PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menghadapi kenaikan biaya penambangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Biaya penambangan per unit meningkat 25% menjadi US$3,06 per ton atau sekitar Rp55.503 per ton, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,45 per ton atau sekitar Rp44.438 per ton.
Kenaikan biaya tersebut terjadi di tengah penurunan volume material yang ditambang. Sepanjang Januari–September 2026, AMMN menambang sebanyak 190 juta ton material, turun 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 225 juta ton.
Dalam laporan kinerja kuartal III 2026 yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi, manajemen mengungkapkan kenaikan biaya penambangan dipengaruhi oleh jarak angkut material yang semakin panjang dan kenaikan harga bahan bakar.
"Biaya penambangan per unit meningkat 25% secara tahunan, dari US$2,45 per ton menjadi US$3,06 per ton, disebabkan oleh jarak angkut yang lebih panjang dan kenaikan harga bahan bakar," tulis manajemen dalam laporan.
Di tengah penurunan total material yang ditambang, produksi bijih segar (fresh ore) justru mengalami peningkatan signifikan. AMMN mencatat volume bijih segar yang ditambang mencapai 93 juta ton pada sembilan bulan pertama 2026, melonjak dari 20 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Manajemen menjelaskan peningkatan tersebut sejalan dengan kemajuan kegiatan penambangan menuju bijih berkadar tinggi Fase 8 di tambang Batu Hijau.
"Volume material yang ditambang pada sembilan bulan pertama 2026 mencapai 190 juta ton, sejalan dengan rencana penambangan. Volume bijih segar yang ditambang meningkat signifikan menjadi 93 juta ton, dari 20 juta ton pada sembilan bulan pertama 2025, seiring dengan kemajuan kegiatan penambangan menuju bijih berkadar tinggi Fase 8," tulis manajemen dalam laporan.
Di sisi pengolahan, AMMN mencatat volume bijih yang diproses mencapai 32 juta ton, meningkat 38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 23 juta ton.
Peningkatan volume pengolahan tersebut turut memperbaiki efisiensi fasilitas konsentrator. Biaya pengolahan per unit turun 21% menjadi US$4,85 per ton atau sekitar Rp87.969 per ton, dibandingkan sebelumnya US$6,11 per ton atau sekitar Rp110.803 per ton.
Baca Juga: AMMN Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027
Baca Juga: Freeport Persoalkan Bea Keluar Emas 10%, Singgung Ketentuan IUPK
Selain peningkatan volume pengolahan, kadar bijih yang diproses juga mengalami kenaikan. Kadar tembaga meningkat menjadi 0,51% dari sebelumnya 0,35%, sedangkan kadar emas naik menjadi 0,62 gram per ton dari 0,12 gram per ton.
Kondisi tersebut mendorong produksi konsentrat tembaga AMMN meningkat 87% menjadi 580.713 metrik ton kering. Produksi tembaga dalam konsentrat mencapai 332 juta pon atau naik 129%, sedangkan produksi emas dalam konsentrat melonjak 616% menjadi 541.337 ons.
Dengan demikian, kenaikan biaya penambangan menjadi salah satu tantangan operasional AMMN di tengah peralihan kegiatan tambang menuju bijih berkadar lebih tinggi. Di sisi lain, peningkatan volume pengolahan dan kadar bijih turut mendukung efisiensi pengolahan serta pertumbuhan produksi logam perusahaan.






Komentar (0)