455 Pemusik dan 300 Penari Meriahkan Kolosal Tari Sekar Bayuangga di Probolinggo

beritajatim.com
1 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Probolinggo (beritajatim.com) – Sebanyak 455 pemusik dari 13 grup dug-dug berkolaborasi dengan 300 penari dalam pertunjukan kolosal Tari Sekar Bayuangga di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo. Penampilan yang menjadi bagian dari malam puncak Mango Carnival of Indonesia 2026 tersebut menyuguhkan perpaduan musik tradisional dan tari dalam satu panggung besar.

Ribuan pengunjung yang memadati stadion menyaksikan tabuhan dug-dug yang dimainkan secara bersamaan. Diiringi irama musik tersebut, ratusan penari bergerak serempak membawakan Tari Sekar Bayuangga, menciptakan pertunjukan yang menonjolkan kekuatan seni dan budaya lokal Kota Probolinggo.

Kolaborasi ini menjadi penampilan perdana yang menyatukan 13 grup musik dug-dug dari berbagai sanggar di Kota Probolinggo dalam satu pertunjukan berskala besar. Selama ini, kelompok-kelompok tersebut berkembang melalui sanggar masing-masing.

Sebanyak 455 pemusik yang terlibat berasal dari Sawunggaling Ethic Collaboration, Kalimosodo, Sedap Malam, Klabang Songo, Bahana Suara Bayuangga, Gludug Keng Tak Ojen, Lake Perkusi, Jagad Sari, Sri Manis, Kolosebo, Rebumi, Rana Wijaya, dan Jabong Sagere.

Pertunjukan tersebut semakin istimewa karena aransemen musik dan tata tari digarap langsung oleh pencipta Tari Sekar Bayuangga, Peni Priyono dari Sanggar Bina Tari Bayu Kencana.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Setyorini Sayekti, menyebut kolaborasi ratusan seniman tersebut sebagai momentum penting untuk mengangkat potensi kesenian daerah. Dia mengaku bangga karena para pelaku seni dari berbagai sanggar dapat tampil bersama dalam satu pertunjukan besar.

“Kami sangat bangga seluruh pelaku seni dari sanggar dug-dug yang ada di Kota Probolinggo bisa berkolaborasi apik dalam memeriahkan Mango Carnival of Indonesia,” ujar Tini.

Menurutnya, mangga dan musik dug-dug sama-sama memiliki potensi untuk menjadi identitas Kota Probolinggo. Kedua kekuatan lokal tersebut perlu terus dikembangkan agar semakin dikenal masyarakat di luar daerah, termasuk pengunjung dari berbagai negara.

“Dan kedua-duanya adalah sama-sama memegang potensi lokal dari Kota Probolinggo yang diharapkan ke depan akan menjadi ikon dari Kota Probolinggo yang dibanggakan, baik pengunjung nasional maupun internasional,” katanya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Probolinggo, Eva Riani, yang membuka acara secara resmi, menegaskan bahwa musik dug-dug bukan sekadar hiburan dalam sebuah festival. Kesenian tersebut merupakan salah satu kekuatan budaya daerah yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Eva bahkan menyebut penampilan 13 grup musik dug-dug secara kolosal sebagai sesuatu yang belum pernah ditemukan di daerah lain.

“Duk-Duk adalah ciri potensi budaya Kota Probolinggo yang sebenarnya, dan kali ini mereka hadir berjejer secara kolosal dan belum pernah ditemukan di seluruh dunia. Tepuk tangan buat Duk-Duk kita semua,” seru Eva.

Meski mengapresiasi pertunjukan tersebut, Eva mengingatkan agar kolaborasi antarsanggar tidak berhenti setelah festival selesai. Dia berharap seluruh kelompok musik dug-dug dapat terus membangun kebersamaan, saling mendukung, dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Menurutnya, kekuatan musik dug-dug justru akan semakin berkembang apabila setiap kelompok mampu melebur dalam konsep pertunjukan yang saling melengkapi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan medley kolosal dengan karakter khas Kota Probolinggo.

“Mudah-mudahan acara ini terus meningkat kreativitasnya, bukan hanya berjejer seperti ini, terbentuk kerukunan yang luar biasa, masing-masing saling memperkuat sehingga Duk-Duk itu tidak lagi sendiri-sendiri tapi saling melengkapi. Akan terbentuk semacam medley kolosal yang menjadi ciri khas Kota Probolinggo yang tidak ditemukan di daerah lain,” ujarnya.

Di balik pertunjukan budaya yang melibatkan ratusan seniman tersebut, Pemerintah Kota Probolinggo juga membidik target lebih besar melalui penyelenggaraan Mango Carnival of Indonesia. Festival ini diharapkan dapat masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), agenda pariwisata tingkat nasional yang menjadi salah satu target pengembangan kegiatan wisata daerah.

Target tersebut sejalan dengan upaya memperkuat posisi Kota Probolinggo sebagai kota penyelenggara event sekaligus destinasi wisata yang memiliki daya tarik budaya. Mangga dan musik dug-dug diharapkan menjadi dua potensi lokal yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik bagi wisatawan.

Eva menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen mendukung pelestarian budaya, pengembangan seni, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan demikian, penyelenggaraan festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan bagi para seniman, tetapi juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Pemerintah Kota Probolinggo berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarian budaya, pengembangan seni, pengembangan UMKM, dan tentu dampak akhirnya adalah pertumbuhan bagi masyarakat Kota Probolinggo, sesuai dengan jargon kita adalah Probolinggo Bersolek Luar Biasa,” pungkasnya. [rap/beq]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jakarta Jadi Tuan Rumah World Cities Culture Summit 2027
• 20 jam lalu
0
thumb
6 Arti Mimpi Kuliah, Melambangkan Semangat Menuntut Ilmu hingga Isyarat Menuai Hasil dari Kerja Keras
• 9 jam lalu
0
thumb
Mantap! Kuartet Wasit Indonesia Pimpin Laga AFC Champions League Two 2026/2027 di Kamboja
• 22 jam lalu
0
thumb
Cerita Mitchell Baker: Hampir Magang di Wall Street, Kirim Email ke John Herdman Akhirnya Bela Timnas Indonesia
• 22 jam lalu
0
thumb
Sejarah Halloween 31 Oktober, Berawal dari Tradisi Kuno hingga Jadi Perayaan Populer
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.