LPDB Koperasi Catat Peningkatan Kinerja Koperasi Peserta Inkubasi

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA – Pendampingan usaha mulai menunjukkan hasil dalam penguatan kapasitas koperasi di Kabupaten Bandung dan Sumedang, Jawa Barat. Sebanyak 16 koperasi peserta program inkubasi mencatat rata-rata capaian indikator kinerja sebesar 84,81 persen pada Oktober 2026, meningkat dari 78,94 persen pada bulan sebelumnya.

Peningkatan tersebut tercatat dalam hasil pemantauan Program Inkubasi Bisnis Koperasi 2026 yang dijalankan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi bersama Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBI) IKOPIN. Program yang berlangsung sejak Mei 2026 itu melibatkan 14 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan dua koperasi reguler.

Baca Juga
  • Koperasi Merah Putih di Banyumas Mulai Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bioavtur
  • Kementerian Koperasi Dorong Hilirisasi Sawit, Koperasi Bidik Kilang Minyak Goreng
  • Kemenkop Siap Dampingi Koperasi Petani Sawit

Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi Deva Rachman mengatakan pendampingan perlu menghasilkan peningkatan kapasitas usaha, tata kelola, dan kemandirian koperasi. Penguatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan koperasi dalam memperoleh akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

“Program inkubasi program harus mampu menghasilkan perubahan nyata pada kapasitas dan kemandirian koperasi, sehingga ke depan dapat tumbuh secara berkelanjutan serta memiliki kesiapan untuk mengakses pembiayaan,” ujar Deva dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Deva menjelaskan hasil pemantauan per 18 Oktober 2026 menunjukkan rata-rata capaian Objective and Key Results (OKR) meningkat 5,88 poin persentase dibandingkan posisi 18 September 2026. Dari 16 koperasi peserta, sembilan koperasi mengalami peningkatan capaian, sedangkan tujuh koperasi lainnya tidak mengalami perubahan.

Sebanyak delapan koperasi telah mencapai indikator kinerja minimal 90 persen, sementara dua koperasi berada pada rentang 85 hingga 89 persen. Adapun empat koperasi mencatat capaian 70 hingga 84 persen dan dua koperasi lainnya masih berada di bawah 70 persen.

Menurut Deva, pendampingan harus disesuaikan dengan potensi ekonomi dan karakteristik masing-masing koperasi. Pendekatan tersebut diperlukan agar pengembangan usaha tidak hanya mengikuti pola yang seragam, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang ekonomi di daerah.

“Kita ingin koperasi tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi benar-benar berkembang, memiliki usaha yang berjalan, tata kelola yang baik, dan pada akhirnya siap mengakses pembiayaan LPDB Koperasi untuk memperbesar skala usahanya,” ucap Deva.

Program inkubasi tersebut mencakup penguatan kelembagaan dan legalitas, tata kelola usaha, pengelolaan keuangan, digitalisasi, serta fasilitasi akses pembiayaan dan kemitraan. Pendampingan dilakukan melalui pelatihan, coaching, mentoring, asistensi, serta pemantauan dan evaluasi sesuai kebutuhan koperasi.

Dari sisi bidang usaha, sebanyak 12 koperasi bergerak di sektor perdagangan dan sembako, tiga koperasi di sektor pertanian dan agribisnis, serta satu koperasi di bidang peternakan. Deva menilai keberagaman usaha tersebut membutuhkan pendekatan pendampingan yang sesuai dengan karakteristik pasar dan potensi daerah masing-masing.

Salah satu perkembangan terlihat pada KDMP Ganjarsabar yang mulai memperbaiki administrasi dan pencatatan keuangannya. Ketua KDMP Ganjarsabar Purnama mengatakan koperasi kini menggunakan aplikasi untuk membantu pengelolaan komoditas, arus kas, jurnal, neraca, hingga perhitungan hasil usaha.

“Setelah mendapatkan inkubasi dari PIBI IKOPIN, administrasi koperasi kami sekarang jauh lebih rapi. Ini sangat membantu kami dalam mengelola koperasi,” ucap Purnama.

Direktur Koperasi dan UMKM Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Mahatmi Parwitasari Saronto menilai penguatan koperasi perlu diikuti pengembangan kegiatan usaha produktif. Koperasi diharapkan tidak hanya berperan sebagai distributor atau penyalur barang, tetapi juga mampu mengolah potensi ekonomi daerah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

“Kami mendorong agar koperasi dapat mengembangkan usaha berdasarkan potensi yang ada di daerahnya. Tidak hanya menjadi distributor atau penyalur, tetapi juga bagaimana koperasi bisa bergerak di sektor produksi sehingga memberikan nilai tambah dan mendorong berkembangnya ekonomi lokal,” kata Mahatmi.

Direktur PIBI IKOPIN Deddy Supriyadi mengatakan keberhasilan inkubasi tidak cukup dinilai dari kelengkapan dokumen kelembagaan maupun jumlah kegiatan pendampingan. Pengembangan koperasi juga harus mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, manajemen usaha, dan kemampuan memanfaatkan peluang pasar.

“Keberhasilan inkubasi bukan hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi sejauh mana koperasi mengalami peningkatan, menjadi lebih baik, lebih sehat, dan mampu memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat,” ujar Deddy.

Rektor Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN) Yudi Azis menilai kerja sama antara lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan pemerintah dapat membantu penguatan koperasi berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Hasil pemantauan dan evaluasi juga diharapkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi untuk pengembangan koperasi secara lebih luas.

“Hasil evaluasi juga diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran serta rekomendasi bagi pengembangan koperasi secara lebih luas,” kata Yudi.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Respons Menohok Gerindra soal Putusan MA Terkait Suket Gibran: Kita Perlu Stabilitas Politik
• 22 jam lalu
0
thumb
Program Inkubasi koperasi harus hasilkan perubahan dan kemandirian
• 3 jam lalu
0
thumb
Mutasi Polri Terbaru, Kapusdokkes hingga Kapuskeu Diganti, Ini Daftar Namanya
• 11 jam lalu
0
thumb
Morgan Oey Ungkap Alasan Rajin Berburu Film Festival di Jakarta World Cinema
• 2 menit lalu
0
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 31 Oktober 2026 Lagi-Lagi Menurun, Kini Jadi Rp2.526.000 per Gram
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.