 

Pada Sabtu, ia juga menggelar pembicaraan dengan mitranya dari Australia, India, dan Jepang untuk membahas rantai pasok global, termasuk kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut China Selatan.

Dalam acara penyambutan peserta pada Jumat (30/10), Rubio menyatakan negara-negara peserta tengah memetakan masa depan ekonomi global yang dinamis.

Namun, perbedaan pandangan mengenai sejumlah konflik dan kebijakan ekonomi internasional tetap menjadi hambatan utama.

Baca Juga: Tumbuh 5,61 Persen, Airlangga Sebut Ekonomi Indonesia Jadi yang Tertinggi di G20

Kehadiran Rusia Picu Kontroversi

Ketegangan terlihat sejak pembukaan pertemuan ketika Rubio membatalkan agenda foto bersama para menteri luar negeri G20. 

Sejumlah diplomat Eropa keberatan dengan kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan mengancam memboikot atau meninggalkan sesi foto tersebut.

Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski, yang untuk pertama kalinya menghadiri pertemuan G20 sebagai tamu, mengaku tidak terkejut dengan kegagalan mencapai kesepakatan.

“Perang sedang berlangsung, dan pihak-pihak yang terlibat dalam perang itu duduk bersama di meja perundingan. Karena itu, sangat sulit untuk menyepakati sikap bersama,” kata Sikorski seperti dikutip dari AP.

Para diplomat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan perbedaan pandangan telah diperkirakan sejak awal. Selain perang Rusia-Ukraina, sejumlah persoalan yang memecah pandangan peserta mencakup perang AS-Israel melawan Iran, tarif perdagangan AS, serta aktivitas China di Laut China Selatan.

Ketegangan geopolitik tersebut turut menambah ketidakpastian perdagangan internasional dan mendorong kenaikan biaya energi global.

Perbedaan juga muncul terkait sikap Rusia terhadap Ukraina dan penolakan Moskow terhadap keanggotaan Polandia di G20. Sejumlah negara turut mempersoalkan keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump yang tidak mengundang Afrika Selatan, meskipun negara tersebut merupakan anggota G20.

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen Saat Dunia Lesu, Airlangga Hartarto: Nomor 2 di G20

Perang Iran dan Kebijakan AS Jadi Sorotan

Selain perang Rusia-Ukraina, kemungkinan intervensi militer baru AS terhadap Iran turut membayangi pertemuan tersebut.

Arab Saudi, yang merupakan anggota G20, ikut menghadapi kekhawatiran atas kemungkinan eskalasi konflik di kawasan. Rubio bertemu dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan pada Jumat, serta Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Turki selama ini memainkan peran sebagai mediator dalam sejumlah upaya diplomatik regional.

Sebelumnya pejabat AS telah memperingatkan sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regional agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada Selasa (3/11). Iran juga berpotensi melakukan serangan balasan jika diserang.

Di sisi lain, hubungan AS dengan Ukraina juga menjadi perhatian. Sebelum pertemuan G20 dimulai, sejumlah negara menyampaikan kekhawatiran atas undangan kepada Rusia di tengah meningkatnya serangan Moskow terhadap Ukraina.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah Trump memberikan kelonggaran terhadap sanksi baru untuk Rusia dan membatasi sementara bantuan logistik serta intelijen kepada Ukraina.

Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS pada Jumat mengumumkan persetujuan atas usulan penjualan pencegat rudal pertahanan udara Patriot senilai 2,1 miliar dolar AS untuk Ukraina.

Lavrov menegaskan Rusia tidak akan membiarkan Ukraina menimbulkan ancaman militer terhadap kepentingan keamanan Rusia yang dianggap sah oleh Moskow.

Pertemuan para menteri luar negeri G20 ini menjadi persiapan menjelang pertemuan para pemimpin G20 yang dijadwalkan berlangsung di Florida pada Desember mendatang. 

Meski para diplomat menyatakan tetap berupaya mengatasi perbedaan, belum tercapainya konsensus menunjukkan besarnya tantangan untuk menyatukan sikap negara-negara anggota di tengah konflik dan persaingan geopolitik.

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Gading-Persada

Sumber : The Associated Press

Tag
  • menlu
  • G20
  • gagal
  • rusia
  • ukraina
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bhayangkara FC Tumbang di Markas Java United, Oscar Bruzon Sebut Lini Serang Jadi PR Terbesar
• 16 jam lalu
0
thumb
Disorot seusai Hadiri Deklarasi Sumpah Pemuda, Ini Klarifikasi Raffi Ahmad
• 9 jam lalu
0
thumb
Suasana Apel 3.229 Personel Gabungan Jelang Konser Andrea Bocelli Digelar di Candi Borobudur
• 10 jam lalu
0
thumb
Mendikdasmen Sebut MBG Berkaitan dengan Tingkat Kehadiran Siswa
• 2 jam lalu
0
thumb
Pencuri Motor Diamuk Warga Usai Korban Lacak Keberadaan Kendaraan Lewat GPS di Pondok Kopi | BORGOL
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.