Kawasan pengunungan di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, dikenal sebagai daerah penghasil kopi robusta yang mempunyai aroma dan cita rasa yang kuat. Di sana, kehidupan petani kopi berjalan berdampingan dengan geliat pengembangan panas bumi.
Aroma kopi menyeruak saat Kukuh Diki Prasetia (35) asyik meracik kopi bubuk, susu, dan gula aren di kedai kopinya di Pekon (desa) Sukamaju, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Kamis (1/10/2026) siang. Secangkir kopi yang disajikan segera menghilangkan kantuk para pengunjung kedai.
Di dinding kedai, berbagai koleksi foto kebun kopi dari masa ke masa dipajang berderet. Ada potret kebun kopi yang terlihat gundul di antara hamparan tanah. Ada juga potret tanaman kopi yang tumbuh di antara pohon-pohon kayu. Foto-foto itu menjadi saksi perjalanan panjang upaya konservasi yang dilakukan oleh Kukuh dan petani lain di desa itu.
Kedai kopi yang dikelola Kukuh memang bukan sekadar tempat minum kopi. Di sana, pengunjung dapat melihat proses pengolahan biji kopi atau belajar menjadi barista. Pengunjung juga bisa menimba ilmu tentang praktek baik bertani kopi dengan konsep agroforestri.
”Tempat ini memang dibangun sebagai rumah belajar kopi. Siapa saja yang ingin belajar tentang kopi bisa datang ke sini,” ucap Kukuh sambil menuang kopi ke dalam cangkir.
Sebelum mendirikan usaha kopi di kampung halamannya pada 2016, Kukuh sempat berbisnis kedai kopi di Yogyakarta. Saat merantau itulah, Kukuh menyadari bahwa kopi robusta terbaik justru ada di Ulubelu, Tanggamus.
Kukuh yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta lantas memilih pulang ke desa dan membangun membangun jenama “Kopi Beloe”. Namun, dia justru mendapati banyak petani kopi yang tidak paham cara mengelola kebun kopi dengan baik.
Tak sedikit petani yang membiarkan begitu saja kebun kopinya tanpa dirawat dan dipupuk. Mereka biasanya hanya datang ke kebun saat kopi mulai berbuah. Panen juga dilakukan secara asal-asalan, tanpa proses petik merah untuk menjaga cita rasa kopi. Petani juga belum memahami proses pengolahan pascapanen dengan baik.
Kondisi itu membuat mutu kopi yang dihasilkan rendah sehingga petani terjebak harga murah yang diatur tengkulak. Padahal, kondisi geografis Ulubelu yang berada pada ketinggian 800-1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) sangat mendukung untuk pengembangan kopi.
Melihat persoalan itu, Kukuh mulai mengembangkan perkebunan kopi dan rumah edukasi untuk para petani. Dia mengajak para petani belajar tentang budidaya kopi secara berkelanjutan hingga proses pengolahan pasca panen untuk menghasilkan kopi robusta dengan kualitas premium.
Tekad Kukuh untuk membantu para petani mendapat dukungan dari PT Pertamina Geothermal Energi (PGE), anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Sejak tahun 2012, PGE Area Ulubelu memang mengembangkan panas bumi di Ulubelu sebagai sumber energi bersih.
Kerja sama itu terjalin sejak 2018 lewat program Ngopi Doeloe. Program berfokus pada pendampingan, penguatan, dan pengembangan untuk kelompok tani dan anak-anak muda di desa. Saat ini, sudah ada puluhan petani yang bergabung dalam Kelompok Kopi Beloe Klasik.
Pada dua tahun pertama, kegiatan difokuskan pada pelatihan pascapanen dan pelatihan barista untuk anak-anak muda desa. Kegiatan itu dirancang agar anak-anak muda desa tertarik terjun dalam usaha pengembangan kopi dan mendorong regenerasi ke depan.
Kemudian sejak 2020 hingga saat ini, pelatihan diperluas pada budidaya kopi secara berkelanjutan. Para petani dilatih membuat bibit kopi organik dan merawat kebun kopi dengan konsep agroforestri.
Petani tidak lagi menanam kopi secara monokultur, melainkan ditaman sela di antara pohon-pohon buah, seperti petai, jengkol, durian, hingga kelapa. Selain sebagai tanaman peneduh, tanaman buah bisa menjadi penghasilan tambahan bagi petani. Kebun petani yang berada di lereng pegunungan hingga hutan lindung yang dikelola lewat skema perhutanan sosial kini menjadi lebih rimbun.
Kerja keras petani selama bertahun-tahun menanam kopi dengan konsep agroforestri sangat terasa saat kemarau panjang seperti tahun ini. Pohon-pohon besar membuat tanaman kopi terlindungi dari panas. Hasil panen juga tidak begitu anjlok seperti yang terjadi di daerah lain.
“Tahun ini, satu hektar lahan masih bisa menghasilkan sekitar 500 kilogram kopi. Petani di sini juga masih bisa mendapatkan penghasilan dari panen petai, jengkol, atau durian,” ucap Kukuh.
Kini, petani juga sudah mahir mengolah biji kopi menjadi kopi bubuk kemasan yang punya nilai tambah ekonomi. Bahkan, Kopi Beloe sudah memembus pasar ekspor ke berbagai negara, seperti Singapura dan Italia.
Selain petani kopi, PGE Area Ulubelu juga mendampingi petani membentuk kelompok usaha perhutanan sosial atau KUPS. Para petani dibina menjalankan usaha pembibitan pohon sebagai salah satu upaya konservasi kawasan hutan.
Salah satunya adalah KUPS Margo Rukun Bestari yang dikelola oleh sekitar 30 petani di Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu. Setiap tahun, KUPS tersebut memproduksi lebih dari 50.000 bibit pohon berbagai jenis. Bibit-bibit itu dijual pada petani, perusahaan, dan instansi pemerintah untuk program penanaman.
Wakil Ketua KUPS Margo Rukun Bestari Wasyoto, mengungkapkan, dia pernah menjadi pemburu dan perambah hutan belasan tahun lalu. Pekerjaan itu terpaksa dia lakukan karena tidak ada pilihan pekerjaan yang lebih baik kala itu.
Namun, cara pandang Wastoyo berubah setelah berdiskusi dengan petugas dari Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Batu Tegi. Rupanya, petani hutan bisa bermitra dengan pemerintah dalam mengelola hutan lewat skema perhutanan sosial. Wastoyo pun diberikan izin untuk mengelola hutan seluas 2 hektar yang ditanami pohon kopi dan berbagai jenis pohon buah lainnya.
Dengan pendampingan PGE, Wastoyo juga menjalankan usaha pembibitan pohon dan melibatkan anak-anak muda. Saat ini, ada empat pemuda yang bekerja dengan Wastoyo. “Saya berharap tidak ada lagi warga menjadi pemburu atau perambah hutan. Anak-anak muda seperti mereka harus punya jalan hidup yang lebih baik,” ucapnya.
Nikolas Panjaitan (20), salah satu pemuda setempat, mengatakan, dia sudah bekerja sebagai pembuat bibit di KUPS Margo Rukun Bestari satu tahun terakhir. Dari pekerjaan itu, Nikolas mendapat gaji cukup tinggi, melebihi upah minimum di kabupaten itu. “Penghasilannya cukup dan masih bisa ditabung. Di sini, saya juga banyak belajar tentang konservasi lingkungan,” ucapanya.
General Manager PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu Edy Sudarmadi menjelaskan, dukungan yang diberikan PGE bagi petani di Ulubelu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam aspek environment, social, and governance (ESG). Hal ini sejalan dengan visi dan misi perusahaan dalam mendukung implementasi green economy.
Data pemetaan kondisi sosial masyarakat menunjukkan, mayoritas penduduk di Ulubelu bekerja sebagai petani kopi. Karena alasan itulah, PGE memberikan pendampingan dari hulu ke hilir untuk mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.
Di Ulubelu, infrastruktur Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) sudah berdiri kokoh sejak lebih dari satu dekade silam. Pipa-pipa besar membentang hingga belasan kilometer, menyalurkan uap panas bumi dari puluhan sumur ke unit pembangkit.
Dari situlah, panas bumi dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan untuk menopang kebutuhan listrik untuk ratusan ribu rumah tangga di Lampung. Saat ini, ada empat unit PLTP Ulubelu yang beroperasi dengan total kapasitas sebesar 220 MW. PLTP Ulubelu menopang 25 persen dari total daya pembangkit yang ada di Lampung.
Kehadiran PLTP Ulubelu juga turut menggerakkan denyut perekonomian di Ulubelu. Pasokan listrik yang stabil menopang berbagai kegiatan masyarakat, termasuk para petani kopi. Kini, petani kopi bisa membeli mesin sangrai, mesin giling, hingga mesin peracik kopi yang semuanya membutuhkan listrik.
Sebagai perusahaan BUMN yang mengembangkan panas bumi sebagai sumber energi bersih, kata Edy, PGE berkomitmen menciptakan harmoni antara operasional perusahaan, kelestarian ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan juga punya tanggung jawab besar menjaga kelestarian ekosistem karena wilayah kerja panas bumi berada di kawasan hutan lindung.
“PGE ingin operasional aman dan masyarakat juga merasa nyaman serta mendapat manfaat ekonomi. Kami ingin menciptakan multiplier effect dan maju bersama-sama,” ucapnya.
Secara terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Lampung Hendika Jaya Putra mengatakan, pemerintah memang mendorong agar petani hutan membentuk KUPS untuk memperkuat kelembagaan dan hilirisasi produk hasil hutan bukan kayu dengan menjalin kerja sama multi pihak.
“Harapannya tentu perekonomian petani hutan meningkat dari usaha hasil hutan bukan kayu. Hutan juga lestari karena masyarakat tidak menebang pohon,” ucapnya.
Hingga saat ini, total izin perhutanan sosial dan kemitraan yang diterbitkan di Lampung seluas 209.395,9 hektar dari total luas kawasan hutan di Lampung mencapai 925.608,5 hektar (27,42 persen). Jumlah KPUS yang aktif sebanyak 451 KUPS dari total 950 KUPS yang sudah terbentuk.
Secara nasional, upaya konservasi kawasan hutan melalui program perhutanan sosial juga dinilai sudah berjalan dengan baik mampu memperbaiki tutupan hutan. Berdasarkan data, perhutanan sosial di Indonesia telah mencapai 8,36 juta hektar dengan penerbitan 11.236 izin perhutanan sosial. Program itu telah menjangkau 1,42 juta kepala keluarga di Indonesia.
Sementara itu, Dosen Teknik Geofisika Universitas Lampung Andri Kurniawan mengatakan, potensi panas bumi Ulubelu tidak hanya terbatas pada pembangkit listrik. Energi panas yang tersedia juga dapat dimanfaatkan secara langsung, misalnya untuk pengeringan kopi, pengolahan hasil pertanian, dan greenhouse. Hal ini sangat relevan dengan potensi pertanian masyarakat di sekitar Ulubelu.
Andri mendorong agar Pertamina dan pemerintah daerah setempat terus mengembangkan potensi panas bumi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harapannya, pengembangan panas bumi dapat membuka peluang kerja dan kemajuan UMKM, termasuk di sektor pengolahan hasil pertanian.
Ulubelu menjadi contoh bahwa pengembangan panas bumi tidak selalu mengorbankan kelestarian lingkungan. Dari secangkir kopi yang disajikan di sana, tersimpan kisah tentang alam yang terjaga dan energi bersih dapat memberikan kesejahteraan bagi petani.






Komentar (0)