JAKARTA — Militer Iran memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa serangan baru terhadap negaranya dapat memicu perang dengan jangkauan geografis jauh lebih luas. Peringatan keras itu disampaikan ketika ketegangan militer meningkat di Selat Hormuz, sementara Qatar kembali mengirim utusan ke Teheran untuk mencegah pecahnya pertempuran besar antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengatakan konsekuensi dari operasi militer baru Amerika Serikat tidak akan terbatas pada wilayah Iran. Ia bahkan memperingatkan bahwa Washington tidak akan memiliki kendali penuh untuk menentukan kapan konflik yang semakin meluas itu dapat dihentikan.
- Bank Mandiri Taspen Perluas Edukasi Kesehatan untuk Nasabah Pensiunan
- Mesin Pengering Gabah Bantu Petani Oransbari Kurangi Ketergantungan Cuaca
- Karhutla di Papua Masih Membara, Bupati Merauke: Ada Indikasi Hutan Sengaja Dibakar
"Jika presiden AS sekali lagi memulai petualangan militer di kawasan ini di bawah tekanan dan bujukan Zionis, kobaran perang tidak diragukan lagi akan meluas ke wilayah geografis yang jauh lebih luas," tulis Akraminia melalui platform media sosial X, Sabtu (31/10/2026).
"Dan akhir dari konflik tersebut tidak akan berada di tangannya," lanjut Akraminia, merujuk kepada Presiden Trump.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Pernyataan tersebut juga diberitakan kantor berita Anadolu pada Sabtu. Akraminia tidak merinci negara atau lokasi yang berpotensi menjadi sasaran apabila konflik kembali meningkat, tetapi menegaskan bahwa militer Iran telah mengambil langkah untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
Jenderal Iran itu mengatakan angkatan bersenjata negaranya terus meningkatkan kesiapan tempur sekaligus mengawasi secara ketat aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan. Menurut dia, pengalaman hubungan Washington dan Teheran membuat Iran tidak dapat menggantungkan keamanan nasionalnya pada janji diplomatik pemerintah Amerika.
"Mempertimbangkan rekam jejak buruk presiden Amerika Serikat dalam mengkhianati diplomasi, Angkatan Darat Republik Islam Iran terus berupaya meningkatkan kesiapan tempurnya," kata Akraminia sebagaimana dilaporkan kantor berita Tasnim.
"Kami terus memantau dengan cermat pergerakan Amerika Serikat di kawasan," tambahnya.
Ancaman terbaru Iran disampaikan delapan bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Operasi tersebut memicu pembalasan Teheran terhadap sejumlah sasaran Israel dan kepentingan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, serta mengganggu jalur perdagangan energi internasional.
Empat Kapal Tanker Dilaporkan Terbakar di Selat HormuzPeringatan militer Iran muncul di tengah memburuknya situasi keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Pada Jumat (30/10/2026), Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim empat kapal tanker minyak mengalami ledakan dan kebakaran setelah mencoba melintasi jalur yang dinyatakan tidak sah oleh otoritas Teheran.
Reuters melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran menyebut salah satu kapal tanker membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah ketika menghantam ranjau laut. Menurut pernyataan IRGC, kapal tersebut mengalami ledakan besar dan terbakar setelah mengabaikan peringatan agar tidak menggunakan jalur pelayaran yang dilarang Iran.
Namun, Reuters menegaskan belum dapat memverifikasi secara independen seluruh klaim Garda Revolusi mengenai empat kapal tanker tersebut. Belum tersedia pula konfirmasi bahwa seluruh insiden yang disebut Iran merupakan peristiwa terpisah dari laporan gangguan pelayaran yang diterima lembaga pemantau maritim internasional.
Pada perkembangan lain, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga pemantau keamanan pelayaran Inggris, melaporkan insiden terhadap sebuah kapal tanker di perairan dekat Oman. Kapal tersebut mengalami kebakaran di ruang mesin setelah terkena bahan peledak yang ditempelkan pada lambung kapal.
Menurut laporan Reuters pada 30 Oktober, tiga sumber keamanan maritim mengidentifikasi kapal itu sebagai Louise 1 yang berbendera Panama. Insiden terjadi sekitar 25 mil laut atau 46 kilometer di timur laut Khasab, Oman, pada Kamis (29/10/2026).
UKMTO menyatakan seluruh awak kapal selamat dan kebakaran berhasil dipadamkan. Kapal tersebut kemudian dapat melanjutkan perjalanan, sementara identitas pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan bahan peledak belum diketahui.
Peristiwa tersebut memperlihatkan risiko keamanan yang masih dihadapi kapal-kapal komersial ketika melewati salah satu jalur energi terpenting dunia. Serangan menggunakan ranjau yang ditempelkan pada kapal juga menimbulkan kekhawatiran karena dapat dilakukan dengan sarana relatif sederhana tetapi menyebabkan gangguan serius terhadap pelayaran.
Selat Hormuz Jadi Pusat Perseteruan Iran dan AmerikaSelat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur penting ekspor minyak serta gas alam cair dari kawasan Timur Tengah. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati kawasan tersebut sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi harga energi dan perdagangan internasional.
Sejak pecahnya perang pada Februari, Iran memberlakukan pembatasan terhadap aktivitas pelayaran di selat itu dan mengeklaim kewenangan mengatur kapal yang melintas. Amerika Serikat kemudian menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Perselisihan tersebut menjadikan kebebasan navigasi sebagai salah satu hambatan utama dalam perundingan kedua negara. Washington menghendaki pemulihan jalur pelayaran komersial, sedangkan Teheran menuntut penghentian blokade Amerika serta pelonggaran pembatasan terhadap perdagangan minyak Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz juga memengaruhi pasar energi internasional karena perusahaan pelayaran harus menghadapi risiko serangan, perubahan rute, serta peningkatan biaya asuransi. Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk, tetapi juga pada negara-negara pengimpor energi.
The Wall Street Journal melaporkan harga minyak kembali meningkat pada Jumat setelah pasar merespons insiden kapal tanker serta kekhawatiran mengenai kemungkinan serangan militer lanjutan. Minyak mentah Brent untuk kontrak Desember ditutup pada sekitar 117,64 dolar AS per barel, meningkat 2,4 persen dalam sehari.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan militer di Timur Tengah masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga energi global. Di tengah tingginya harga minyak dan bahan bakar Amerika Serikat, risiko konflik baru juga menambah tekanan terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu.





Komentar (0)