Trump Diduga Akan Perintahkan Serangan Besar ke Iran jika Republik Kalah Pemilu

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut berpotensi lebih terdorong menyetujui operasi militer berskala besar terhadap Iran jika Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilihan paruh waktu atau midterm election pekan depan, lapor kantor berita Axios pada Jumat, 30 Oktober 2026.

"Jika dia merasa dipermalukan atau kehilangan dukungan, dia akan melakukan sesuatu yang berani," kata seorang pejabat AS kepada Axios. Pejabat tersebut menambahkan bahwa pesan itu juga disampaikan kepada pejabat Iran, yang diberi tahu bahwa peluang terbaik untuk mencapai kesepakatan adalah sekarang.

Namun, seorang pejabat Gedung Putih membantah anggapan bahwa hasil pemilu akan memengaruhi keputusan Trump terkait Iran. Kepada Axios, pejabat tersebut mengatakan hasil pemilihan tidak akan menjadi pertimbangan Trump dalam menentukan kebijakan terhadap Teheran.

Laporan Axios juga menyebut mediator Qatar menghabiskan lebih dari 12 jam di Teheran pada Jumat. Mereka terus menjalin komunikasi dengan Gedung Putih untuk menghidupkan kembali perundingan langsung antara Washington dan Teheran.

Seorang sumber diplomatik menyebut terdapat "kemajuan positif" dalam pembicaraan tersebut. Diskusi dijadwalkan berlanjut pada Sabtu di Doha, Qatar.

Menurut seorang pejabat AS, perundingan sebelumnya terhenti karena kedua negara memiliki tuntutan yang berbeda. Washington menginginkan konsesi terkait program nuklir Iran sebagai syarat untuk kembali berunding. Syarat Iran Sementara itu, Teheran menuntut AS terlebih dahulu mencabut blokade laut, mencairkan dana Iran yang dibekukan, serta mengizinkan penjualan minyak.

Laporan tersebut juga menyebut Doha mendorong Iran mengizinkan inspektur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memasuki lokasi-lokasi nuklir yang dibom. Sebagai imbalannya, Iran akan memperoleh pelonggaran sanksi secara terbatas.

Perbedaan pandangan juga disebut terjadi di lingkaran pemerintahan Trump. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan skeptis terhadap kesepakatan dengan Iran serta mendukung langkah untuk semakin melemahkan kepemimpinan negara tersebut.

Sebaliknya, Wakil Presiden JD Vance serta utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner mendukung dimulainya kembali perundingan. Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS terkait Selat Hormuz, jalur strategis bagi pengiriman energi global.

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangkaian serangan di kawasan.

Meski upaya diplomatik telah dilakukan dan Washington serta Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni, ketegangan masih berlanjut, terutama terkait pengaturan keamanan dan pelayaran di Selat Hormuz.

Baca juga: Persiapan Serangan ke Iran, AS Kerahkan 10 Pesawat Kargo Militer ke Israel


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Amri/Nita bangkit dari ketertinggalan untuk tembus semifinal Hylo Open
• 16 jam lalu
0
thumb
BNPB Fokus Tangani Karhutla di Lima Provinsi Indonesia
• 8 jam lalu
0
thumb
Robot Chery Bisa Atur Lalu Lintas, Begini Cara Kerjanya
• 21 jam lalu
0
thumb
Rahayu Saraswati Minta Pengusaha Bijak Adopsi AI, Tak Korbankan Tenaga Kerja
• 56 menit lalu
0
thumb
Badai Spionase Menghantam Bos Nvidia Jensen Huang, Wanita Cantik yang Dekat Dengannya Diduga Mata-Mata Partai Komunis Komunis 
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.